tirto.id - Cuaca panas akhir-akhir ini membuat banyak warga merasa tidak nyaman dan bertanya-tanya penyebabnya. Fenomena ini ternyata berkaitan dengan kulminasi matahari atau yang sering disebut sebagai hari tanpa bayangan.
Pada akhir September 2025, warganet ramai mengeluhkan suhu udara yang terasa lebih terik dari biasanya. Sebagian bahkan mengaitkan kondisi ini dengan perubahan iklim ekstrem. Namun, BMKG menjelaskan bahwa kulminasi adalah fenomena alam yang memang terjadi secara periodik. Kulminasi terjadi ketika matahari berada tepat di posisi tertinggi di atas kepala kita.
Hal ini menyebabkan bayangan benda menjadi sangat pendek, bahkan tidak tampak sama sekali. Fenomena ini biasanya berlangsung pada bulan Maret dan September setiap tahunnya. Akibatnya, intensitas sinar matahari yang diterima permukaan bumi terasa lebih panas. BMKG pun menegaskan bahwa kondisi panas saat ini wajar dan merupakan bagian dari siklus kulminasi tahunan.
Apa Itu Kulminasi Matahari?
Kulminasi matahari, atau dikenal juga dengan istilah transit atau istiwa’, adalah fenomena ketika matahari berada di posisi paling tinggi di langit. Kondisi ini terjadi saat deklinasi matahari sama dengan lintang tempat pengamat berada.
Pada saat kulminasi utama, posisi matahari akan tepat di atas kepala atau berada di titik zenit. Akibatnya, bayangan benda tegak seolah menghilang karena bertumpuk dengan benda itu sendiri. Itulah sebabnya peristiwa ini sering disebut sebagai hari tanpa bayangan, yang biasanya berlangsung dua kali dalam setahun, pada bulan Maret dan September.
Penyebab Cuaca Panas Hari Ini, Benarkah Kulminasi?
Banyak yang mengira cuaca panas ekstrem belakangan ini semata-mata disebabkan oleh fenomena kulminasi matahari, padahal faktanya lebih kompleks. Karena bidang ekuator Bumi tidak berimpit dengan bidang ekliptika, posisi semu matahari dari Bumi selalu berubah sepanjang tahun antara 23,5° LU hingga 23,5° LS.
Fenomena ini disebut gerak semu matahari harian. Tahun ini, matahari tepat berada di atas Kota Pontianak pada 20 Maret 2025 pukul 11.50 WIB dan 23 September 2025 pukul 11.35 WIB. Selain itu, posisi balik utara terjadi pada 21 Juni 2025, sedangkan balik selatan pada 21 Desember 2025.
Di akhir September ini, posisi semu matahari bergerak ke arah selatan ekuator. Dampaknya, wilayah selatan Indonesia seperti Jawa hingga Nusa Tenggara mendapatkan penyinaran yang lebih intens. Kondisi ini diperkuat oleh musim kemarau yang membuat tutupan awan sangat minim, sehingga sinar matahari tidak terhalang ketika sampai ke permukaan bumi.
Alhasil, suhu terasa lebih terik terutama pada siang hari. Meski kulminasi turut berperan, BMKG menegaskan bahwa faktor lain seperti angin, kelembapan, dan kondisi atmosfer juga berpengaruh besar.
Fenomena panas terik ini diperkirakan masih berlanjut hingga Oktober. Karena itu, masyarakat diimbau menjaga stamina, cukup minum air, dan melindungi diri saat beraktivitas di luar ruangan agar terhindar dari dehidrasi maupun kelelahan.
Sampai Kapan Kulminasi Matahari 2025?
Fenomena kulminasi utama 2025 di Indonesia berlangsung dua kali, yaitu 20 Februari-4 April 2025 dan 7 September-21 Oktober 2025. Periode pertama dimulai dari Baa, Nusa Tenggara Timur hingga Sabang, Aceh.
Periode kedua sebaliknya, dari Sabang hingga kembali ke Baa. Selain itu, posisi penting matahari lain terjadi pada 21 Juni (titik balik Utara) dan 21 Desember (titik balik Selatan). Untuk Jakarta, kulminasi utama jatuh pada 4 Maret pukul 12.04 WIB dan 9 Oktober pukul 11.39 WIB. Fenomena ini wajar terjadi karena posisi Indonesia berada di sekitar khatulistiwa.
Pembaca juga dapat mengetahui info terbaru tentang Kulminasi Matahari melalui tautan di bawah ini:
Penulis: Lita Candra
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id




























