Yang Latin, Yang Emosional

Oleh: Akhmad Muawal Hasan - 14 Juli 2016
Dibaca Normal 3 menit
Negara-negara Amerika Selatan dan Tengah kebanyakan menghuni bagian tengah atau bawah rangking Produk Domestik Bruto (PDB) dunia. Namun mereka bisa menguasai peringkat puncak laporan Global Emotions 2015 versi Gallup. Artinya masyarakat berkebudayaan latin itu lebih leluasa dalam mengekspresikan baik emosi positif maupun negatif meskipun pertumbuhan ekonominya tergolong kurang progresif. Mengapa?
tirto.id - Ada damai di Sacre, Bolivia. Ibukota Bolivia ini didaulat sebagai salah satu kota paling aman dan nyaman untuk ditinggali.

“[Kota ini] Hangat, terbuka, suka menyambut orang asing, namun juga menimbulkan rasa penasaran yang besar,” ungkap Pauline Kucharew pelancong asli Kanada kepada reporter BBC Lindsey Galloway.

Kuhcarew tak melihat kecenderungan masyarakat Bolivia merasa inferior terhadap para pendatang. Hubungan antara pendatang dan penduduk asli berjalan egaliter tanpa tendensi pemujaan orang kulit putih khas efek post-kolonial. Suasana kota juga kental dengan nuansa Eropa. Banyak juga komunitas orang Inggris dan Jerman yang berbisnis restoran, bar, dan sekolah bahasa. Dengan kondisi semacam itu, Kucharew menjadi satu dari sekian banyak pelancong asing yang betah berlama-lama tinggal di Sacre.

Kultur itu terus dipertahankan di Sacre. Hasilnya, laporan Global Emotions dari Gallup menyatakan Bolivia sebagai negara paling emosional tahun 2015. Emosional di sini bukan bermakna luapan emosi negatif saja. Dalam laporannya, Gallup juga menyandarkan pada indikator emosi positif. Sikap ramah dan terbuka masyarakat Bolivia pun menjadi faktor utama mengapa anggota Komunitas Negara Andes itu memuncaki rangking Gallup.

Dalam penelitian tahun 2015 tersebut, Gallup melibatkan 153.000 responden dari 148 negara dengan 10 kuisioner dengan jawaban “ya” dan “tidak”. Pertanyaan itu dibagi untuk dipakai sebagai indikator pengukuran emosi positif dan pengukuran emosi negatif. Salah satu contoh pertanyaannya, misalnya, “Apakah kemarin Anda tersenyum atau tertawa?”, “Apakah kemarin Anda diperlakukan dengan hormat”, dan “Apakah kemarin Anda beristirahat dengan nyaman?”

Sedangkan beberapa pertanyaan untuk mengukur emosi negatif responden serupa yakni dengan menanyakan kabar di hari sebelumnya, namun dengan indikator perasaan-perasaan negatif. Misal, apakah mereka mengalami pengalaman-pengalaman yang menimbulkan perasaan khawatir, sakit, sedih, stres, atau marah? Hasil statistiknya ditotal dari rentang 0-100 persen.

Untuk pertama kalinya sejak Gallup mengeluarkan laporan tersebut dalam kurun 10 tahun terakhir, seluruh negara-negara Amerika Selatan dan Tengah menghuni posisi 10 besar dalam persentase kategori emosi positif. Laporan dari para responden mengindikasikan adanya tendesi kultural sebagai faktor utama tumbuh kembangnya emosi itu.

Kesepuluh negara Amerika Tengah dan Selatan itu antara lain Paraguay (89), Kolombia (84), Ekuador (84), Guatemala (84), Honduras (82), Panama (82), Venezueala (82), Kosta Rika (81), El Savador (81), dan Nikaragua (81). Selain perkara kultural, data tersebut bagi Gallup juga menjadi pertanda bahwa di kawasan Amerika Selatan dan Tengah masayarakatnya menikmati kebebasan personal serta jalinan sosial yang bermutu meskipun secara ekonomi tergolong miskin.

Sedangkan berdasarkan data kolaborasi kedua kategori positif maupun negatif, Bolivia sendiri mendapatkan persentase tinggi dengan hampir mendekati 60 persen dan mengungguli negara-negara lain di dunia. Rata-rata responden menjawa “ya” untuk kesepuluh pertanyaan kategori positif maupun negatif.

Artinya, penduduk Bolivia setiap hari memiliki luapan emosi baik positif maupun negatif dalam kadar tinggi. Bagi Gallup, hasil ini memang menunjukkan bias dalam jawaban responden, tetapi tetap menunjukkan betapa budaya masyarakat setempat tetap berpengaruh terhadap luapan emosi yang muncul ke permukaan.

Di bawah Bolivia ada El Savador dengan persentase 59 persen. Lalu ada Ekuador, Filipina, Nikaragua, Guatemala, Irak dengan persentase 57 persen. Menyusul berikutnya Kamboja, Kolombia, Kosta Rika, dan Honduras dengan 57 persen.

