Bagasi Berbayar: Antara Kepentingan Maskapai dan Konsumen

Infografik Bagasi berbayar
Humas Lion Air (Danang Mandala) mengkonfirmasi kesiapan Lion Air untuk memberlakukan bagasi berbayar, Selasa (22/1/2019). FOTO/Dok. Lion Air Group
Oleh: Ringkang Gumiwang - 25 Januari 2019
Dibaca Normal 3 menit
Bagasi berbayar dinilai bisa membantu keuangan maskapai yang berdarah-darah.
tirto.id - Pemberlakuan bagasi berbayar oleh maskapai penerbangan bertarif rendah atau Low Cost Carrier (LCC) baru-baru ini dikeluhkan penumpang. Biaya penerbangan kelompok ini sudah tidak bisa semurah dulu lagi.

Kasmawati, pelanggan Lion Air asal Makassar, menilai kebijakan bagasi berbayar tidak hanya memberatkan penumpang, tetapi juga tidak adil. Menurutnya, pelayanan maskapai ini belum maksimal.

“Perbaiki dulu layanan dan fasilitas, baru memberlakukan bagasi berbayar. Ini sama saja mencekik penumpang ditambah lagi sering delay pesawatnya sampai kasus barang di bagasi sering dicongkel oknum tertentu,” katanya, seperti dikutip Antara.

Kasmawati bukanlah satu-satunya penumpang yang berkeluh-kesah. Di tempat lain, seperti dikabarkan Tribun Kaltim, penumpang bahkan terpaksa meninggalkan bawaannya di bandara dan kena biaya tambahan Rp2,5 juta karena membawa barang seberat 50 kg.


Di Bandara Rahadi Oesman Kalimantan Barat, penerapan bagasi berbayar sempat menimbulkan kericuhan antara penumpang dengan petugas check-in. Penumpang mengamuk sambil membawa parang sebelum akhirnya diamankan petugas bandara

Harga Tiket Naik, Bagasi pun Berbayar

Memasuki Tahun Babi Tanah, maskapai penerbangan memang tengah mendapatkan sorotan dari publik. Selain protes soal bagasi berbayar, penumpang angkutan udara juga sempat protes dengan harga tiket pesawat yang mahal.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi juga sampai kebingungan dengan harga tiket pesawat yang tinggi. Ia paham betul bahwa kondisi maskapai penerbangan saat ini sedang sulit, Namun di sisi lain, harga tiket tinggi juga memberatkan penumpang.

“Beberapa tahun ini kalian mengejek Garuda Indonesia rugi terus. Adalah suatu fakta yang namanya penerbangan itu high profile tapi low profit. Fragile sekali. Jadi basically maskapai penerbangan itu rugi,” katanya seperti dilaporkan Tirto.

Pria yang pernah menjabat sebagai Dirut PT Angkasa Pura II ini akhirnya hanya bisa mengimbau maskapai untuk menurunkan tarifnya. Apalagi kenaikan harga tiket pesawat masih sesuai dengan aturan yang berlaku.

Gelombang protes dari penumpang lantas direspons maskapai. Melalui Asosiasi Perusahaan Penerbangan Nasional Indonesia (INACA), sejumlah maskapai sepakat menurunkan harga tiket pesawat dari kisaran 20-100 persen.

Berbeda dengan harga tiket yang masih bisa dikoreksi, kebijakan bagasi berbayar tetap berjalan. Maskapai penerbangan murah yang sudah mulai menjalankan kebijakan bagasi berbayar itu antara lain Lion Air dan Wings Air. LCC lain seperti Citilink akan menyusul pada Februari 2019.


Penerapan bagasi berbayar oleh maskapai LCC sesungguhnya tidak melanggar aturan yang ada. Ketentuan yang mengatur bagasi berbayar tertuang di dalam Peraturan Menteri Perhubungan No. 185/2015.

Dalam pasal 22, disebutkan maskapai LCC diperbolehkan untuk mengenakan biaya atas bagasi. Sementara untuk full service paling banyak 20 kg tidak dikenakan biaya, dan medium service paling banyak 15 kg tidak dikenakan biaya.

Tarifnya terbilang tidak kecil, bahkan bisa setara harga tiket pesawat. Lion Air misalnya, mematok tarif Rp155.000 untuk 5 kg, Rp310.000 untuk 10 kg, Rp465.000 per kg, Rp620.000 untuk 20 kg, Rp755.000 untuk 25 kg dan Rp930.000 untuk 30 kg.

