Ada Karakter Kuat di Balik Gaun Meghan Markle

infografik royal wedding meghan dan harry
Meghan Markle tiba di Kapel St. George di Kastil Windsor untuk melangsungkan pernikahan dengan Pangeran Harry di WIndsor, Inggris, Sabtu (19/5). ANTARA FOTO/Jane Barlow/Pool via REUTERS/djo/18
Oleh: Joan Aurelia - 20 Mei 2018
Dibaca Normal 2 menit
Gaun Meghan banyak dikritik karena dianggap terlalu sederhana.
tirto.id - Sampai di momen pernikahan pun, Meghan Markle masih saja dihujat banyak orang. Sesaat setelah ia keluar dari mobil dan berjalan menaiki tangga gereja, warga net langsung menyampaikan komentar-komentar di media sosial tentang gaun pernikahan Meghan. Sejumlah media gaya hidup wanita menulis berita yang khusus menampilkan opini negatif. Harper’s Bazaar memuat pendapat yang terkumpul di Twitter lewat tagar #royalwedding. “MEMBOSANKAN” dan “tidak pas badan” jadi kata-kata yang kerap diucap. Cosmopolitan, mengutip pendapat warga net yang sedikit lebih pedas, antara lain, “Gaunnya sangat standar. Kalau kamu memakai uang pajak saya, tolong gunakan untuk sesuatu yang lebih baik dari itu.”

Gaun Meghan memang mudah mengundang anggapan bahwa ia kedodoran. Di samping itu, bentuknya sederhana dan sangat sopan.Tidak ada detail yang perlu diperhatikan karena gaun dibuat tanpa motif. Estetika dipasrahkan pada sutra yang jadi material utama busana. Kerah berbentuk seperti perahu atau boat neck, lengan ¾ yang menyiratkan kesan modern, dan ekor yang panjangnya tidak spektakuler.

Tapi itulah Givenchy, yang didirikan oleh desainer asal Paris Hubert de Givenchy pada tahun 1952. Givenchi adalah satu label busana yang lahir saat ranah mode premium di Paris hendak bangkit dari keterpurukan akibat Perang Dunia. Saat itu Givenchy telah dipandang sebagai salah satu desainer potensial.


Obsesinya ialah membuat gaun bagi wanita. Saat itu ia menjual busana lebih murah ketimbang rekan sesama desainer tersohor seperti Christian Dior, Cristobal Balenciaga, Jeanne Lanvin, Chanel, dan Elsa Schiaparelli.

Pada artikel obituari Givenchy, New York Times mencantumkan pendapat kritikus mode yang menyebut bahwa Givenchy mampu merancang desain busana menarik yang tidak lekang waktu. Givenchy selalu beranggapan bahwa membuat gaun ialah hal yang sulit.

“Kamu harus membuatnya terlihat sederhana. Tampilan terbaik seorang wanita lahir dari busana yang sederhana,” katanya.

Cara mudah melihat hasil rancangannya ialah dengan mengetik ‘gaya Audrey Hepburn’ di mesin pencarian. Gaun-gaun yang ada di Breakfast at Tiffanny, Sabrina, The Academy Awards, gaun pernikahan, sampai busana yang tampil di halaman majalah mode ialah karya Givenchy.

Pada edisi tahun 1960-an, Vogue pernah menampilkan foto-foto Audrey di halaman mode. Ia mengenakan paduan blus- celana dan blus- rok panjang. Baju-baju itu tidak memperlihatkan tubuh mungil Audrey. Lengannya ¾ atau panjang, kerah berbentuk boat neck, dan bahan yang terlihat mengilap dan tak mudah kusut. Di mata Hepburn, Givenchy ialah satu-satunya desainer yang bisa membuat busana sesuai dengan karakter dirinya. Di mata Givenchy, Hepburn berbeda dari aktris lain karena ia suka sesuatu yang sederhana.



Hubert de Givenchy wafat pada bulan Maret 2018. Sebenarnya ia sudah pensiun sebagai direktur kreatif label buatannya sejak tahun 1995. Bisnis busananya bisa terus berjalan karena berada di bawah naungan grup retail Louis Vuitton Moet Hennessy (LVMH). Beruntung Givenchy menjual labelnya pada grup retail besar ini pada tahun 1988. Desainer-desainer muda tahun 1990-an seperti John Galliano, Alexander McQueen, dan Ricardo Tisci sempat menggantikan posisi Givenchy. Mereka menerapkan gaya desain tersendiri dalam merancang busana. Pada masa-masa tersebut, busana produksi Givenchy jadi tidak melulu polos.

Pada akhir tahun 2017, Clare Waight Keller dinobatkan sebagai direktur kreatif Givenchy. Ia berdarah Inggris dan menjadi wanita pertama yang memimpin label Prancis ini. Lewat karyanya, Keller ingin memberi penghormatan pada Hubert. Kepada Business of Fashion, Bernard Arnault, CEO LVMH pernah berkata, “Saya percaya ia sanggup membawa Givenchy ke babak baru lewat langkah-langkah yang unik.”

Philipe Fartunato, CEO Givenchy Couture mengatakan, “Saya menanti momen-momen Clare menuangkan sisi elegan dan modernnya lewat eksplorasi desain Givenchy yang telah berusia 65 tahun.”

Setelah mengeluarkan koleksi musim semi 2018, yang salah satunya nampak seperti desain awal Givenchy untuk Audrey, sampailah Keller pada momen-momen diskusi bersama Markle. Satu hal yang jadi bahan diskusi intens adalah veil atau kerudung, bagian busana yang memuat elemen kerajaan Inggris. Kerudung dibuat lima meter dari bahan sutra tulle. Bagian bawahnya dihiasi bordiran berbagai jenis bunga seperti Wintersweet dan California Poppy yang tumbuh di 53 area yang jadi bagian persemakmuran Inggris.

“Bunga mewakili peran Markle dan Harry sebagai duta Inggris Raya,” tulis New York Times dalam artikel berjudul ‘Meghan Markle’s Wedding Dress Was Made for a Person, Not a Princess’.

Meghan menyadari posisinya sebagai mantan janda berkebangsaan Afro-Amerika yang dipinang oleh pangeran. Ia paham bagaimana harus membawa diri di tengah Ratu Inggris, keluarga Kerajaan, dan tamu-tamu bangsawan mereka. Dan busana yang ia pakai di hari pernikahan itu adalah perwujudan dirinya.


Baca juga artikel terkait PERNIKAHAN PANGERAN HARRY atau tulisan menarik lainnya Joan Aurelia
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Joan Aurelia
Editor: Joan Aurelia
DarkLight