Pendidkan Sejarah

Bagaimana Cara Berpikir Kronologis dalam Sejarah dan Contohnya

Kontributor: Yuda Prinada, tirto.id - 10 Agu 2022 12:35 WIB
Dibaca Normal 1 menit
Berikut ini adalah penjelasan tentang berpikir kronologis dalam sejarah beserta contoh dalam melakukannya.
tirto.id - Berpikir kronologis dalam sejarah berarti mengurutkan suatu perstiwa dengan peristiwa lain yang terjadi setelahnya.

Selain melihat urutan sebelum-sesudah, cara berpikir kronologis juga tidak lupa menyertakan hubungan sebab akibat dari masing-masing urutan peristiwa sejarah yang terjadi.

Berdasarkan catatan Gusma Yulita dalam Konsep Berpikir Kronologis, Diakronik, Sinkonik, Ruang, dan Waktu (salindia ke-17), kronologis berasal dari bahasa Yunani, yakni chronoss dan logos. Jika diartikan dalam bahasa Indonesia, chronoss adalah waktu dan logos adalah ilmu.

Kedua kata tersebut menyuratkan bahwa kronologis berarti “ilmu waktu”. Ilmu yang melibatkan waktu tersebut digunakan untuk melihat kejadian sejarah agar rentetan kejadian yang terjadi dapat dijelaskan waktu dan hubungan sebab-akibatnya.

Dengan kata lain, dalam Modul Pertemuan (salindia ke-2) dijelaskan bahwa berpikir kronologis mampu memberikan representasi yang utuh tentang deretan peristiwa sejarah.

Dengan begitu, seseorang dapat mengambil makna dari keterkaitan yang terjadi antara masing-masing peristiwa.

Ilmu sejarah yang melibatkan waktu ini kadang memiliki ketabuan makna dengan konsep diakronik—yang juga melibatkan waktu dalam melihat sejarah.

Namun, kronologis berbeda dengan diakronik karena diakronik lebih fokus terhadap pembabakan sejarahnya.

Sedangkan kronologis, lebih melibatkan hal-hal detail sesuai urutan waktu kejadian dan menjelaskan kaitan antar masing-masingnya. Lantas, bagaimana contoh cara berpikir kronologis dalam sejarah?

Contoh Cara Berpikir Kronologis dalam Sejarah


Beberapa contoh sejarah dapat dilihat dan dikaji berdasarkan pemikiran kronologis. Dengan maksud menunjukkan rentetan kejadian yang linear, kronologis mampu menunjukkan hubungan sebab dari sejarah paling awal dan paling akhir (Linda Ainiyah, hlm. 3).

Oleh karena keduanya punya hubungan sebab-akibat, maka sejarah secara kronologis menawarkan konsep berpikir detail dengan mencantumkan urutan kejadiannya.

Hal ini perlu diketahui karena sebuah peristiwa tidak akan pernah muncul tanpa sebab dari kejadian yang ada sebelumnya.

Contoh berpikir kronologis dapat dimulai dengan melihat sejarah apa yang pernah terjadi, misalnya Perang Diponegoro.

Sebelum peristiwa perang tersebut terjadi, Pangeran Diponegoro yang bernama asli Raden Mas Antawirya ditunjuk ayahnya untuk menjadi Sultan Hamengkubowono IV.

Akan tetapi, Pangeran Diponegoro merasa tidak pantas menjadi pemimpin Keraton Yogyakarta karena dia merasa tidak nyaman hidup mewah di Istana.

Akhirnya, ketika Sultan Hamengkubowono III wafat, orang tersebut digantikan oleh anaknya yang masih berusia 10 tahun.

Hal ini menyebabkan Belanda semakin kuat memberikan pengaruhnya terhadap Keraton Yogyakarta. Pangeran Diponegoro yang melihat hal tersebut pun merasa tidak nyaman dan memutuskan untuk pergi dari lingkungan keraton.

Belanda semakin kuat pengaruhnya dan menetapkan beberapa kebijakan, misalnya penambahan pajak dan pembangunan jalan kereta api.

Kabarnya, pembuatan jalan kereta api tersebut akan melintasi rumah nenek Pangeran Diponegoro, lokasinya di Tegalrejo.

Hal ini membuat Diponegoro murka hingga akhirnya terjadi Perang Jawa atau Perang Diponegoro pada 20 Juli 1825.

Berdasarkan sejarah Perang Diponegoro yang telah dijelaskan, dapat dilihat rentetan waktu dan hubungan sebab-akibat dari sebuah peristiwa sejarah.

Konsep berpikir kronologis untuk menyimpulkan kejadian di atas dapat dirangkum dengan poin sebagai berikut.

  1. Pangeran Diponegoro tidak menjadi Sultan.
  2. Sultan Hamengkubowono III meninggal dan diganti oleh anaknya yang berusia 10 tahun.
  3. Belanda menancapkan pengaruh karena pemimpin keraton masih muda.
  4. Belanda menetapkan kebijakan yang membuat Pangeran Diponegoro murka.
  5. Pangeran Diponegoro dan Belanda terlibat Perang Jawa atau Perang Diponegoro.


Baca juga artikel terkait KRONOLOGIS SEJARAH atau tulisan menarik lainnya Yuda Prinada
(tirto.id - Pendidikan)

Kontributor: Yuda Prinada
Penulis: Yuda Prinada
Editor: Maria Ulfa

DarkLight