3 Penyakit yang Diakibatkan Kekurangan Protein pada Anak

Kontributor: Lucia Dianawuri, tirto.id - 2 Mei 2023 11:47 WIB
Dibaca Normal 1 menit
Penyakit kekurangan protein pada anak, dari kwashiorkor, marasmus, hingga kwashiorkor marasmik.
tirto.id - Protein adalah nutrisi penting yang amat dibutuhkan oleh tubuh, terutama anak-anak yang masih dalam tahap pertumbuhan.

Menurut Kemkes, protein adalah zat pembangun yang penting dalam siklus kehidupan manusia.

Protein berguna untuk membangun tubuh dan mengganti sel tubuh yang rusak, reproduksi, mencerna makanan, serta kelangsungan proses normal dalam tubuh.

Beberapa fungsi protein di antaranya adalah:

  • Membentuk jaringan tubuh, terutama dalam masa pertumbuhan dan perkembangan tubuh;
  • Memelihara jaringan tubuh;
  • Memperbaiki serta mengganti jaringan tubuh yang rusak atau mati.
Kamu bisa menemukan protein pada berbagai jenis lauk pauk, seperti ikan, telur, unggas, daging, susu,kacang-kacangan serta hasil olahannya seperti tahu maupun tempe.

Penyakit Akibat Kekurangan Protein pada Anak


Sindrom utama atau gangguan kesehatan, sebagaimana merujuk Pressbooks, yang terjadi akibat kekurangan protein adalah:


1. Kwashiorkor

Ilustrasi Kekurangan Protein
Ilustrasi Sakit Kekurangan Protein Kwashiorkor. foto/istockphoto


Kwashiorkor adalah penyakit yang terjadi akibat kekurangan protein dan telah mempengaruhi jutaan anak di seluruh dunia.

Nama Kwashiorkor berasal dari sebuah bahasa di Ghana yang berarti, “yang ditolak.” Penyakit ini dinamai “yang ditolak” karena kwashiorkhor paling sering terjadi pada anak-anak yang baru saja disapih dari ASI.

Setelah anak-anak berhenti mendapatkan ASI, anak itu kemudian diberi makan bubur encer yang biasanya terbuat dari biji-bijian rendah protein.

Inilah yang menyebabkan rendahnya asupan protein pada balita yang harusnya masih dalam fase pertumbuhan.

Kwashiorkor ditandai dengan sejumlah gejala, seperti:

  • Pembengkakan atau edema pada kaki dan perut
  • Kesehatan kulit menjadi sangat buruk
  • Anak mengalami keterlambatan pertumbuhan
  • Massa otot sangat rendah
  • Anak mengalami kerusakan hati
Gejala utama Kwashiorkor biasanya tidak hanya meliputi pembengkakan atau edema, namun juga muncul diare, kelelahan, kulit mengelupas, dan anak menjadi mudah tersinggung atau sangat perasa.

Selain defisiensi atau kekurangan protein yang parah, adanya defisiensi mikronutrien lainnya, seperti folat (vitamin B9), yodium, zat besi, dan vitamin C adalah berbagai faktor yang berkontribusi pada banyak gangguan kesehatan akibat dari sindrom ini.

2. Marasmus

Ilustrasi Kekurangan Protein
Ilustrasi Sakit Kekurangan Protein Marasmus. foto/istockphoto


Marasmus adalah kata dari bahasa Yunani, yang berarti "kelaparan." Sindrom ini memengaruhi lebih dari lima puluh juta anak di bawah usia lima tahun di seluruh dunia.

Marasmus memengaruhi sebagian besar anak-anak di bawah usia satu tahun di negara-negara miskin.

Berat badan anak-anak yang mengalami Marasmus bisa mencapai 80 persen lebih rendah dari anak normal pada usia yang sama.

Gejala marasmus di antaranya adalah:

  • Tubuh anak menjadi sangat kurus
  • Kesehatan kulit juga sangat buruk
  • Anak mengalami keterlambatan pertumbuhan
  • Anak sering mengalami kelelahan akut
  • Anak mengalami kelaparan
  • Diare parah
3. Kwashiorkor marasmik

Ilustrasi Kekurangan Protein
Ilustrasi Sakit Kekurangan Protein. foto/istockphoto


Kwashiorkor marasmik adalah sindrom gabungan antara kwashiorkor dan marasmus.

Anak-anak dengan sindrom gabungan, kwashiorkor marasmik ini memiliki jumlah edema atau pembengkakan yang bervariasi, termasuk karakterisasi serta gejala marasmus.

Yang perlu dicermati dari penyakit akibat kekurangan protein ini adalah munculnya infeksi.

Penyebab utama kematian dari penyakit kekurangan protein ini adalah munculnya infeksi dalam tubuh anak.

Ketika seorang anak mengalami kekurangan protein dan mengalami malnutrisi atau kekurangan gizi, maka sistem kekebalan tubuhnya akan menurun pada berbagai tingkatan.

Akibatnya, anak-anak yang kekurangan gizi itu biasanya akan meninggal karena diare parah dan/atau radang paru-paru akibat infeksi bakteri atau virus.


Baca juga artikel terkait ANAK atau tulisan menarik lainnya Lucia Dianawuri
(tirto.id - Kesehatan)

Kontributor: Lucia Dianawuri
Penulis: Lucia Dianawuri
Editor: Dhita Koesno

DarkLight