Mencari Cincin Terbaik Untuk Pernikahanmu

Oleh: Joan Aurelia - 18 April 2018
Dibaca Normal 3 menit
Berlian sering jadi andalan untuk cincin pernikahan. Namun sekarang banyak anak muda mencari cincin nikah yang lebih murah dan unik.
tirto.id - Frances Gerety ialah sosok yang membuat berlian menjadi benda idaman banyak wanita. Ia menciptakan kalimat A Diamond is Forever yang tertera di material promosi produsen perhiasan berlian De Beers pada 1943. Saat itu De Beers sedang menempuh cara untuk bangkit dari kerugian selama 20 tahun yang diakibatkan oleh krisis ekonomi global. Sejak didirikan pada tahun 1888 sampai masa krisis keuangan dunia selesai, lini perhiasan ini tidak begitu populer. Masyarakat hanya memandang berlian sebagai barang super eksklusif.

Kalimat Gerety membuat De Beers meraih keuntungan dan menguasai pangsa pasar. Gerety bikin berlian jadi benda yang harus ada dalam sebuah pernikahan. Dalam waktu kurang dari 10 tahun, muncul perkataan ‘seorang wanita belum bisa dikatakan sudah bertunangan kecuali ia telah mengenakan cincin berlian’. Kata-kata itu diucapkan oleh para pedagang perhiasan di Amerika Serikat. Kepopuleran De Beers sampai ke Jepang, Tiongkok, dan India.

Kesuksesan itu membuat De Beers terus merekrut Gerety. Wanita yang saat itu bekerja pada perusahaan periklanan N.W.Ayer ini kemudian membuat kalimat promosi yang makin menandakan berlian yang tak lekang zaman seperti ‘Wear our diamonds as the night wears its stars, ever and always.... for their beauty is as timeless.’


De Beers berjaya sampai sekarang. Mereka punya andil besar pada banyaknya berlian yang ditatah pada cincin kawin. Tahun lalu, mereka mengalokasikan dana 140 juta dolar untuk pemasaran. Sekilas tampak amat besar, tapi jumlah ini ideal bagi De Beers mengingat potensi konsumen milenial yang sedang tumbuh pesat.

“Berlian bukan tentang hal yang mampu dibeli, tetapi tentang hal yang diinginkan. Kesan itu yang hendak kami ciptakan,” kata Nimesh Patel, Chief Financial Officer De Beers yang tengah berupaya menarik minat 400 juta milenial di Tiongkok dan India.

Saat De Beers berupaya meraih pasar milenial, WP Diamonds, platform jual beli perhiasan melakukan penelitian yang hasilnya menunjukkan perilaku beberapa milenial terhadap berlian. Dalam penelitian itu disebutkan bahwa ternyata 37 persen milenial berniat menjual cincin tunangan untuk membiayai keperluan lain yang dianggap lebih penting. Bahkan 55 persennya menjual berlian dan perhiasan sentimental lain untuk kepentingan masa depan. Ini bisa dianggap kabar buruk bagi perusahaan berlian, sebanyak 69 persen responden milenial mempertimbangkan cincin alternatif selain dari berlian.

"Jelas ada perubahan ke arah pilihan alternatif yang pada akhirnya memengaruhi industri berlian dan pertumbuhannya. Bahkan mereka yang ingin cincin bagus lebih memilih pasar cincin bekas untuk membeli cincin dengan harga yang lebih masuk akal," kata Andrew Brown, Presiden WP Diamonds.

Perkataan Andrew serupa dengan yang terjadi di dalam negeri. Di samping keberadaan toko-toko perhiasan premium, muncul jenis usaha kecil menengah yang memperdagangkan cincin pernikahan dan pertunangan. Mereka memasarkan dagangan secara daring. Medium yang efektif digunakan ialah Instagram. Jenis usaha ini menarik bagi kaum milenial.

