Apa Efek Kebiri Kimia Bagi Psikis dan Kesehatan Seseorang?

Oleh: Yonada Nancy - 5 Januari 2021
Dibaca Normal 1 menit
Kebiri kimia sendiri merupakan tindakan kebiri yang melibatkan penggunaan obat untuk mengurangi kadar testosteron dan memengaruhi dorongan seks.
tirto.id - Hukuman kebiri kimia bagi para pelaku predator anak resmi ditandatangani oleh Presiden Joko Widodo pada 7 Desember 2020.

Hukuman kebiri kimia ini tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 70 tahun 2020 tentang Tata Cara Pelaksanaan Tindakan Kebiri Kimia, Pemasangan Alat Pendeteksi Elektronik, Rehabilitasi, Dan Pengumuman Identitas Pelaku Kekerasan Seksual Terhadap Anak.

Tidak hanya di Indonesia, setidaknya saat ini terdapat lebih dari 20 negara yang menerapkan aturan kebiri kimia bagi para pelaku kekerasan seksual anak. Dalam penetapannya, aturan mengenai kebiri kimia selalu menimbulkan perdebatan, tentunya berkaitan dengan etika medis dan HAM.

Kebiri kimia sendiri merupakan tindakan kebiri yang melibatkan penggunaan obat untuk mengurangi kadar testosteron dan memengaruhi dorongan seks.

Studi yang dipublikasikan oleh Journal of Korean Medical Science menyebutkan kebiri kimia telah dikenal pada 1944 sebagai upaya manipulasi hormon untuk perilaku seksual patologis.

Ketika itu, obat kimia yang diberikan pada pelaku adalah diethylstilbestrol yang berfungsi untuk menurunkan kadar testosteron. Saat ini tindakan kebiri kimia beberapa negara Eropa, Amerika Serikat, dan Kanada menggunakan medroxyprogesterone acetate dan cyproterone acetate sebagai obat kimia kebiri.

Efek kebiri kimia pada kesehatan


Dalam studi yang sama mengklaim bahwa kebiri, baik kimia maupun fisik mampu mengurangi minat seksual, kinerja seksual, dan pelanggaran seksual. Hal ini karena obat kimia yang digunakan mengganggu produksi hormon testosteron pelaku.

Testosteron adalah hormon utama yang terkait dengan libido dan fungsi seksual. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa pelaku kekerasan seksual memiliki tingkat androgen yang lebih tinggi daripada kelompok pembanding. Selain itu kadar androgen berkorelasi positif dengan kekerasan sebelumnya dan tingkat keparahan agresi seksual.

Efek samping dari distraksi hormon tersebut dapat berpengaruh pada fisik dan psikis pelaku. Obat-obatan kimia seperti medroxyprogesterone acetate dan cyproterone acetate tidak hanya berpengaruh pada testosteron tetapi juga pada estrogen. Bahkan pada pria, estrogen memiliki peran fisiologis penting yakni berkaitan dengan pertumbuhan kerangka dan pematangan tulang, fungsi otak, dan biologi kardiovaskular.


Maka, penggunaan obat-obatan kebiri kimia dapat menyebabkan efek samping termasuk osteoporosis, penyakit kardiovaskular, dan gangguan metabolisme glukosa dan lipid. Selain itu, pelaku juga dapat mengalami depresi, hot flashes, infertilitas, dan anemia. Serangkaian efek samping akan terus memburuk seiring dengan pemberian obat kimia dalam jangka panjang.

Kebiri kimia lebih baik dibanding kebiri fisik


Kebiri kimia memang menyebabkan sejumlah komplikasi dan efek jangka panjang bagi pelaku. Belum lagi biaya yang harus dikeluarkan oleh negara untuk melaksanakan hukuman ini tidak sedikit, yakni sekitar 4,650 dolar Amerika per orang setiap tahun untuk pengobatan dan pemantauan.

Namun, dalam konteks hukuman, kebiri kimia diklaim masih lebih baik dibanding kebiri fisik. Kelebihan pertama, meskipun kebiri kimia dapat menyebabkan efek seumur hidup, pelaku masih dapat melakukan aktivitas seksual normal dengan bantuan psikoterapi.

Kelebihan kedua, prosedur ini dinilai yang lebih realistis daripada kebiri gelang kaki elektronik atau pengebirian bedah. Kelebihan lainnya, efek obat anti-libido dapat pulih kembali setelah penghentian pemberian.

Dalam pelaksanaannya, kebiri kimia di Indonesia akan dikenakan pada pelaku dalam jangka waktu maksimal dua tahun. Namun, hukuman ini tidak diperkenankan bagi pelaku dibawah umur. Pelaksanaan kebiri kimia pun akan diawasi oleh tenaga ahli dan pelaku akan mendapatkan rehabilitasi psikiatrik, sosial, dan medik.




Baca juga artikel terkait KEBIRI KIMIA atau tulisan menarik lainnya Yonada Nancy
(tirto.id - Kesehatan)

Kontributor: Yonada Nancy
Penulis: Yonada Nancy
Editor: Agung DH
DarkLight