Data dari Gallup ini memicu Lindsey Galloway untuk menelusuri fenomena di negara-negara tersebut. Di Guatemala, Galloway mewawancarai Zara Quiroga, seorang blogger asal Portugis yang tinggal di Antigua, Guatemala. Kepada Lindsey, Quiroga mengaku tak terlalu terkejut dengan hasil tersebut, terutama untuk mengamini bahwa emosi positif masyarakat Guatemala memang besar. Hingga pada titik di mana mereka bisa bercerita tentang persoalan pribadi mereka dengan leluasa kepada pendatang.

“Pada suatu siang ketika berkeliling Antigua, saya bertemu dengan seorang perempuan yang melambai-lambaikan kainnya. Sebenarnya dia mendekati saya untuk menjual sesuatu, namun kurang dari 30 detik selanjutnya percakapan kami berubah menjadi sangat personal dan emosional. Mulai dari dia hampir meninggal, saat putrinya melahirkan anak pertama, hingga rasa syukurnya tinggal di Antigua. Saya tak menghadapi pengalaman sedalam dan seemosional itu dengan orang asing sepanjang hidup saya,” tuturnya.

Emosi Guatemala bahkan tercermin dari kekayaan warna yang terlihat sehari-hari oleh para rakyatnya. Quiroga mencontohkan betapa kompleknya pemilihan warna dalam proses dekorasi maupun sekedar mengenakan pakaian.

Sementara di Filipina—negeri yang mendapat sentuhan kebudayan Latin—Gallowey melakukan wawancara dengan Steven de Guzman, warga asli Filipina berprofesi di bidang kontrol kualitas piranti lunak. Dari penuturan Guzman, Gallowey bisa menarik kesimpulan menarik.

“Ada banyak kesamaan antara kebudayaan Filipina dengan kebudayaan Amerika Latin. Kami memiliki sejarah panjang sebagai negeri jajahan Spanyol [orang-orang Amerika Latin adalah migran dari dataran Spanyol dan Portugal], jadi dalam pandangan saya masih ada kesamaan secara emosional juga,” ujar Guzman.



Emosi vs PDB

Indeks emosi yang tinggi di negara-negara dengan kebudayaan Latin kemudian bisa untuk dibandingkan dengan tingkat Produk Domestik Bruto (PDB) dunia. Melalui laporan Global Emotions 2015 Gallup sesungguhnya mencoba untuk merekam wajah sesungguhnya dari masyarakat di 148 negara dalam keseharian mereka. Harapannya, pemerintah masing-masing negara mampu melihat dengan jernih kadar kesehatan sosial masyarakatnya sendiri yang tak terlihat lewat PDB.

Untuk diketahui, dari sisi PDB negara-negara Amerika Latin masih tertinggal jauh dibanding negara-negara lain di dunia. Hanya Brasil yang menempati posisi 9 dunia, itupun bersanding dengan fakta bahwa Brasil tak termasuk 10 besar rangking Global Emotions 2015.

Begitu pun dengan Argentina yang tak masuk 10 besar rangking Global Emotions 2015 dan berada di urutan 26 peringkat PDB dunia. Sepuluh besar tingkat PDB dunia dikuasai raksasa ekonomi dunia seperti Amerika Serikat, Cina, Jepang, Jerman, Inggris, Prancis, India, Italia, dan Kanada. Tetapi beberapa dari mereka berada dalam kategori negara yang masyarakatnya tak mengekspresikan emosi mereka dengan baik dalam kategori positif maupun negatif.

Di sisi lain, meskipun Paraguay tingkat PDB-nya terpuruk di urutan 102, negara dengan ibu kota di Asuncion itu memuncaki peringkat Global Emotions 2016 untuk kategori emosi positif. Pun demikian dengan negara di bawah Paraguay, mereka berada di peringkat PDB dunia bagian tengah ke bawah. Antara lain Kolombia (41), Ekuador (62), Guatemala (70), Honduras (107), Panama (76), Venezueala (49), Kosta Rika (75), El Savador (101), dan Nikaragua (122).

Kesimpulannya, pertumbuhan ekonomi sebuah negara tak selalu berbanding lurus dengan tingkat keleluasaan masyarakatnya dalam mengekspresikan emosi di kehidupan sehari-hari. Tekanan hidup di sebuah negara dengan persaingan ekonomi ketat cenderung membuat anggota masyarakatnya menyingkirkan atau tak memprioritaskan perkara emosi ini.

Akhirnya semua kembali kepada visi pembangunan bidang sosial dan ekonomi masing-masing negara. Bukan berarti harus dalam dikotomi pilihan mutlak antara peringkat PDB atau Global Emotions. Keduanya bisa dikompromikan dengan meraih rangking yang wajar. Artinya, rakyat jangan cuma dibiarkan kaya di dompet, tapi juga di pikiran dan perasaan.

Baca juga artikel terkait HUMANIORA atau tulisan menarik lainnya Akhmad Muawal Hasan
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Akhmad Muawal Hasan
Penulis: Akhmad Muawal Hasan
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti