Menuju konten utama

Ayat Al-Qur'an tentang Moderasi Beragama, Contoh, dan Penjelasan

Ayat tentang moderasi beragama banyak terdapat dalam Al-Qur'an. Artikel ini menyajikan ayat moderasi beragama dan contoh moderasi beragama.

Ayat Al-Qur'an tentang Moderasi Beragama, Contoh, dan Penjelasan
Ilustrasi Alquran. foto/istokcphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Moderasi beragama merupakan salah satu prinsip penting dalam menjaga keseimbangan harmoni sosial di tengah masyarakat. Islam mengenal prinsip ini dengan istilah ‘wasatiyah’, yakni bersikap pertengahan, adil, dan tidak ekstrem.

Konsep wasatiyah tidak hanya lekat dengan nilai sosial, tetapi juga bersumber dari Al-Qur’an dan Sunah Rasulullah saw. dalam kehidupan sehari-hari. Banyak penerapan wasatiyah yang dapat dijadikan teladan dan ditiru oleh umat Islam.

Implementasi moderasi beragama tidak lantas mencapurkan akidah, tetapi bersikap bijak, toleran, dan adil dalam menyikapi perbedaan. Selain itu, moderasi beragama juga ditunjukkan dengan menghindari sikap fanatik berlebihan yang bisa mengarah pada kekerasan atau pemaksaan kehendak.

Melansir laman Kemenag, menurut konteks sosial budaya, moderasi beragama berarti berbuat baik dan adil kepada yang berbeda agama dan ini merupakan bagian dari ajaran agama seperti dijelaskan dalam QS. Al-Mumtahanah ayat 8.

Ayat moderasi beragama menjadi motivasi utama untuk menerapkan nilai ini dalam kehidupan sehari-hari. Apa saja dalil moderasi beragama dan contoh moderasi beragama?

Ayat-Ayat Al-Qur'an tentang Moderasi Beragama

Ilustrasi Tadarus Alquran

Ilustrasi Tadarus Alquran. foto/istockphotonuzulul

Moderasi beragama merupakan penyikapan yang bijak dalam beragama. Melansir laman NU Online, orang yang bersikap moderat cenderung lebih mudah memelihara hubungan baik dengan orang lain.

Mereka tidak begitu keras dalam pandangan mereka sehingga orang lain tetap dapat merasa dihormati dan dihargai. Dengan demikian, sikap moderat membantu menghindari konflik dan pertentangan yang bisa saja timbul akibat perilaku atau pendapat yang berlebihan.

Sikap moderasi beragama tertuang dalam banyak ayat Al-Qur’an. Apa saja ayat Al-Qur’an tentang moderasi beragama?

1. QS. Al-Baqarah: 143

QS. Al-Baqarah ayat 143 merupakan salah satu ayat utama yang menjadi dalil moderasi beragama. Ayat ini menegaskan umat Islam sebagai umat pertengahan.

وَكَذٰلِكَ جَعَلْنٰكُمْ اُمَّةً وَّسَطًا لِّتَكُوْنُوْا شُهَدَاۤءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُوْنَ الرَّسُوْلُ عَلَيْكُمْ شَهِيْدًاۗ وَمَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِيْ كُنْتَ عَلَيْهَآ اِلَّا لِنَعْلَمَ مَنْ يَّتَّبِعُ الرَّسُوْلَ مِمَّنْ يَّنْقَلِبُ عَلٰى عَقِبَيْهِۗ وَاِنْ كَانَتْ لَكَبِيْرَةً اِلَّا عَلَى الَّذِيْنَ هَدَى اللّٰهُۗ وَمَا كَانَ اللّٰهُ لِيُضِيْعَ اِيْمَانَكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ ۝١٤٣

“Demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat pertengahan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Nabi Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Kami tidak menetapkan kiblat (Baitulmaqdis) yang (dahulu) kamu berkiblat kepadanya, kecuali agar Kami mengetahui (dalam kenyataan) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang berbalik ke belakang. Sesungguhnya (pemindahan kiblat) itu sangat berat, kecuali bagi orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah. Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.”

Ayat di atas menegaskan bahwa umat Islam sebagai ummatan wasathan. Artinya umat Islam merupakan umat yang adil dan moderat. Berdasarkan tafsir Ibnu Katsir, kata ‘wasath’ berarti pilihan terbaik, adil, dan tidak melampaui batas.

2. QS. Al-An’am: 108

Ayat tentang moderasi beragama selanjutnya terdapat dalam QS. Al-An’am: 108. Berdasarkan ayat ini, dijelaskan bahwa umat Islam dilarang memaki sesembahan yang disembah umat lain.

