Anjing Berlatih, Kriminal Berlalu

Petugas menampilkan anjing Bailey pada konferensi pers di Kuningan, Jakarta, Rabu (28/2). Bailey yang dilatih sejak September 2017 di pusat pelatihan anjing K9 (Scent Imprint for Dogs Centre) Belanda adalah anjing pertama yang dilatih untuk mendeteksi primata yang diselundupkan. ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto
Oleh: Nindias Nur Khalika - 4 Maret 2018
Dibaca Normal 3 menit
Anjing pelacak menjalankan peran vital dalam tugas-tugas penegakan hukum, mulai dari pemberantasan narkoba hingga kontra-terorisme. Latihannya sangat berat.
tirto.id - Dini hari 26 Februari 2018, Andrew Parlian diminta mempersiapkan Andro, seekor anjing K9 milik KPU Bea Cukai Batam. Dilansir dari KompasTV (25/2), pada pukul 10 pagi, asisten Instruktur Unit K9 Bea Cukai Batam itu lantas membawa anjing binaannya ke atas kapal ikan KM 61870 Min Liang Yuyun pukul 10 pagi. Sebagai anjing pelacak yang memiliki keahlian spesifik di kapal, Andro disuruh mencari keberadaan narkoba jenis sabu-sabu.

Proses pelacakan dimulai dari buritan hingga haluan. Di bagian belakang hingga tengah, Andro tidak mengendus sesuatu yang mencurigakan. Tapi perhatiannya kemudian terusik oleh bau dari palka depan. Setelah Andro memberitahukan temuannya, petugas akhirnya berhasil mengungkap penyelundupan sabu seberat 1,6 juta ton di kapal berbendera Singapura tersebut.

Jasa Andro dinilai besar mengingat Indonesia saat ini sedang berperang melawan narkoba. Menteri Keuangan Sri Mulyani dan Kapolri Jenderal Tito Karnavian pun mengganjar usaha Andro dengan penghargaan medali beberapa hari lalu.

Sebelumnya, Andro sukses membongkar penyelundupan narkoba jenis sabu. Ia mampu menemukan 1 ton lebih sabu di KM Sunrise Glory. Barang ilegal itu ditemukan di tumpukan beras dalam palka tempat penyimpanan bahan makanan dan minuman.


K9 seperti Andro merupakan anjing yang dilatih secara khusus guna membantu polisi dan aparat penegak hukum lainnya. Guruh Prakatus Pamungkas menjelaskan bahwa K9 masuk dalam detasemen di bawah komando Direktorat Polisi Satwa bersama detasemen turangga (polisi berkuda) di Indonesia. Selain kepolisian, unit K9 juga dipekerjakan oleh badan-badan pemerintah lain seperti Satpol PP, BNN, dan Bea Cukai.

Anjing-anjing yang masuk unit K9 dilatih untuk memiliki keahlian tertentu. Anjing yang mempunyai spesialisasi di bidang pengendalian massa akan dilatih membubarkan atau menghalau massa. Sementara itu, anjing yang bertugas sebagai pelacak kriminal umum dilatih untuk mengendus pelaku tindak pidana kriminal umum. K9 yang ahli di bidang pelacak bahan peledak bakal dilatih khusus agar bisa mendeteksi bahan peledak. Terakhir, anjing khusus pelacak narkotika memperoleh latihan mengenali jenis-jenis narkoba.

Latihan yang dijalani anjing K9 terbilang panjang dengan tingkat kedisiplinan yang tinggi. Gena K. Gorrell lewat buku Working Like Dog: The Story of Working Dogs through History (2003) menjabarkan proses pembelajaran yang diberikan pada anjing K9 di sebuah organisasi pelatihan bernama Royal Canadian Mounted Police (RCMP). Pada tahap awal, anjing yang hendak dilatih mengikuti serangkaian pemeriksaan guna mengecek kesehatan, perangai, dan ketekunannya memahami bau. Beratnya latihan anjing ditujukan untuk mengasah aspek kecermatan, agar ujian dapat menyelesaikan ujian dengan baik.


Selama lebih dari tiga bulan, anjing-anjing K9 dilatih untuk menguasai beberapa keahlian seperti ketaatan, ketangkasan, pelacakan, pencarian gedung dan gang, serta penangkapan kriminal. Mereka juga dilatih untuk menemukan senjata api, benda kecil, dan orang hilang. Sebagian besar anjing diajari mendeteksi obat, sedangkan beberapa di antaranya belajar mendeteksi bahan peledak.