“Saya melihat desain cincin pernikahan sekarang sudah begitu eksploratif. Trennya simpel minimalis. Saya setuju dengan tren ini karena sebenarnya nikah itu nggak ribet jadi harusnya printilan semacam cincin juga tidak boleh bikin ribet. Harganya pun sekarang banyak yang terjangkau. Bisa buat sendiri juga desainnya,” kata Pritha Moniaga yang akan menikah tahun ini. Ia membuat daftar produsen cincin pernikahan yang akan didatangi di antaranya Rock.ologist dan Hunt of Hounds .

Infografik Cincin Kawin


Rock.ologist diresmikan pada tahun 2016. Kini usaha milik Muhamad Arsya ini melayani 40-50 pesanan cincin pernikahan setiap bulan. Harga sepasang cincin mulai dari Rp2,2 juta. Konsumernya berusia 21- 27 tahun. Arsya menggunakan material perak, kuningan, dan tembaga. Selain memakai berlian lokal, ia juga mengimpor dari Amerika Serikat, Kongo, India, dan Thailand.

“Saya impor yang ukuran karatnya kecil. Saya jual mulai dari harga Rp1,3 juta. Lewat merek ini saya ingin menunjukkan ke publik bahwa ada berlian asli yang harganya terjangkau," kata Arsya.

Bisnis itu bermula dari desain cincin pernikahan yang ia buat sendiri. Tema yang ia pakai bertema rustik. Saat itu sepuluh hari sebelum pernikahan, ia masih terus mencari. Arsya ingin cincin yang memiliki tekstur kulit kayu. Sedangkan istri ingin cincinnya berbentuk ranting yang dilengkapi satu berlian.

Ketika cincinnya selesai, banyak kawan-kawannya yang tertarik dengan desain buatannya. Kesempatan itu ditangkap oleh Arsya dengan menjalankan bisnis cincin pernikahan. Sampai saat ini ia banyak menerima pesanan cincin berwarna abu-abu tua atau hitam dengan satu berlian yang bentuknya tidak dipoles atau dipotong rapi.

“Bisa jadi berlian masih diminati karena asal katanya yang mengandung makna tidak terhancurkan. Berlian juga dianggap sebagai batu paling keras karena hanya bisa dipotong atau dibentuk oleh sesama berlian,” ujarnya.

Sebanyak 80% konsumer Rock.ologist lebih suka mencontoh desain perhiasan yang sudah pernah Arsya buat. Kini ia tengah mengeksplorasi jenis desain lain di luar rustik. Ia tertarik untuk mengembangkan pola geometris. Menurut Arsya desain tersebut berpotensi jadi tren di kemudian hari.


Selain Rock.ologist, ada pula Hunt of Hounds. Nama merek ini makin santer terdengar setelah produknya dipakai oleh penyanyi Andien. Pendiri merek ini adalah Sabrina Johnson, orang Indonesia yang tinggal di Kanada dan membuat cincinnya di Bali.

Saat ini, Hunt of Hounds rata-rata membuat cincin pernikahan sebanyak dua hingga tiga pasang dalam seminggu. Material yang digunakan ialah sterling silver dan emas murni 10, 14, 18, dan 22 karat. Berlian yang kini laris digunakan ialah grey diamond dan salt and pepper diamond.

“Kualitasnya sering dianggap rendah tapi sebenarnya punya durabilitas yang sama dengan flawless diamond. Tampilannya lebih unik dan natural. Tidak ada yang sama,” kata Sabrina lewat surel.

Pelanggan yang datang padanya ialah orang yang tidak bisa menemukan model cincin pernikahan di toko perhiasan besar. Sabrina mengaku pantang membuat cincin dari model yang sudah pernah ada di pasaran. Ia menawarkan konsumer jasa custom from scratch. Sabrina mengerjakan sendiri ide dan sketsa perhiasan untuk konsumen.

“Karena bagi saya, cincin pernikahan itu harus personal, penuh arti, dan kuat.”

Baca juga artikel terkait PERNIKAHAN atau tulisan menarik lainnya Joan Aurelia
(tirto.id - Gaya Hidup)

Reporter: Joan Aurelia
Penulis: Joan Aurelia
Editor: Nuran Wibisono