Apa Itu Ban Lengan Onelove yang Kontroversi di Piala Dunia 2022?

Kontributor: Lucia Dianawuri, tirto.id - 25 Nov 2022 12:48 WIB
Dibaca Normal 2 menit
Ban lengan OneLove adalah kampanye untuk mempromosikan inklusi serta pesan anti diskriminasi dalam segala bentuk.
tirto.id - Penyelenggaraan Piala Dunia 2022 yang diselenggarakan oleh FIFA digelar dari 20 November 2022 hingga 18 Desember 2022. Kali ini, Qatar menjadi tuan rumah pesta sepak bola dunia yang digelar empat tahun sekali ini.

Piala Dunia 2022 ini adalah pertama kali Qatar menjadi tuan rumah. Selain itu, ini adalah pertama kali wilayah Arab menjadi tuan rumah Piala Dunia.

Piala Dunia 2022 dengan maskot resminya bernama La’eeb, dibuka secara gegap gempita di Stadion Al Byat di kota Al Khor. Sementara itu, Stadion Lusail di kota Lusail akan menjadi tempat pertandingan final sekaligus penutup pesta bola sejagat ini.

Delapan stadion yang tersebar di lima kota besar di Qatar, yaitu Lusail, Al Khor, Doha, Al Rayyan dan Al Wakrah akan menjadi tempat penyelenggaraan Piala Dunia 2022 kali ini. Delapan stadion itu adalah Stadion Lusail, Stadion Al Bayt, Stadion 974, Stadion AL Thumama, Stadion Khalifa International, Stadion Education City, Stadion Ahma bin Ali, dan Stadion Al Janoub.

Selain itu, terdapat delapan grup dari berbagai negara dunia yang akan bertanding di Piala Dunia ke-22 kali ini. Penyisihan grup berlangsung dari 20 November hingga 2 Desember 2022. Sementara fase knockout berlangsung dari 3 hingga 18 Desember 2022.

Apa itu ban lengan OneLove?



Selain kompetisi sepak bola, Piala Dunia 2022 kali ini juga menghadirkan banyak cerita dan kontroversi. Salah satunya adalah tentang ban lengan OneLove yang dilarang digunakan oleh FIFA.

Menurut laman Evening Standard, ban lengan OneLove adalah kampanye untuk mempromosikan inklusi serta pesan anti diskriminasi dalam segala bentuk.

Kampanye penggunaan ban lengan OneLove ini diinisiasi oleh Asosiasi Sepak Bola Belanda pada awal musim sepak bola 2020 yang lalu. Akhirnya, kampanye ini mendapat dukungan Inggris, Belgia, Denmark, Perancis, Jerman, Norwegia, Swedia, Swiss dan Wales.

Para kapten tim sepak bola dari negara-negara Eropa ini, rencananya akan memakai ban lengan OneLove saat bertanding pada Piala Dunia 2022 ini.

Alasan ban lengan OneLove jadi kontroversi



Penggunaan ban lengan OneLove ini akhirnya dilarang penggunaanya oleh FIFA. Kapten kesebelasan Inggris dan Wales, akhirnya tidak menggunakan ban lengan OneLove itu, setelah FIFA mengancam akan memberikan sanksi jika mereka nekat menggunakan ban lengan itu.

Ban lengan ini dilarang karena FIFA tidak memperbolehkan penggunaan slogan-slogan ataupun pesan-pesan berbau politik yang ditempel di seragam ataupun perlengkapan bola lainnya.

Walaupun tidak secara langsung, ban lengan OneLove ini memiliki muatan politik, karena memang ingin mengkritik hukum anti LGBTQ. Ban lengan OneLove juga ingin menyuarakan inklusifitas, terutama di negara-negara yang secara hukum melarang hubungan sesama jenis. Apalagi Piala Dunia kali ini diselenggarakan di Qatar, salah satu negara yang melarang hubungan sesama jenis.

Menurut The Scotsman, sebelum penyelenggaraan Piala Dunia 2022, FIFA sudah meluncurkan ban lengan sendiri yang berpartner dengan tiga badan PBB, dan FIFA memang tidak memasukkan ban lengan OneLove dalam kampanye mereka.

Sebagai protes atas larangan FIFA itu, pada Rabu (23/11/2022) saat jadwal pertandingan antara Jerman dan Jepang, tim Jerman menutup mulut mereka saat sesi foto resmi tim kesebelasan Piala Dunia.

Federasi Sepak Bola Jerman, DFB, dalam akun twitter resmi mereka mengatakan, ban lengan OneLove adalah representasi atas nilai-nilai yang dipegang oleh tim nasional Jerman, yaitu “diversity dan mutual respect” (keberagaman dan saling menghormati).

Bersama dengan negara lainnya, tim sepak bola nasional Jerman ingin suara mereka didengar, karena bagi mereka ini bukan tentang pernyataan politik, tapi tentang Hak Asasi Manusia yang tidak bisa ditawar-tawar.

Menurut DFB, dengan melarang penggunaan ban lengan OneLove, itu sama artinya melarang mereka bersuara.


Baca juga artikel terkait LIFESTYLE atau tulisan menarik lainnya Lucia Dianawuri
(tirto.id - Olahraga)

Kontributor: Lucia Dianawuri
Penulis: Lucia Dianawuri
Editor: Nur Hidayah Perwitasari

DarkLight