وَلَا تَسُبُّوا الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ فَيَسُبُّوا اللّٰهَ عَدْوًا ۢ بِغَيْرِ عِلْمٍۗ كَذٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ اُمَّةٍ عَمَلَهُمْۖ ثُمَّ اِلٰى رَبِّهِمْ مَّرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ ۝١٠٨

“Janganlah kamu memaki (sesembahan) yang mereka sembah selain Allah karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa (dasar) pengetahuan. Demikianlah, Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah tempat kembali mereka, lalu Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan.”

Ayat di atas menegaskan pentingnya menghormati perbedaan keyakinan dan melarang tindakan provokatif. Ini menunjukkan betapa Islam sangat mendepankan toleransi dalam beragama.

3. QS. Al-Kafirun: 6

Ayat tentang moderasi beragama berikutnya ditegaskan dalam QS. Al-Kafirun: 6. Penjelasan dalam ayat ini secara tegas menyatakan bahwa tidak ada pemaksanaan dalam beragama.

لَكُمْ دِيْنُكُمْ وَلِيَ دِيْنِࣖ ۝٦

“Untukmu agamamu dan untukku agamaku.”

Ayat di atas tergolong singkat, tetapi memiliki pesan yang padat dan jelas. Penegasan tentang pentingnya hidup berdampingan dengan damai terdapat dalam ayat ini.

4. QS: An-Nisa': 171

Ayat tentang moderasi beragama selanjutnya terdapat dalam QS. An-Nisa’ ayat 171. Ayat ini menjelaskan untuk tidak berlebih-lebihan dalam beragama.

يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ لَا تَغْلُوْا فِيْ دِيْنِكُمْ وَلَا تَقُوْلُوْا عَلَى اللّٰهِ اِلَّا الْحَقَّۗ اِنَّمَا الْمَسِيْحُ عِيْسَى ابْنُ مَرْيَمَ رَسُوْلُ اللّٰهِ وَكَلِمَتُهٗۚ اَلْقٰهَآ اِلٰى مَرْيَمَ وَرُوْحٌ مِّنْهُۖ فَاٰمِنُوْا بِاللّٰهِ وَرُسُلِهٖۗ وَلَا تَقُوْلُوْا ثَلٰثَةٌۗ اِنْتَهُوْا خَيْرًا لَّكُمْۗ اِنَّمَا اللّٰهُ اِلٰهٌ وَّاحِدٌۗ سُبْحٰنَهٗٓ اَنْ يَّكُوْنَ لَهٗ وَلَدٌۘ لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ وَكَفٰى بِاللّٰهِ وَكِيْلًاࣖ ۝١٧١

“Wahai Ahlulkitab, janganlah kamu berlebih-lebihan dalam (menjalankan) agamamu dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah, kecuali yang benar. Sesungguhnya Almasih, Isa putra Maryam, hanyalah utusan Allah dan (makhluk yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang Dia sampaikan kepada Maryam dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka, berimanlah kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan, “(Tuhan itu) tiga.” Berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya hanya Allahlah Tuhan Yang Maha Esa. Mahasuci Dia dari (anggapan) mempunyai anak. Milik-Nyalah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Cukuplah Allah sebagai pelindung.”

Seruan ayat di atas ditujukan kepada para ahli kitab yang pada ayat sebelumnya dijelaskan telah melampaui batas dalam kepercayaan mereka. Orang Nasrani melampaui batas karena menuhankan Nabi Isa. Orang Yahudi melampaui batas karena menuduh Nabi Isa sebagai pendusta.

5. QS. Al-An’am: 141

Ayat tentang moderasi beragama terdapat dalam QS. Al-An’am ayat 141. Penjelasan ayat ini menegaskan bahwa Allah Swt. tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.

۞ وَهُوَ الَّذِيْٓ اَنْشَاَ جَنّٰتٍ مَّعْرُوْشٰتٍ وَّغَيْرَ مَعْرُوْشٰتٍ وَّالنَّخْلَ وَالزَّرْعَ مُخْتَلِفًا اُكُلُهٗ وَالزَّيْتُوْنَ وَالرُّمَّانَ مُتَشَابِهًا وَّغَيْرَ مُتَشَابِهٍۗ كُلُوْا مِنْ ثَمَرِهٖٓ اِذَآ اَثْمَرَ وَاٰتُوْا حَقَّهٗ يَوْمَ حَصَادِهٖۖ وَلَا تُسْرِفُوْاۗ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَۙ ۝١٤١

“Dialah yang menumbuhkan tanaman-tanaman yang merambat dan yang tidak merambat, pohon kurma, tanaman yang beraneka ragam rasanya, serta zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak serupa (rasanya). Makanlah buahnya apabila ia berbuah dan berikanlah haknya (zakatnya) pada waktu memetik hasilnya. Akan tetapi, janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”

Ayat di atas menegaskan bahwa Allah Swt. tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan. Istilah berlebih-lebihan di sini dapat dikaitkan dengan berbagai konteks kehidupan. Ini selaras dengan penerapan sikap moderat, yakni tidak berlebih-lebihan.

