tirto.id - Dari luar, rumah di Kompleks Tanjung Barat Indah, Jagakarsa, Jakarta Selatan, itu masih tampak utuh dan kokoh. Hanya sisa jelaga basah di lantai dasar yang dapat menjadi acuan bahwa bangunan empat lantai itu sempat terbakar.
Rumah itu milik Haerul Saleh, Anggota IV Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI. Di lantai empat asap hitam pekat sempat membumbung tinggi pada Jumat (8/5/2026).
Dari rekaman video yang beredar dan kesaksian orang terdekat, di lokasi yang menjadi ruang kerjanya itu Haerul terperangkap dan mengembuskan napas terakhir saat dilarikan ke rumah sakit RSUD Pasar Minggu.
Kronologis Kebakaran Rumah Haerul Saleh Menurut Kesaksian
Berdasarkan keterangan para saksi di lokasi, api diduga kuat bersumber dari bahan kimia epoksi lantai yang tengah digunakan untuk proses renovasi mandiri di ruangan kerjanya tersebut.
07.55 WIB-08.00 WIB Laporan Pertama Kejadian
Ida, salah satu tetangga yang tinggal di belakang kediaman Haerul Saleh, mengaku pertama kali mendengar suara teriakan minta tolong saat api mulai menjalar. Menurutnya, suasana pagi yang tenang mendadak berubah mencekam sekitar pukul 08.00 WIB."Iya, cuma teriak minta tolong-tolong doang, teriak-teriak aja gitu. Kencang banget suaranya," ujar Ida saat ditemui di lokasi kejadian, Sabtu (9/6/2026).
Ida menjelaskan bahwa ia tidak melihat kobaran api yang menjulang tinggi ke luar bangunan. Namun, asap hitam pekat terlihat mengepul hebat dari bagian atas rumah.
"Apinya enggak kelihatan, asap doang. Asapnya gede banget yang di lantai atas itu," tambahnya.
Tak lama setelah teriakan tersebut, armada pemadam kebakaran tiba di lokasi untuk menjinakkan si jago merah.
Sekuriti melihat kepulan asap sekitar pukul 07.55 WIB dan langsung melakukan tindakan cepat bersama rekan-rekan sekuriti dan warga lainnya.
"Kejadiannya jam 8 kurang 5 menit. Kita lihat ada yang teriak, terus security membantu laporan ke depan. Kita bawa APAR, api sudah kelihatan besar," katanya.
Ketua RT setempat, Agung, mengaku mendapatkan telepon mengenai kebakaran tersebut pada pukul 07.53 WIB. Ia langsung menuju lokasi dan ikut berkoordinasi menyediakan alat pemadam tambahan.
"Saya langsung ke lokasi, ternyata sudah banyak orang. Saya ambil empat APAR lagi dari dinding rumah sebelah, saya bawa ke atas, saya kasih ke petugas untuk disemprotkan ke lokasi," kata Agung.
08.10 Mulai Pemadaman dan Evakuasi
Sekuriti itu juga menceritakan keganasan api yang tidak kunjung padam meski sebanyak 14 tabung Apar (Alat Pemadam Api Ringan) dikerahkan. Api baru benar-benar dapat dikendalikan setelah petugas pemadam kebakaran tiba dan Haerul berhasil dievakuasi."Aparnya itu kita keluarkan waktu kemarin itu membantu. Pakai apar itu 4, tambah 2, tambah 2, delapan, tambah 2, sepuluh, tambah 4, empat belas. 14 kita keluarkan, itu nggak padam-padam," jelasnya.
Ia bahkan sempat tertimpa plafon saat membantu pemadaman di lantai atas. "Setelah pemadam sampai, sampai bapak barulah, baru bapak ditarik ke atas. Selang tuh baru, baru padam. Saya naik ke atas juga ketiban plafon, makanya baju kotor semua," katanya.
Ketua RT Agung memberikan gambaran mengenai sulitnya proses evakuasi karena posisi ruangan berada di bagian paling atas atau rooftop. Haerul Saleh akhirnya berhasil dibawa turun oleh tim yang bahu-membahu masuk ke dalam pekatnya asap.
"Saya lihat pas turun digotong pakai karpet, belum pakai tandu. Kondisinya sudah ada luka bakar dari atas (kepala) sampai badan. Pas ditaruh di karpet itu sudah tidak gerak," ungkapnya.
