YLKI Ingatkan Konsumen Jangan Terjerat Diskon Abal-abal Promo 11.11

Oleh: Vincent Fabian Thomas - 11 November 2019
Dibaca Normal 1 menit
YLKI mengingatkan masyarakat perlu bersikap kritis dan rasional menanggapi diskon yang ada agar tidak menjadi bumerang bagi konsumen.
tirto.id - Promo diskon besar-besaran di tempat belanja online digelar pada 11 November atau biasa disebut dengan festival 11.11. Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Tulus Abadi mengingatkan masyarakat perlu bersikap kritis dan rasional menanggapi diskon yang ada agar tidak menjadi bumerang bagi konsumen.

“Jangan terjerat bujuk rayu diskon, sebab banyak diskon hanyalah gimmick marketing, alias diskon abal abal,” ucap Tulus dalam keterangan tertulis yang diterima reporter Tirto, Minggu (10/11/2019).

Tulus mengatakan masyarakat perlu mencermati diskon yang diberikan sekaligus barang yang dibandrol murah pada promo 11.11. Ia bilang jangan sampai diskon malah membuat masyarakat semakin konsumtif dan malah membeli barang di luar kebutuhan.

Peringatan ini menurut Tulus menjadi penting karena tren belanja konsumtif kali ini mulai mengarah pada penggunaan fasilitas paylater alias mekanisme pembayaran kredit tetapi disediakan oleh penyedia dompet digital dan marketplace. Bila tidak hati-hati, ia khawatir konsumen malah terjerat utang.

Peringatan lainnya adalah terkait pelapak yang memanfaatkan situasi promo dan diskon untuk menipu. Tulus mengatakan selama 5 tahun terakhir, belanja online menduduki peringkat ketiga besar sebagai persentase pengaduan tertinggi yang sering ia terima. Bentuk keluhannya seringkali berkisar pada barang yang dibeli tidak sampai di tangan konsumen.

“Cermatilah profil pelaku usaha dari marketplace yang menawarkan belanja online yang bersangkutan. Jangan sampai konsumen dirugikan oleh transaksi belanja online dari marketplace yang tidak kredibel,” ucap Tulus.

Menyikapi masalah ini, Tulus juga mengingatkan pelaku usaha agar membuat promosi dan iklan yang bertanggung jawab. Ia bilang taktik marketing untuk menggaet sah-sah saja, tetapi perlu mematuhi regulasi terutama aspek perlindungan konsumen.

“Bukan malah sebaliknya, iklan dan promosi yang membius konsumen yang beda beda tipis dengan aksi penipuan,” ucap Tulus.

Festival 11.11 biasa disebut Single Day. Single Day atau di Cina dikenal dengan sebutan Guanggung Jie atau Shuang Shiyi sudah berlangsung dua hari lalu. Hari ini awalnya merupakan hari perayaan status jomblo yang diinisiasi mahasiswa Cina di dekade 1990an. Hari jomblo lahir manakala ada empat “1” di hari itu yang merujuk pada kesendirian.

Pada 2009, Alibaba, sang pemilik jejaring bisni toko online Taobao dan Tmall, mereplikasi Single Day menjadi hari belanja online. Mengajak para pemuda yang hidup sendirian memanjakan diri mereka dengan berbelanja. Secara online tentu saja. Sejak saat itu, tanggal 11.11 selalu identik dengan hari belanja online.

Indonesia sendiri juga memiliki Hari Belanja Online atau Harbolnas yang "diperingati" setiap tanggal 12 Desember atau disebut 12.12. Harbolnas Indonesia dibuat oleh para penyelenggara e-commerce di Indonesia. Ia diselenggarakan pertama kali pada tahun 2012 melalui inisiatif dari Lazada Indonesia, Zalora, Blanja, PinkEmma, Berrybenka dan Bukalapak. Harbolnas di tahun keenam, dengan lebih dari 250 e-commerce yang berpartisipasi.


Baca juga artikel terkait HARBOLNAS atau tulisan menarik lainnya Vincent Fabian Thomas
(tirto.id - Bisnis)

Reporter: Vincent Fabian Thomas
Penulis: Vincent Fabian Thomas
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
DarkLight