14 Januari 1965

Angkatan Kelima: Diusulkan PKI, Ditolak Angkatan Darat

Oleh: Petrik Matanasi - 14 Januari 2018
Dibaca Normal 2 menit
Membuang cangkul.
Buruh dan tani siap
di garis tempur.
tirto.id - Patung Tugu Tani Jakarta. Di antara dua sosok yang berdiri, salah satunya menampilkan seorang petani memakai caping di kepala dan celana pendek. Tubuhnya kekar pula. Menariknya, petani itu tak sedang pegang cangkul. Di pinggang kanan, ada sebuah holster tempat pistol. Sementara tangan kirinya memegang tali senapan yang disandang di belakang badan. Banyak yang menyebut patung ini terkait isu Angkatan Kelima.

Di tahun 1965, Indonesia sudah punya empat angkatan. Sejak 1962, Kepolisian Negara Republik Indonesia sudah diintegrasikan ke dalam Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) bersama Angkatan Darat, Angkatan Laut, juga Angkatan Udara. Kehadiran Angkatan Kelima, yang terdiri dari buruh dan tani, tak akan jauh beda dengan Angkatan Darat.

Baca juga: Dwifungsi ABRI dan Jalan Terbuka Politik Tentara

Menurut Subandrio dalam Kesaksianku Tentang G30S (2000), “Baru sekitar awal tahun 1965 Bung Karno punya ide membentuk Angkatan Kelima. Tujuannya adalah untuk menampung bantuan senjata dari RRT. Saat itu persenjataan untuk empat angkatan (Angkatan Darat, Angkatan Laut, Angkatan Udara, dan Angkatan Kepolisian) dianggap sudah cukup” (hlm. 19).

Catatan lain, seperti dari harian sore Warta Bhakti (14/1/1965) pada artikel berjudul "PKI usulkan 15 djuta massa tani dan buruh dipersendjatai", menyebut Partai Komunis Indonesia (PKI) juga punya ide itu di awal 1965. Hal tersebut disampaikan Ketua Comite Central (CC) PKI D.N. Aidit sebelum menghadap Presiden pada 14 Januari 1965, tepat hari ini 53 tahun silam.

Baca juga: Tokoh PKI dan Orang Kiri yang Jadi Pahlawan Nasional

Isu Angkatan Kelima kemudian berkembang. Bahkan berita itu sampai ke telinga Perdana Menteri Cina Zhou En Lai. Menurut M.C. Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern 1200-2008 (2008), pada April 1965, Zhou En Lai sendiri yang datang ke Indonesia. "Pihak Tiongkok secara terang-terangan mendesak supaya dibentuk Angkatan Kelima, tetapi pihak Angkatan Darat bergerak lamban" (hlm. 577).

Kondisi Indonesia yang sedang berkonfrontasi dengan Malaysia dan Inggris, menurut catatan John Rossa dalam Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Suharto (2007), membuat “PKI berani menuntut agar ribuan, jika bukan jutaan, rakyat sipil dipersenjatai dan diorganisasi sebagai angkatan kelima.”

Baca juga: Arsip Rahasia AS: Hoax Mao Zedong Terlibat G30S

Dalam kunjungan pada awal 1965 itu, Zhou En Lai menawarkan bantuan 100.000 senjata ringan kepada Indonesia. “Setelah tiba di tanah air, tawaran bantuan senjata tersebut dilaporkan kepada Presiden/Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) di hadapan rapat KOTI (Komando Operasi Tertinggi),” aku Omar Dani dalam buku pleidoinya, Tuhan, Pergunakanlah Hati, Pikiran dan Tanganku (2001: 43).

Belakangan, Omar Dani kena tuduh telah mengambil 25.000 pucuk senjata yang dijanjikan Zhou En Lai. Meski menyangkal bahwa membawa senjata sebanyak itu dalam sebuah penerbangan tidaklah cukup.

Baca juga:

Penolakan Angkatan Darat

“Angkatan Darat mula-mula memberikan reaksi yang mendua,” tulis Ulf Sundhaussen dalam Politik Militer Indonesia 1945-1967: Menuju Dwi Fungsi ABRI (1986: 339). AD menyerahkan keputusan tentang pembentukan Angkatan Kelima kepada Pemimpin Besar Revolusi (Presiden Sukarno). Tapi kemudian, ide itu pun ditentang.

Angkatan Kelima tak akan jauh berbeda dengan Angkatan Darat reguler yang sudah ada. Pada 1965, AD dipimpin Letnan Jenderal Ahmad Yani dengan nama jabatan Menteri/Panglima Angkatan Darat (Menpangad). Angkatan Darat kala itu setara sebuah departemen atau kementerian. Yani dan jenderal-jenderal Angkatan Darat pada umumnya anti-komunis. Mereka menentang pembentukan Angkatan Kelima.

“Membentuk departemen Angkatan V (Kelima) tak efisien,” kata Yani, seperti dikutip Antara (28/7/1965).

Yani secara tegas menyatakan ketidaksetujuannya atas usul Aidit itu. Selain dianggap tidak efisien, pasukan sipil bersenjata sudah ada dalam wujud Pertahanan Sipil (Hansip).

"[Yani] berpendapat bahwa pembentukan Angkatan Kelima seperti yang digagaskan oleh Ketua CC-PKI tersebut tidak efisien, lebih-lebih ada satuan Pertahanan Sipil (Hansip) yang mampu menampung gagasan semacam laskar-laskar tersebut," catat Atmadji Sumarkidjo dalam Mendung Di Atas Istana Merdeka: Menyingkap Peran Biro Khusus PKI dalam Pemberontakan G30S (2000: 122).

Baca juga: Parade Paramiliter dalam Sejarah Indonesia


infografik mozaik angkatan kelima


Selain itu, seperti dikutip Sundhaussen dari Pikiran Rakjat (26/6/1965), Yani pernah bilang: “Apabila Nekolim menyerang, seluruh rakyat Indonesia akan dipersenjatai, tak hanya kaum buruh dan tani.” Bukan tidak mungkin Angkatan Kelima juga bisa berbahaya bagi AD.

Rencana Angkatan Kelima tak pernah terwujud. Jika pun ada orang-orang di luar ABRI yang dipersenjatai, kemungkinan adalah Sukarelawan Dwikora yang hendak diterjunkan ke konfrontasi dengan Malaysia. Di antara sukarelawan itu terdapat juga anggota Pemuda Rakyat—yang berafiliasi dengan PKI.

Para anggota Pemuda Rakyat yang telah dipersenjatai itu dilatih secara militer di Lubang Buaya. Apesnya, mereka dilibatkan dalam penculikan para jenderal dalam malam jahanam Gerakan 30 September 1965. Maka cemar sudah apa yang disebut Angkatan Kelima itu.

Baca juga laporan in-depth Tirto tentang Peristiwa G30S:

Keberadaan Angkata Kelima bisa saja tak jauh beda dengan Schutzstaffel (SS) NAZI di Jerman ketika Adolf Hitler berkuasa. SS merupakan matra darat kedua setelah Wehrmacht (Angkatan Darat) yang lebih dulu ada. SS sendiri adalah kesatuan yang sangat loyal kepada Hitler. Sementara dari Wehrmacht terdapat orang-orang yang hendak berusaha membunuh Hitler macam Kolonel Claus von Stauffenberg pada 1944.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Politik)

Reporter: Petrik Matanasi
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Ivan Aulia Ahsan
* Data diambil dari 20 top media online yang dimonitor secara live