Bahaya Timbal di Balik Warna-warna Cat yang Mencolok

Bahaya Timbal di Balik Warna-warna Cat yang Mencolok
Petugas Standardisasi dan Perlindungan Konsumen Kementerian Perdagangan memeriksa label SNI (Standar Nasional Indonesia) pada mainan anak yang dijual di Pasar Gembrong, Jakarta. ANTARA FOTO/Rosa Panggabean
14 November, 2017 dibaca normal 2:30 menit
Anak-anak lebih rentan terkena dampak timbal, terutama melewati paparan cat dari mainannya.
tirto.id - Umumnya, cat berwarna terang menggunakan timbal sebagai bahan campuran. Timbal berfungsi untuk membuat warna cat lebih terang, mudah diaduk, dan cepat kering. Namun, di balik warnanya yang manis, terkandung bahaya di dalamnya. Kelompok yang paling rentan terpapar timbal pada cat dinding atau mainan adalah anak-anak.

Di negara-negara maju seperti Amerika Serikat, standar yang diizinkan oleh 90 bagian per juta (ppm) berat timbal terhadap total berat kering dalam cat. Rata-rata negara menetapkan batas wajib di kisaran 90 hingga 600 ppm total timbal terhadap berat kering.

Sementara itu, di Indonesia belum ada aturan spesifik yang mengatur timbal dalam cat. Hanya saja, SNI ISO 8124-3:2010 bagian ketentuan keamanan mainan membatasi kandungan timbal pada mainan anak harus berada di bawah 90 ppm. Standar ini berlaku sejak 12 Oktober 2013 pada mainan produksi Indonesia maupun impor.

Baca juga: Pangan Lokal di Tengah Pangan Impor

Namun, penelitian oleh BaliFokus sebuah lembaga nirlaba di bidang lingkungan mengungkapkan fakta yang kontradiktif, antara ketentuan SNI dengan kenyataan di lapangan. Penelitian pertama mereka pada 2012-2013 menganalisa 76 cat dari 43 merek cat enamel dekoratif di pasar Indonesia. Hasilnya mengungkapkan bahwa 77 persen sampel mengandung konsentrasi timbal lebih dari 90 ppm.

Mereka mengulang lagi penelitian serupa pada periode 2014-2015. Mereka membeli 121 contoh cat enamel dekoratif berbasis pelarut dari berbagai toko dan gerai di seputar Kota Denpasar, Bogor, Depok, Tangerang, dan Jakarta. Dari contoh yang dianalisa, 83 persen cat mengandung timbal di atas 90 ppm.

“Permukaan cat ini bisa melapuk, menjadi debu, lalu terbang ke lingkungan,” kata Yuyun Ismawati, Senior Advisor Balifokus di Jakarta beberapa waktu lalu.

Baca juga: Perbaiki Kualitas Hidup dengan Menghirup Udara Segar

Anak-anak, terutama yang berusia di bawah 6 tahun berisiko lebih besar terhadap paparan timbal. Sebab di usia tersebut, mereka cenderung menelan, mengunyah mainan, perabot rumah tangga, atau barang lainnya yang mengandung cat. Tubuh anak juga mengabsorsi timbal lebih banyak dibanding orang dewasa. Ia menyerap lebih dari 50 persen timbal dengan cara menelan, sedang orang dewasa hanya 35-50 persen. 

Bahaya Timbal di Balik Warna-warna Cat yang Mencolok


Timbal dan Inteligensi Anak


Timbal yang masuk ke dalam tubuh akan diserap lambung semakin kuat ketika lambung dalam kondisi kosong. Setelah diserap tubuh, 99 persen timbal terikat pada eritrosit. Kemudian satu persen lagi menyebar bebas dalam jaringan lunak dan tulang. Tubuh butuh waktu berbulan bahkan bertahun-tahun untuk membersihkannya.

Total beban timbal darah tersimpan dalam empat kompartemen. Pada darah dengan waktu paruh 35 hari, jaringan lunak 40 hari, tulang trabekular 3-4 tahun, dan komponen kortikal tulang dengan waktu paruh terlama hingga 16-20 tahun. Parahnya lagi, paparan timbal tak hanya terjadi secara langsung, tapi juga bisa melewati ibu lewat plasenta kepada janin atau lewat ASI pada anak yang menyusu pada ibu yang terpapar timbal.

Baca juga: Benarkah ASI Merusak Gigi?

Sumber timbal dari ibu berasal dari cadangan endogen, yaitu tulang ibu atau paparan baru melalui lingkungan. Efek klinis keracunan timbal memengaruhi semua organ dan sistem, termasuk sistem pencernaan, susunan saraf pusat, imunitas, ginjal, darah, gigi dan tulang, kardiovaskuler, motorik, endokrin, dan lain-lain. Dampaknya, bisa menyebabkan anoreksia, nyeri perut, muntah, dan konstipasi yang timbul dan berulang beberapa minggu, pusing, pingsan, hingga kematian.

Zat ini juga dapat mempengaruhi tingkat inteligensi anak. Penelitian oleh Dewi Mutiati Ratnasari, dkk pada jurnal Sari Pediatri 2016 mencoba membuktikannya. Ia mengambil sampel 80 anak dari tujuh Sekolah Dasar kelas 1 dan 2 di Yogyakarta.

Kriteria inklusi adalah anak dengan 5 peringkat tertinggi dan 5 peringkat terendah. Hasilnya menyimpulkan, anak dengan inteligensi rendah mempunyai kadar timbal darah yang lebih tinggi 7,08 µg/dL. Sedangkan anak dengan inteligensi tinggi memiliki kadar timbal sebesar 4,09 µg/dL.

"Dampak kesehatan dari paparan timbal pada otak anak-anak balita membekas sepanjang hidup, tak terpulihkan dan tidak dapat diobati," kata Yuyun.

Baca juga: ASI Menguntungkan Keluarga dan Negara

Dampak timbal memang sangat mengerikan terutama pada anak-anak. Bila dikelompokkan berdasarkan wilayah, beban ekonomi paparan timbal pada anak-anak di Afrika mencapai $134,7 miliar atau 4,03 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Di Latin Amerika dan Karibia $142,3 miliar kerugian ekonomi, atau 2,04 persen dari PDB.

Sedangkan di Asia $699,9 miliar kerugian ekonomi, atau untuk Indonesia sekitar $37,9 miliar kerugian ekonomi, atau 3,35 persen dari PDB Indonesia. Namun, membicarakan dampak buruk timbal tak hanya soal angka-angka saja.

Persoalan dampak timbal tak hanya perekonomian negara yang merugi. Namun, perkembangan inteligensi sebuah generasi yang bisa terganggu.

Baca juga artikel terkait ANAK-ANAK atau tulisan menarik lainnya Aditya Widya Putri
(tirto.id - adi/dra)

Keyword