6. QS. Al-Furqan: 67

Ayat tentang moderasi beragama berikutnya terdapat dalam QS. Al-Furqan: 67. Penjelasan ayat ini menunjukkan bahwa tak perlu berlebihan dalam berinfak.

وَالَّذِيْنَ اِذَآ اَنْفَقُوْا لَمْ يُسْرِفُوْا وَلَمْ يَقْتُرُوْا وَكَانَ بَيْنَ ذٰلِكَ قَوَامًا

“Dan, orang-orang yang apabila berinfak tidak berlebihan dan tidak (pula) kikir. (Infak mereka) adalah pertengahan antara keduanya,” (QS: Al-Furqan: 67).

Infak yang dilaksanakan secara tidak berlebihan dan tidak kikir merupakan infak yang dimaksudkan Allah Swt. Dinyatakan dalam ayat di atas, infak seperti itu adalah infak pertengahan. Ini berkaitan dengan sikap moderat, berlaku pertengahan, tidak berlebihan.

7. QS: Al-Isra: 29

Ayat dalam QS. Al-Isra: 29 menjelaskan tentang larangan berlaku kikir. Kandungan ayat ini menegaskan supaya umat Islam jangan berlaku kikir atau pelit.

وَلَا تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُوْلَةً اِلٰى عُنُقِكَ وَلَا تَبْسُطْهَا كُلَّ الْبَسْطِ فَتَقْعُدَ مَلُوْمًا مَّحْسُوْرًا

“Janganlah engkau jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu (kikir) dan jangan (pula) engkau mengulurkannya secara berlebihan sebab nanti engkau menjadi tercela lagi menyesal,” (QS: Al-Isra: 29).

Penegasan ayat di atas menunjukkan adanya larangan berlaku kikir dan berlebihan dalam mengulurkan tangan. Ayat di atas menunjukkan sikap moderat, berlaku pertengahan, tidak kurang tidak juga berlebihan.

Berbagai ayat tentang moderasi beragama wajib menjadi motivasi umat Islam untuk bersikap moderat atau wasatiyah. Ayat-ayat di atas menunjukkan bagaimana umat Islam sebagai pembawa rahmat dan penengah dalam menyikapi perbedaan.

Penerapan Contoh Moderasi Beragama dalam Kehidupan Sehari-hari

Ilustrasi Hari Toleransi Internasional

Ilustrasi Hari Toleransi Internasional. foto/Istockphoto

Moderasi beragama tidak sebatas konsep tertulis, tetapi juga nilai yang wajib dipraktikkan. Rasulullah saw. memberikan teladan terkait moderasi beragama dalam berbagai aspek:

1. Toleransi terhadap Non-Muslim

Rasulullah saw. menandatangani Piagam Madinah yang menjamin hak-hak kelompok non-muslim. Adapun yang dimaksud kelompok non-muslim di sini termasuk Yahudi dan Nasrani. Mereka tetap mendapatkan haknya dalam kehidupan bernegara bersama kaum muslim.

2. Menghindari Kekerasan dalam Dakwah

Dakwah disampaikan dengan cara yang lembut, tanpa adanya paksanaa. Rasulullah saw. tidak pernah memaksakan ajaran Islam. Beliau selalu mengedepankan pendekatan persuasif dan kasih sayang. Hal ini ditunjukkan dalam berbagai kesempatan dakwah kepada masyarakat Thaif atau penduduk Makkah.

3. Adil terhadap Semua Pihak

Rasulullah saw. mencontohkan untuk bersikap adil terhadap semua pihak. Dalam menyelesaikan konflik, Rasulullah saw. bersikap netral dan adil, tanpa memihak hanya karena perbedaan suku, agama, atau kedekatan pribadi.

Sikap moderasi beragama dapat diwujudkan dalam berbagai kesempatan. Moderasi beragama bukan berarti kompromi terhadap prinsip, melainkan kematangan beragama. Marilah terus meneladani sikap Rasulullah saw. dan memahami ayat dalil moderasi beragama.

Baca juga artikel terkait AGAMA ISLAM atau tulisan lainnya dari Nurul Azizah

tirto.id - Edusains
Kontributor: Nurul Azizah
Penulis: Nurul Azizah
Editor: Nurul Azizah & Yulaika Ramadhani