Setelah berhasil dibawa ke bawah, Haerul Saleh segera dilarikan ke rumah sakit terdekat di RSUD Pasar Minggu.
Namun, setelah dilakukan pemeriksaan oleh pihak medis di rumah sakit, Haerul Saleh dinyatakan telah meninggal dunia.
08.10-09.00 Pemadaman Berlangsung Sekitar 1 Jam
Upaya pemadaman awal dilakukan secara manual menggunakan 14 tabung APAR yang dikumpulkan dari rumah korban dan bantuan tetangga sekitar. Tak lama kemudian, lima unit mobil pemadam kebakaran tiba di lokasi.Proses pemadaman berlangsung sekitar 30 menit hingga satu jam. Sekuriti yang saat itu berjaga malam merupakan salah satu orang yang ikut mengevakuasi Haerul dari lantai atas.
"Bapak ditarik dibawa ke bawah, itu bapak masih ada napasnya. Wajahnya masih biasa, enggak terbakar (gosong), cuma agak melepuh karena hawa panas asap," jelasnya.
Situasi Ruang Kerja Haerul
Sekuriti mengungkapkan bahwa saat kejadian, Haerul memang tidak sendirian di dalam ruang kerjanya. Tapi bukan pula berempat dengan tiga asisten rumah tangga (ART) di lantai empat rumah tersebut.Namun, ia sedang bersama seorang kepercayaannya berinisial YT. YT disebut masih saudara dengan Haerul, yang juga berasal dari Sulawesi Selatan.
Berdasarkan informasi yang disampaikan YT ke sekuriti kompleks ini, saat api dan asap pekat mulai mengepung ruangan, Haerul sempat meminta YT untuk segera keluar menyelamatkan diri lebih dulu dan meminta pertolongan warga.
“Jadi dia berdua kalau dibilang saudaranya, saudaranya. Nah, bapak bilang kamu keluar selamatkan diri gitu. Dia selamatkan diri, dia lari keluar bapak lari ke tempat air wudhu. Di tempat itu ada tempat wudhu,” katanya.
“Kalau menurut insting saya itu dia menyelamatkan orang lain bukan diri dia sendiri yang dia dia pikirin. Penting yang selamat orang lain dulu,” tambahnya.
Dia juga menjelaskan bahwa YT keluar bukam tanpa luka. YT yang berhasil keluar mengalami luka bakar di sebagian paha kanan dan baju yang lekat di badannya juga tak lolos dari jilatan api.
"YT bisa keluar, tapi bajunya yang putih itu kena (api), sebagian badannya terbakar," tuturnya.
YT kemudian turut membantu mengarahkan tim evakuasi untuk mencapai posisi Haerul Saleh yang masih terjebak di tengah kepulan asap hitam yang sangat tebal.
Jumlah Asisten di Rumah Haerul
Seorang petugas keamanan pribadi Haerul, yang ditugaskan dari BPK, memaparkan bahwa kediaman tersebut dijaga oleh total 9 personel yang bekerja dalam sistem shift 12 jam sehari.Mereka bergantian berjaga di antara rumah pribadi di Tanjung Barat dan rumah dinas Haerul di Pondok Indah, Jakarta Selatan.
Dari keterangan petugas keamanan ini diketahui bahwa pihak yang diduga “ART” di rumah tersebut lebih tepat disebut sebagai keluarga atau orang kepercayaan karena berasal dari daerah asal yang sama dengan
almarhum, yakni Sulawesi.
"Sebenarnya mereka lebih tepat disebut keluarga atau orang kepercayaan, bukan ART biasa. Mereka berasal dari daerah yang sama dengan Bapak (Sulawesi). Mereka yang membantu mengurus keperluan rumah,” ucapnya.
Lantai 4 Merupakan Ruang Pribadi Haerul
Mengenai kondisi lantai 4 yang menjadi titik api, pengawal pribadi membenarkan adanya pengerjaan ruangan pribadi sesuai keinginan almarhum sendiri."Renovasi kecil-kecilan saja, sesuai mood Bapak. Misalnya ada desain ruangan yang dirasa kurang enak, lalu diubah. Kemarin itu sepertinya ada pengerjaan di lantai 4, di ruangan pribadi Bapak. Tapi kami pihak keamanan tidak tahu detailnya karena hanya berjaga di depan," tuturnya.
Saat kejadian, ia sedang tidak bertugas. Ia baru mengetahui musibah tersebut sekitar pukul 09.00 WIB dan langsung merapat ke rumah duka di Pondok Indah untuk memantau kondisi pimpinannya yang saat itu diinformasikan mengalami luka bakar serius.
