Menuju konten utama

Apa yang Sudah Dilakukan PBB untuk Konflik Israel dan Palestina?

Apa yang sudah dilakukan PBB untuk konflik Israel dan Palestina? Selama ini PBB dianggap belum sigap dalam menangani konflik di sana.

Apa yang Sudah Dilakukan PBB untuk Konflik Israel dan Palestina?
Palestinians leave their homes following Israeli bombardment on Gaza City, Monday, Oct. 30, 2023. (AP Photo/Abed Khaled)

tirto.id - PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) selama ini dianggap kurang aktif dalam mengatasi konflik Israel-Palestina sejak mereka menerima mandat dari Inggris pada 1922.

Pasca Deklarasi Balfour tahun 1917, banyak orang-orang Yahudi yang mulai memasuki wilayah Palestina. Puncaknya terjadi setelah penyerahan mandat dari Inggris kepada PBB mulai tahun 1922.

Imigrasi warga Yahudi dalam skala besar mulai mendatangi Palestina. Inggris kemudian menyerahkan wilayah ini kepada PBB.

Melalui Resolusi 181 (II) 1947, PBB membagi Palestina menjadi 2 negara, yakni negara Arab Palestina dan negara Yahudi.

Setahun berselang, negara Israel akhirnya berdiri di tanah Palestina. Mereka mendeklarasikan diri sebagai negara merdeka pada 14 Mei 1948 dan masuk sebagai anggota PBB berjarak 1 tahun kemudian.

Wilayah tersebut selalu dipenuhi dengan konflik hingga sekarang, terutama perang antara Israel dengan Palestina selaku pemilik sah. Lalu, apa saja yang sudah dilakukan PBB untuk meredakan pertikaian keduanya?

Hal yang Dilakukan PBB untuk Konflik Israel dan Palestina

Eskalasi konflik Israel-Palestina kembali memanas sejak Sabtu (7/10/2023). Pejuang Hamas melepaskan ribuan roket ke arah Israel hingga dibalas lewat serangan udara ke Jalur Gaza.

Israel menambah dengan melakukan blokade terhadap Jalur Gaza yang dikuasai Hamas. Mereka memutus aliran air, listrik, dan suplai makanan.

Selain serangan udara, Israel turut melancarkan serangan darat di wilayah yang dihuni sekitar 2 juta penduduk itu.

Kantor PBB di Gaza mengalami kerusakan akibat serangan udara Israel. Melalui UNWRA (Badan PBB untuk Urusan Pengungsi Palestina), mereka bekerja di Gaza dan Tepi Barat.

PBB juga menempatkan pasukan penjaga perdamaian UNIFIL di sepanjang perbatasan Israel-Lebanon yang diisi 9.400 tentara angkatan darat, 900 staf sipil, dan 850 angkatan laut.

Hubungan PBB dengan Israel bahkan sempat memanas menyusul komentar Sekjen PBB, Antonio Guterres, yang menyatakan serangan Hamas tidak terjadi di ruang hampa.

Sontak, pejabat Israel bereaksi keras. Gilad Erdan, Duta Besar Israel untuk PBB meminta Guterres mundur dari jabatannya dan menilai sebagai pembenaran terhadap aksi yang dilakukan Hamas.

Bahkan, Israel pun mulai menolak untuk memberikan visa kepada para petinggi PBB yang akan berkunjung ke wilayah konflik.

Berikut ini adalah rangkuman sejumlah tindakan yang sudah dilakukan PBB baru-baru ini dalam menyikapi konflik Israel-Palestina:

1. Misi Perlindungan untuk Palestina

UNRWA dilaporkan telah melindungi 137.500 warga yang terdiri dari pria, wanita, dan anak-anak di 83 lokasi sekolah dari total 288 sekolah di wilayah tersebut.

18 fasilitas milik UNRWA juga mengalami kerusakan akibat serangan udara Israel.

2. De-eskalasi

UNIFIL yang sedang menjalani misi penjaga perdamaian PBB di Lebanon terus memantau situasi keamanan sepanjang perbatasan Israel-Lebanon.

"Kami bekerja 24 jam sehari, 7 hari seminggu untuk mewujudkannya," bunyi pernyataan UNIFIL.

3. Layanan Darurat

Di tengah blokade makanan, air, bahan bakar, dan listrik oleh Israel di Gaza, PBB mengerahkan toilet dan kamar mandi portabel ke tempat pengungsian milik UNRWA.

OCHA, badan urusan kemanusiaan PBB, mengungkapkan warga Palestina di Gaza hanya hidup dengan listrik selama 3-4 jam per hari hingga menghambat kinerja fasilitas kesehatan.

4. Bantuan Makanan

WFP (The World Food Programme) bersama UNRWA terus menyuplai makanan ke tempat pengungsian di Gaza.

Mereka mengirim roti, makanan kaleng, dan makanan siap saji untuk 100.000 orang di tempat penampungan UNRWA.

"Hampir setengah juta orang atau 112.000 keluarga belum bisa mendapatkan akses makanan pada pekan ini karena pusat distribusi makanan UNRWA masih tutup," tulis UNRWA.

5. Layanan Kesehatan

Sebanyak 125 staf kesehatan bekerja di sejumlah pusat kesehatan UNRWA. 15 dari 22 klinik itu buka dari pukul 9 pagi hingga 12 malam. Mereka melayani pasien melalui hotline bebas pulsa.

Mereka juga membuka saluran bantuan dan layanan sosial serta dukungan psikososial serta pertolongan pertama dari sisi psikologis.

WHO turut mengirim pasokan medis ke Jalur Gaza via perbatasan Rafah. Bantuan ini belum mencukupi kebutuhan dan tidak termasuk bahan bakar yang dibutuhkan sejumlah rumah sakit.

6. Resolusi PBB

Pada Jumat (27/10), Majelis Umum PBB akhirnya mengeluarkan resolusi yang menyerukan gencatan senjata antara pasukan Israel dengan militan Hamas di Gaza.

Keputusan itu mengisyaratkan pesan agar dilakukan upaya layanan penyelamatan dan jalur pasokan yang memadai serta tanpa hambatan untuk warga sipil yang terjebak di tengah meningkatnya aksi kekerasan.

Resolusi Yordania ini didukung 120 negara yang setuju, 14 menolak, dan 45 negara lain memilih abstain. Setidaknya, ini adalah resolusi pertama yang berhasil dikeluarkan PBB setelah 4 kali mengalami kebuntuan.

Baca juga artikel terkait ISRAEL PALESTINA atau tulisan lainnya dari Beni Jo

tirto.id - Sosial budaya
Kontributor: Beni Jo
Penulis: Beni Jo
Editor: Dipna Videlia Putsanra