Ziarah-Ziarah Suci

Umat Muslim berdoa di Padang Arafah. ANTARA FOTO/REUTERS/Ahmed Jadallah
Oleh: Maulida Sri Handayani - 12 September 2016
Dibaca Normal 2 menit
Perjalanan suci bukan hanya tradisi umat Islam. Agama lain pun punya tradisi berziarah.
tirto.id - Di tengah kemacetan, Reda membuka ponsel dan membaca pesan singkat. Sang Ayah memperhatikan dengan tatapan tak suka, lalu meneruskan dzikirnya. Kala lajur sebelah kirinya mulai lancar, Reda lekas mengoper persneling, membanting setir ke lajur itu, dan memacu sedan dengan kecepatan tinggi.

Sang Ayah menoleh dan bertanya, “Mengapa kau mengebut?”

“Orang yang tergesa-gesa itu hakikatnya sudah mati,” lanjutnya, sebelum menginjak paksa pedal rem yang hampir membikin mereka berdua celaka.

Adegan dan dialog itu ada dalam Le Grand Voyage (2004), film yang mengisahkan perjalanan haji seorang tua Perancis asal Maroko, yang disopiri anaknya, Reda. Orang tua ini bersikukuh berhaji dari Perancis ke Saudi mengendarai mobil dan memaksa anaknya menyetir, meski sang anak bertanya dengan penuh rasa kesal bercampur heran, “Mengapa Papa tak memakai pesawat seperti orang lain?!”

Pertanyaan itu diulangi lagi di tengah peristirahatan perjalanan, kali ini minus kedongkolan, di mana Sang Ayah menjawab, “Saat air laut naik ke langit, ia akan kehilangan rasa asinnya agar jadi murni kembali.”

“Air laut menguap saat ia naik menuju awan. Dan saat air laut menguap, ia menjadi tawar. Itu alasan mengapa lebih baik melakukan perjalanan haji dengan berjalan kaki ketimbang naik kuda, dan lebih baik naik kuda ketimbang mengendarai mobil, dan lebih baik mengendarai mobil ketimbang naik kapal, dan lebih baik naik kapal ketimbang memakai pesawat.”

Reda yang sudah “menjadi Perancis”, tampaknya tak bisa benar-benar mencerap maksud ucapan itu, meski kelak ia sedikit demi sedikit paham: perjalanan ini sungguh-sungguh istimewa bagi Sang Ayah.

Tradisi Ziarah

Haji memang ibadah istimewa. Meski tercatat sebagai satu-satunya rukun Islam yang memakai prasyarat “jika mampu,” para pengiman tak membiarkan dirinya menyerah kala prasyarat itu sulit tercapai.

Saat berada pada kondisi yang sulit, mereka mengupayakan diri agar sampai pada keadaan mampu. Yang tak cukup harta akan menabung seumur hidupnya, dan yang tak purna secara fisik akan mengajak orang yang bisa memandunya di tanah suci. Pada 2016 ini, Al Arabiya mencatat ada 1,8 juta muslim dari seluruh dunia yang datang ke Arab Saudi untuk beribadah haji.

Tak hanya Islam, agama-agama lain pun punya tradisi ziarah. Umat Yahudi, misalnya, merayakan Festival Tiga Ziarah atau Shalosh Regalim, yang terdiri dari Pesach (Paskah), Shavuot, dan Sukkot. Paskah Yahudi adalah peringatan pembebasan kaum Yahudi dari perbudakan oleh Mesir dan kemerdekaan mereka sebagai bangsa di bawah kepemimpinan Musa, yang biasa disebut sebagai peristiwa Eksodus. Dalam peringatan ini, umat Yahudi berziarah ke Kuil Suci yang berlokasi di Gunung Zion pada masa Kota Tua Yerusalem. Titik itu kini adalah situs mesjid Kubah Batu.

Umat Kristen juga berziarah ke “Tanah Suci” yang sama: Yerusalem. Kota ini adalah tempat bangkitnya Yesus ke surga. Ada juga Nazareth sebagai tempat kelahiran Yesus. Selain di Israel, orang Kristen pun berziarah ke Eropa, misalnya Roma.

Bagi umat Katolik, banyak juga yang berziarah ke Gua Maria di Lourdes, Perancis. Di tempat ini, diyakini Bunda Maria menampakkan diri pada gadis setempat Marie-Bernarde "Bernadette" Soubirous, yang kelak dikanonisasi menjadi santa.



Di luar tradisi Abrahamik di atas, agama-agama lain punya tempat ziarahnya sendiri. Agama Hindu punya tempat-tempat ziarah juga, meski bukan sebagai kewajiban seperti dalam agama-agama Abrahamik.

Tempat-tempat ziarah Hindu tersebar di beberapa tempat di India, misalnya empat situs suci—Puri, Rameswaram, Dwarka, dan Badrinath—yang membentuk kompleks peziarahan Char Dham. Situs ini dianggap sangat suci dan sangat direkomendasikan bagi umat Hindu untuk menziarahi tempat suci ini.

Selain Char Dam dan beberapa situs lain di India, ada juga situs-situs peziarahan di negara-negara lain, misalnya di Nepal, Cina, dan Indonesia. Pura Besakih di Bali dan Candi Prambanan di Solo adalah tempat ziarah Hindu yang cukup populer di Indonesia.

Umat Buddha, yang lahir setelah agama Hindu, setidaknya punya empat tempat ziarah, yakni Lumbini, Bodh Gaya, Sarnath, dan Kusinara. Lumbini, situs ziarah yang berada di Nepal, adalah lokasi di mana Buddha dilahirkan.

Tempat ziarah selanjutnya, Bodh Gaya, berlokasi di Kuil Mahabodhi, Bihar, India. Tempat ini diyakini sebagai tempat Buddha mendapat Pencerahan. Adapun Sarnath, berlokasi di Isipathana, Uttar Pradesh India. Di sini, Buddha menyampaikan ajaran-ajaran pertamanya. Terakhir adalah Kusinara yang berlokasi di Kushinagar, Uttar Pradesh, India. Lokasi peziarahan ini merupakan tempat meninggalnya Buddha.

Seperti Sang Ayah di dalam film Le Grand Voyage, para peziarah dalam semua spektrum keyakinan ini menganggap penting perjalanan-perjalanan mereka. Pekerjaan dan rutinitas ditinggalkan sementara demi kembali pada sesuatu yang dianggap sebagai “yang asali.” Mereka berangkat membawa keimanan, dengan harapan bertemu dengan apa yang dianggap hakikat dari keimanan itu.

Maka, para pengiman itu mengharuskan diri melakoni perjalanan-perjalanan religius ini sebelum mati. Sebab, ini adalah ziarah suci. Ini adalah le grand voyage: perjalanan akbar.

Baca juga artikel terkait HAJI atau tulisan menarik lainnya Maulida Sri Handayani
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Maulida Sri Handayani
Penulis: Maulida Sri Handayani
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
DarkLight