YLKI menilai kebijakan bagasi berbayar sebagai bentuk kenaikan tarif pesawat secara terselubung. “Bagasi berbayar juga berpotensi melanggar ketentuan batas atas tarif pesawat,” kata Tulus Abadi, Ketua Harian YLKI dalam keterangan resminya.



Keuangan Maskapai Buruk

Tidak bisa dimungkiri, kebutuhan warga akan transportasi udara saat ini masih tinggi. Sepanjang Januari-November 2018 saja, jumlah penumpang angkutan udara sudah menembus 86,2 juta orang atau naik 6,39 persen dari periode yang sama tahun lalu.

Ditarik hingga lima tahun ke belakang, rata-rata kenaikan penumpang angkutan udara mencapai 11 persen per tahun. Kebutuhan yang tinggi akan transportasi udara juga membuat tiket pesawat menjadi salah satu komponen yang menyumbang porsi inflasi cukup besar.

Sayang, dengan permintaan tinggi, maskapai penerbangan nasional kesulitan mendapat untung. Tengok saja kinerja PT Garuda Indonesia Tbk. Sepanjang 2017, maskapai penerbangan BUMN ini membukukan rugi bersih sebesar US$217 juta.

Catatan buruk berlanjut pada tahun berikutnya. Sampai kuartal III/2018, maskapai dengan kode emiten GIAA ini mencatatkan rugi sebesar US$110 juta.


Kondisi yang sama juga terjadi di PT AirAsia Indonesia Tbk. Hingga kuartal III/2018, maskapai yang dipimpin Denny Kurniawan ini membukukan rugi bersih sebesar Rp635 miliar atau naik 44 persen dari rugi bersih kuartal III/2017 sebesar Rp441 miliar.

Kesulitan maskapai mencari celah untung juga bukan tanpa sebab. Menurut Arista Atmajati, dalam bukunya yang berjudul Fenomena Perkembangan Bisnis Maskapai di Indonesia, laba bersih maskapai penerbangan rentan terpengaruh naik turunnya harga avtur dan mata uang dolar.

Belum lagi jika faktor lain dimasukkan, misalnya daya beli masyarakat hingga tingkat persaingan dengan maskapai penerbangan lainnnya. Kondisi ini membuat profit margin maskapai penerbangan di Indonesia terbilang tipis yakni di kisaran 3-5 persen saja.

Dengan harga avtur dan nilai tukar dolar terhadap rupiah yang belum menentu, maka tidak heran apabila maskapai penerbangan mencari cara agar usahanya tetap berlanjut, salah satunya adalah dengan menerapkan bagasi berbayar.

Citilink optimistis bagasi berbayar bisa membantu maskapai meningkatkan pendapatan, terutama dari pendapatan tambahan (ancillary revenue). Tahun ini, Citilink menargetkan ancillary revenue bisa menyumbang 20 persen dari total pendapatan maskapai.

“[Dulu] kami itu terus bertumbuh dari 10 persen berkontribusi terhadap total revenue, dan kami target untuk mencapai kontribusi 20 persen," kata Direktur Utama Citilink Juliandra Nurtjahjo seperti dilaporkan Tirto.


Meski bagasi berbayar bisa membantu keuangan maskapai, kebijakan ini berpotensi mengganggu geliat ekonomi di daerah tujuan wisata, terutama bisnis yang menyediakan buah tangan atau oleh-oleh.

Bisnis buah tangan seperti barang-barang khas daerah umumnya bertebaran di daerah-daerah wisata. Biaya angkut bisa mengurangi minat untuk memborong cenderamata.

“Saran saya jangan langsung dihapus free bagasi itu, kurangin aja jumlahnya. Misalnya dari 20 kg menjadi 10 kg, atau bisa menjadi 5 kg,” tutur Didien Junaedy, Ketua Umum Gabungan Industri Pariwisata Indonesia kepada Tirto.

Baca juga artikel terkait BAGASI BERBAYAR atau tulisan menarik lainnya Ringkang Gumiwang
(tirto.id - Ekonomi)

Reporter: Ringkang Gumiwang
Penulis: Ringkang Gumiwang
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight