tirto.id - Saiyah (80) tidak lagi menghitung sudah berapa malam ia tidur di tempat pengungsian. Perempuan renta itu memilih meninggalkan rumahnya di Desa Tanjakan Mekar sejak kebakaran melanda Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatiwaringin yang berlokasi di Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, pada Selasa, 30 Juni 2026.
Di balik wajahnya yang tenang, tersimpan kenangan yang tak pernah benar-benar hilang. Sesekali ia mengingat asap tebal akibat kebakaran gunungan sampah di dekat rumahnya.
Bagi Saiyah, asap dari TPA bukan hanya bau yang menyengat atau udara yang membuat dada terasa sesak. Asap itu mengingatkannya pada suaminya.
Asap Kelabu dan Kenangan yang Tak Pernah Padam

Perempuan yang lahir hingga menua di sekitar TPA Jatiwaringin itu masih mengingat pernah terjadi kebakaran beberapa tahun yang lampau. Ia lupa kapan tepatnya. Yang masih melekat dalam ingatannya justru bukan kobaran apinya, melainkan hari-hari ketika sang suami mulai sering mengeluhkan sesak napas.
"Yang lagi dulu mah tahun berapa ya, saya lupa. Waktu itu suami saya sesak napas juga," kata Saiyah, saat ditemui Tirto, di lokasi pengungsian, Senin 6 Juli 2026.
Tak lama setelah kebakaran itu, suaminya didiagnosis menderita asma. Selama sekitar 30 tahun, penyakit itu menjadi teman hidup laki-laki yang mendampinginya membesarkan delapan anak.
Saiyah tidak pernah berani menyimpulkan bahwa kebakaran di TPA menjadi penyebab penyakit suaminya. Namun, satu hal yang tidak pernah hilang dari ingatannya adalah sesak napas itu mulai muncul setelah kebakaran tersebut.
"Sakitnya aja [sekitar] 30 tahun," ujarnya. Penyakit itu akhirnya merenggut nyawa sang suami pada 2009, ketika usianya baru 62 tahun.
Menua Sendiri di Tengah Kepungan Asap Sampah

Hari ini, di usia yang telah menginjak 80 tahun, Saiyah kembali menghirup asap yang sama. Bedanya, kali ini ia sendirian. Delapan anaknya telah memiliki kehidupan masing-masing.
Di rumah yang berdiri tak jauh dari TPA, Saiyah hanya ditemani seorang cucu yang telah kehilangan ibunya. "Ini emak mah sendirian. Ngurus cucu satu yang emaknya meninggal," ucapnya.
Ketika kebakaran kembali melanda TPA Jatiwaringin, ia memilih mengungsi sejak hari pertama. Bukan karena rumahnya terbakar, melainkan karena asap membuatnya tak sanggup bernapas lega.
Ia sempat pulang hanya untuk mengambil pakaian. Namun belum lama berada di rumah, dadanya kembali terasa sesak. "Tadi saja pengin pulang salin, udah enggak tahan, engap [sesak], udah [tidak mau] ke sini lagi."
Kompensasi yang 'Simpang Siur Seperti Angin'
Bagi Saiyah, tinggal di sekitar TPA berarti hidup berdampingan dengan bau sampah, lalat, dan kini ancaman kebakaran. Meski demikian, selama puluhan tahun ia tidak pernah berpikir untuk meninggalkan kampung halamannya.
Baru setelah kebakaran kali ini, keinginan itu muncul. Bukan karena kehilangan rumah. Melainkan karena takut peristiwa yang sama akan terus berulang.
"Penginnya mah itu aja digusur, dibeli tanahnya. Kita nyari lagi. Takut ada begini lagi. Anak-anak juga semua udah kompak, kalau diganti mah udah pada pindah," ujarnya.
Harapan itu ternyata juga dirasakan warga lain. Tosiani (37), yang tinggal di sekitar TPA, mengaku selama ini warga tidak pernah menerima kompensasi rutin dari pengelola TPA, meski harus hidup berdampingan dengan gunungan sampah.
"Kita selalu mengajukan kompensasi. Ada 2 tahun yang lalu, tapi masih simpang siur kayak angin. Jadi masih belum ada hasil, kayak kita diombang-ambing," ujarnya.
Menurut Tosiani, bantuan air bersih pun hanya sempat datang ketika persoalan TPA ramai menjadi perhatian publik. "Kalau kalau air toren, tuh, ada, sekali ada [ramai berita]. Iya, [setelah tidak ramai dihentikan]."
Sementara warga menunggu kepastian, dampak kebakaran mulai terlihat.
Harapan Sederhana Sebelum Sisa Usia Habis
Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang mencatat sedikitnya 72 warga mengalami Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat paparan asap.
Mayoritas mengalami batuk, flu, dan demam. Pemerintah pun membuka sejumlah posko kesehatan untuk mengantisipasi penyakit berkembang menjadi pneumonia.
WALHI menilai kebakaran yang kembali terjadi menunjukkan persoalan tata kelola TPA yang belum pernah benar-benar diselesaikan. Menurut organisasi tersebut, selama sistem open dumping masih digunakan, ancaman kebakaran akan terus menghantui.
Namun bagi Saiyah, persoalannya jauh lebih sederhana. Ia tidak memikirkan istilah open dumping, gas metana, atau tata kelola persampahan. Yang ia tahu hanya satu, setiap kali asap kembali datang, kenangan tentang suaminya ikut muncul.
Kini ia hanya berharap, sebelum usianya benar-benar habis dimakan waktu, ia bisa melihat warga tak lagi hidup berdampingan dengan gunungan sampah yang sewaktu-waktu dapat kembali terbakar.
Sebab bagi Saiyah, yang paling melelahkan bukan hanya menghadapi kebakaran. Melainkan hidup dengan kecemasan bahwa asap itu suatu hari akan kembali.
=============
Tangsel_Update adalah akun IG City Info yang merupakan bagian dari #KolaborasiJangkarByTirto.
Penulis: Tangsel_Update
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id































