Harbolnas 10.10: Antara Kebahagiaan & Candu Beracun Belanja Online

Oleh: Yulaika Ramadhani - 10 Oktober 2019
Dibaca Normal 2 menit
Harbolnas dan belanja online memang melahirkan hormon kebahagiaan untuk tubuh, tapi kita harus waspadai juga efek beracunnya
tirto.id - Harbolnas atau Hari Belanja Online Nasional telah berlangsung mulai September hingga Desember dan jatuh pada tanggal-tanggal cantik seperti 9.9, 10.10, 11.11, dan 12.12.

Harbolnas adalah pesta belanja online di mana terdapat banyak promo dan diskon yang ditawarkan saat menjelang akhir tahun dan dirayakan secara bergantian setiap bulannya. Harbolnas bulan ini akan dirayakan pada Kamis 10 Oktober 2019.


Belanja online menjadi kesenangan sendiri karena lebih praktis dan efektif waktu. Tanpa harus datang ke toko yang ramai sembari mengantre lama, seseorang lewat gawainya bisa berselancar membeli bermacam-macam kebutuhan yang diinginkan. Dari produk makanan, pakaian, hingga paket jasa.

Selain itu, secara psikologi belanja online juga membuat seseorang merasa lebih bahagia.

Belanja Online Lahirkan Hormon Kebahagiaan untuk Tubuh

Alan Castel dalam Psychology Today menulis, belanja online mampu menaikkan hormon dopamin, yakni zat kimia yang membuat bahagia seseorang meningkat.

Meskipun dalam kenyataannya, barang-barang yang kita beli secara online tersebut tidak bisa didapatkan langsung saat itu juga. Namun, 'waktu menunggu barang datang' ini menyebabkan seseorang mempunyai pengalaman belanja yang menarik, yakni melahirkan apresiasi terhadap barang yang dibeli.

“Meskipun [belanja online] hanya berlangsung dalam waktu yang singkat, itu akan membuat kita tetap terikat pada seluruh proses. Yang mana konsumen terus menginginkannya, membutuhkannya, melihatnya, mengevaluasi, akhirnya memilih satu dari 3.485 pilihan sepatu, lalu menunggu, dan akhirnya menikmati kepuasan tersebut berulang-ulang,” tulis Alan.

Sebagaimana dilansir dari Forbes, penelitian dari perusahaan digital marketing Razorfish yang dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif pada sekitar 1680 orang di AS, Inggris, Cina, dan Brasil menyebutkan, tiga perempat peserta di setiap negara merasa bergantung pada teknologi dalam membeli sesuatu.

Hasil penelitian tersebut juga menyebutkan adanya efek bahagia ketika menunggu pembelian online tersebut. Selain itu, sebagian besar peserta melaporkan perasaan senang mereka ketika melakukan komunikasi melalui perangkat pribadi mereka. Seperti ketika mendapat notifikasi seperti mendapat email baru di kotak masuk terkait penawaran tertentu.

'Digital dopamin' ini memiliki peran penting dalam perkembangan e-commerce meningkatkan kualitasnya.

Karena itu, daya tarik hedonik dibuat dengan menumbuhkan kesenangan orang-orang seputar transaksi. Jika ingin dilihat kembali, situs belanja online hanya menyajikan sistem informasi menarik, namun juga promo-promo, iklan, trailer, dan sarana multimedia disesuaikan guna menggaet pembeli.

Michael Fishman ahli perilaku konsumen menyatakan bahwa psikologi konsumen adalah semua hal yang masuk ke wilayah bawah sadar seseorang di mana ia sedang diarahkan untuk melakukan pembelian karena ia tak memiliki alasan-alasan yang jelas.


Candu Negatif Belanja Online

Efek negatif yang perlu diwaspadai dari perilaku tak tahu dengan apa yang diinginkan adalah seseorang cenderung mencari persetujuan dan justifikasi atau pembenaran. Salah satunya dengan jalan membeli produk di luar kebutuhan konsumen.

Berikut kriteria pembeli yang bisa disebut sebagai online shopaholic atu seseorang yang kecanduan belanja online.
  • Kita memiliki banyak barang yang belum dibuka dan masih tersegel di lemari.
  • Kita dengan mudah membeli sesuatu yang sebetulnya tidak dibutuhkan atau tidak
  • Rasa frustasi yang mendorong keinginan berbelanja semakin besar sebagai upaya untuk mengisi kekosongan emosional, seperti kesepian, kurangnya kontrol, atau kurangnya kepercayaan diri.
  • Adanya perasaan menyesal setelah membeli barang, entah karena membeli terlalu banyak atau harga yang dibeli tidak sesuai (menemukan harga yang lebih murah dengan barang yang sama di toko sebelah).
  • Kita mencoba menyembunyikan kebiasaan belanja kita dari orang lain.
  • Merasa cemas bila tidak berbelanja dalam sehari saja.
Sementara itu, Psychology Today menyebut online shopaholic sangat berpengaruh bahkan di titik tertentu mampu mengganggu hubungan kita dengan orang lain, pekerjaan, dan tentunya menimbulkan masalah finansial.

Hal-hal di atas tidak mutlak dijadikan acuan untuk mengidentifikasi seseorang sebagai kecanduan belanja. Namun paling tidak, kita menjadi tahu batasan-batasan agar kita tahu tentang perilaku shopaholic. Berbelanja bukan suatu hal yang tidak baik selama kita mampu membentengi diri agar tidak berlebihan.

Sebagaimana dilansir US News, berikut ini adalah beberapa cara yang bisa kita lakukan agar terhindar dari berbelanja online yang adiktif:
  • Jika kita menerima notifikasi dari situs belanja online kita, jangan terburu-buru untuk melihat isinya, bahkan sebaiknya langsung hentikan berlangganan agar kita tidak lagi melihat situs yang membuat kita tergiur untuk berbelanja online.
  • Batasi internet kita untuk mengakses situs-situs belanja online kita. Bila perlu, minta salah satu orang untuk membuat kata sandi yang tidak kita ketahui sehingga kita akan kesulitan saat ingin membuka situs online shopping tersebut. Jangan lupa untuk menghapus history dari komputer supaya tidak tergoda untuk mencari-cari akses berbelanja online.
  • Alihkan perhatian kita dengan aktifitas lainnya, seperti berolahraga, berkumpul bersama keluarga dan teman-teman, membaca buku, dan hal-hal positif lainnya. Sesekali coba renungkan kembali, mengapa kita berbelanja? Apakah sekedar kesenangan atau memang kebutuhan? Refleksi diri menjadikan pikiran kita lebih tenang dan bijaksana dalam memutuskan sesuatu.
  • Cari bantuan jika kebiasaan berbelanja semakin sulit untuk dikendalikan. Belanja kompulsif dapat dikelola dengan bantuan terapi dan dukungan dari orang sekitar.
Menerapi diri sendiri dari hal yang bisa jadi tidak baik bagi kita memang tidaklah mudah. Akan tetapi ketika kita terus mencoba tanpa menyerah, bukan tidak mungkin, Harbolnas pun akan terlewati dengan bijaksana dan terasa lebih menyenangkan.


Baca juga artikel terkait HARBOLNAS atau tulisan menarik lainnya Yulaika Ramadhani
(tirto.id - Gaya Hidup)

Penulis: Yulaika Ramadhani
Editor: Agung DH
DarkLight