“Saya langsung ke Pondok Indah. Tapi saat saya sampai, bapak dan rombongan keluarga sudah siap jalan ke Kolaka, Sulawesi Selatan untuk dimakamkan,” imbuhnya.
Berdasarkan kesaksian sekuriti kompleks, rumah pribadi ini kerap ditempati almarhum dengan keluarga. Bahkan, ia menyebut bahwa Haerul selalu pulang ke rumah di Tanjung Barat itu setiap pulang kerja. Hanya akhir pekan berada di rumah dinas di Pondok Indah.
“Selalu pulang ke sini setiap hari. Kemarin pas kejadian beliau baru pulang jam limaan subuh,” kata dia.
Bukan Tiner, Penyebab Kebakaran Diduga Epoksi
Penyebab kebakaran di rumah dinas Haerul Saleh terus berkembang. Jika sebelumnya beredar isu keberadaan tiner di lokasi kejadian, seorang sekuriti yang bertugas di kompleks rumah tersebut mengungkapkan fakta berbeda.Pria yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan bahwa sumber api diduga berasal dari cairan epoksi lantai yang masih basah karena masih dalam tahap perbaikan, bukan dari tiner.
Dia menyebutkan bahwa di area rumah terdapat dua jerigen bekas cairan epoksi, yaitu bahan untuk pelapis atau perekat lantai keramik yang biasa digunakan dalam proses renovasi. Dua jerigen ini pun telah diamankan oleh pihak kepolisian.
“Aduh kurang paham saya namanya. Cairan epoksi, epoksi lantai itu. Iya, oh itu. Itu emang bekas renovasi,” ucapnya.
Sosok yang mengaku cukup dekat dengan keluarga korban ini menyebut bahwa Haerul memang kerap melakukan renovasi kecil-kecilan di rumahnya secara mandiri. Pada kali ini, ia mendesain ulang lantai ruang kerjanya.
“Bapak kan waktu itu lagi renovasi di lantai. (Kerap renovasi sendiri) kurang bagus, bongkar. Kurang bagus, bongkar gitu," katanya.
Ia menambahkan bahwa pemicu kebakaran tersebut bukanlah tiner. "Udah itu. Dilihat kemarin kan ada gentongnya tuh. Gentongnya di bawah. Saya enggak liat gentongnya. Ini bukan tiner, bukan tiner. Epoksi," tuturnya.
Sekuriti tersebut mengungkapkan bahwa ruang kerja tempat Haerul berada saat kebakaran memang dalam tahap direnovasi. Proses pengerjaan epoksi lantai disebutkannya baru rampung dan belum sempat mengering sempurna.
"Belum kering, belum kering itu. Baru selesai, baru selesai banget," ungkapnya.
Epoksi yang belum mengering sempurna ini, menurut hematnya, yang menjadi biang kebakaran. Pasalnya, saat ia bersama warga melakukan pemadaman api, lantai epoksi yang masih basah mengeluarkan letupan api.
“Karena pas saya naik bawa air, Itu (lantai epoksi) sudah meledak. Dua kali. Tup… tup…,” katanya menirukan suara letupan api.
Hanya saja, dia tidak tahu dari mana sumber api yang membakar lantai epoksi tersebut. “Kalau sumber api saya gak tahu,” tuturnya.
Haerul Renovasi Ruang Kerjanya Sendiri
Ketua RT Agung mengaku sempat berbincang dengan orang-orang kepercayaan Haerul yang berjumlah tiga orang. Mereka semua dibawah Haerul dari kampung halamannya.Dari keterangan mereka, Agung mendapatkan informasi bahwa Haerul memiliki jiwa seni. Karena itu, ia melakukan renovasi sendiri lantai ruang kerjanya.
“Saya juga sempat tanya untuk orang seperti dia harusnya kan tinggal panggil ahlinya. Ternyata, dia memang punya jiwa seni,” katanya.
Menurut Agung, Haerul ingin membuat ruang kerjanya tampak estetik. Karena itu ia melapisi lantainya dengan epoksi dan berbagai ornamen pendukungnya.
“Mungkin ada kepuasan batin tersendiri kalau itu ia kerjakan sendiri,” tuturnya.
Penulis: Nanda Aria
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id


