Untuk menguasai semua kecakapan tersebut, tiap anjing wajib menjalani tiga tahap latihan. Pada tahapan pertama, ia belajar ketaatan dan cara menangkap pelaku kriminal. Pelatih akan memberikan perintah seperti “duduk”, “tiarap”, juga “belok kiri atau kanan”. Ketika giliran waktu belajar menangkap pelaku kriminal, pelatih akan membalut lengannya kemudian menyuruh anjing tersebut untuk mengejar lalu menggigitnya.

Jika latihan tingkat pertama berhasil maka pelatih akan beralih ke tahap kedua. Si anjing akan disuruh memanjat satu rintangan lalu bergerak cepat menuju rintangan lainnya. Di kesempatan yang sama, pelatih memintanya melintasi balok kayu yang panjang dan licin, atau jembatan kayu bergoyang. Anjing akan belajar mencari gedung, serta melacak orang dan benda (sarung tangan, dompet, atau senjata api). Jejaknya sengaja dibuat melewati area sibuk lengkap dengan gangguan dan rupa-rupa bau yang membingungkan agar kemampuan si anjing lebih terasah.

Tingkat kesulitan melacak orang dan benda diperbesar lagi ketika anjing dilatih di tahapan ketiga. Ia akan diuji mengikuti jejak di tempat ramai untuk merasakan kemacetan, bau manusia, anjing lain, makanan, dan sampah. Si anjing juga belajar keahlian khusus seperti mendeteksi narkoba atau bahan peledak.

Kisah Panjang Rekan Penegak Hukum

Kisah anjing yang turut bertugas dengan polisi bukanlah cerita kemarin sore. Nigel Allsop dalam buku K9 Cops: Police Dogs of The Word (2012) menjelaskan bahwa anjing polisi memiliki sejarah yang panjang.

Para penjaga pelabuhan di St. Malo, Perancis pertama kali menggunakan anjing untuk kerja-kerja kepolisian pada awal abad 14. Ada juga dokumen yang menunjukkan bahwa terdapat kebijakan pelarangan anjing—selain anjing besar—yang digunakan untuk tujuan pengamanan di Inggris pada abad ke-12 dan ke-13.



Pada abad ke-19, beberapa negara seperti Inggris, Belgia, Perancis, Hungaria, Austria, dan Italia menempatkan anjing di kesatuan kepolisian. Kesadaran masyarakat Eropa akan manfaat anjing polisi meluas pada 1859, ketika polisi di Ghent, Belgia, memanfaatkan anjing untuk patroli malam. Ghent merupakan kota pertama yang diketahui memiliki sekolah pelatihan anjing untuk kerja-kerja penegakan hukum.


Di Inggris, London’s Metropolitan Police menggunakan dua anjing pelacak untuk memburu pembunuh Jack The Ripper yang membantai korban-korbannya di distrik Whitechapel pada 1888. Sementara itu, 600 kota di Jerman menggunakan polisi anjing setelah mengadakan studi banding ke Ghent pada 1910.

Penggunaan anjing polisi pun terus eksis hingga abad 20. Pada 1908, North Eastern Railway Police membentuk seksi anjing polisi yang dikenal luas di Inggris. Namun selepas Perang Dunia I, perhatian pihak kepolisian pada keberadaan anjing polisi berkurang. Ia dianggap berguna jika biaya perawatan dan pelatihannya tidak membengkak. Di waktu yang sama, sebuah sekolah pelatihan anjing polisi dibangun di Jerman pada 1920.

Pada 1930an, kepolisian Inggris kembali menyadari potensi anjing. Sebuah sekolah pelatihan anjing eksperimental didirikan di sebuah dusun bernama Wash Water. Pada 1946, London’s Metropolitan Police mendirikan seksi kecil anjing polisi. Empat tahun berselang, total anjing yang dimiliki oleh kesatuan kepolisian tersebut mencapai 90 ekor.

Baca juga artikel terkait ANJING atau tulisan menarik lainnya Nindias Nur Khalika
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Nindias Nur Khalika
Penulis: Nindias Nur Khalika
Editor: Windu Jusuf
DarkLight