tirto.id - Kegiatan berlangsung meriah sejak awal. Kehadiran rombongan disambut pertunjukan Gendang Belek dari siswa SLBN 1 Lombok Barat. Dua siswa Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP 18) Lombok Barat turut mengalungkan kain tenun sebagai bentuk penghormatan, disusul penampilan seni, pidato dua bahasa, hingga paduan suara yang menghidupkan suasana. Dalam kesempatan itu, bantuan diserahkan secara simbolis kepada perwakilan penerima manfaat. Total nilai bantuan yang digelontorkan mencapai lebih dari Rp2,6 miliar dan mencakup beragam intervensi, mulai dari layanan kesehatan, bantuan disabilitas, hingga pemberdayaan sosial. Program bantuan tersebut antara lain meliputi operasi katarak bagi 500 penerima manfaat, khitanan massal, pemberian alat bantu disabilitas, hingga dukungan bagi penyandang masalah sosial lainnya seperti ODHIV, korban penyalahgunaan napza, dan lansia. Operasi katarak sendiri dilaksanakan di RS Mandalika Lombok Tengah dan RSUD Bima. Bagi Gus Ipul, kegiatan ini adalah wujud nyata kehadiran negara dalam menjangkau warga yang sering luput dari perhatian. Hal itu tercermin dari kisah pasangan Awaludin dan istrinya yang akhirnya mendapatkan pengesahan pernikahan setelah puluhan tahun bersama. Ia menekankan bahwa masih banyak kelompok masyarakat yang kesulitannya tidak terlihat secara kasatmata. Selain penyaluran bantuan, kegiatan ini juga menampilkan perkembangan siswa Sekolah Rakyat. Beberapa siswa SRMP 18 tampil percaya diri menyampaikan pengalaman mereka, termasuk Lusiana Safara (14) yang mengaku menikmati proses belajar selama 10 bulan terakhir dengan fasilitas yang memadai. Gus Ipul juga meninjau simulasi pembelajaran berbasis teknologi seperti coding dan artificial intelligence (AI), yang menunjukkan pendekatan pendidikan baru di Sekolah Rakyat. Ia menilai perkembangan siswa cukup signifikan dibanding kunjungannya sebelumnya. Menutup kegiatan, Gus Ipul menyampaikan harapan agar para penerima manfaat dapat tumbuh lebih mandiri ke depan. Acara ditutup dengan suasana haru saat Aiman (13), penyandang disabilitas netra, menyanyikan lagu "Perahu Kertas", menghadirkan penutup yang hangat bagi rangkaian kegiatan hari itu.
“Ini memang bantuan ATENSI, asistensi rehabilitasi sosial, untuk kelompok-kelompok rentan yang membutuhkan. Penyandang disabilitas, keluarga yang tidak mampu menebus ijazah anaknya, bisa juga keluarga yang sudah menikah lama tapi belum pernah mengurus surat nikah maupun KK,” ujar Gus Ipul.
“Mereka sudah menikah 23 tahun. Sebelumnya tidak punya surat nikah, sebelumnya tidak punya KK. Hari ini alhamdulillah akhirnya mereka berdua bisa mengurus surat nikah. Dan sekaligus KK-nya, semuanya dibantu oleh Dirjen Rehsos Kemensos,” kata Gus Ipul.
"Yang penting hari ini, kita diajak oleh Presiden untuk membantu mereka yang tidak terlihat. Keluarga yang mungkin kesulitan menyampaikan aspirasinya, harapannya, karena banyak kendala. Mungkin kendala psikologis, kendala sosial, maupun juga geografis dan juga kendala-kendala yang membuat mereka tidak bisa memperoleh dukungan semestinya dari pemerintah," kata Gus Ipul.
“Bisa kita lihat sendiri perkembangannya. Anak-anak lebih percaya diri, sudah mulai kelihatan talentnya, dan mampu berbicara dengan baik di depan umum. Itu perkembangan yang istimewa,” katanya.
“Saya ingin bapak ibu, adik-adik semuanya, ke depan bisa lebih berdaya, menjadi keluarga yang mandiri, bisa menjadi generasi yang kuat dan hebat,” ucapnya.
(INFO KINI)
Penulis: Tim Media Servis
Masuk tirto.id
































