25 Oktober 2001

Windows XP yang Menolak Mati

Oleh: Ahmad Zaenudin - 25 Oktober 2017
Dibaca Normal 3 menit
Meski divonis mati pada 2014, Windows XP masih dipakai banyak komputer hari ini.
tirto.id - “Masyarakat menginginkan PC mereka melakukan sesuatu yang lebih. Windows XP dibangun berdasarkan mimpi itu. (Windows XP) dapat membuka potensi sesungguhnya dan paling baru dari PC milik mereka,” ungkap Bill Gates, pendiri Microsoft, pada Februari 2001.

Bill Gates mengatakan hal itu hanya beberapa bulan sebelum Windows XP resmi meluncur ke pasaran. Saat itu kehadiran sistem operasi Windows terbaru memang mendesak bagi Microsoft. Dua sistem operasi sebelumnya, Windows 2000 dan Windows ME, terbilang gagal.

Padahal data penjualan perdana dua versi Windows itu terbilang baik. Windows 2000 terjual 1 juta kopi dalam waktu kurang dari sebulan sejak diluncurkan di AS. Windows ME terjual 200 ribu kopi dalam tiga hari penjualan perdana di AS.

Herry McCracken, penulis teknologi kepada Time, mengungkap data penjualan yang terbilang “wah” pada masa awal kemunculan versi-versi Windows sesungguhnya tidaklah menakjubkan. Data penjualan Windows 1.0 hingga Windows 8 menunjukkan tak ada yang salah dilihat dari sisi penjualan awal.

Baca juga: Bill Gates, Sang Peramal Masa Depan

Nyatanya pengguna komputer berkehendak lain. Sejak sukses melalui Windows 95, Windows pertama yang mengenalkan tombol ikonik “Start” dan penyempurnaan fitur “Plug and Play” di Windows 98, pengguna tak menemukan ada yang istimewa pada Windows 2000 dan Windows ME.

Dua sistem operasi itu bisa dikatakan sebenarnya sama tetapi diberi sentuhan dan pangsa pasar yang agak berbeda. Windows 2000 merupakan versi business-oriented dari Windows ME, sistem operasi yang kadang diplesetkan menjadi “mistake edition”.

Akhirnya, pada 25 Oktober 2001, Microsoft meluncurkan versi terbaru Windows untuk mengganti “dua edisi kesalahan” itu. Versi terbaru diberi nama Windows XP alias "Windows Experience”. Term "XP" atau "Experience" dibayangkan melambangkan pengalaman pengguna yang diperkaya (dan diklaim) mampu menjawab kebutuhan layanan berbasis web.

Sistem operasi dengan kode “Whistler” memang dibuat sangat serius oleh Microsoft. Keseriusan itu ditunjukkan lewat dana pemasaran 1 miliar dolar AS, yang bekerja sama dengan Intel. Total duit sebesar ini belum pernah dikucurkan pada versi-versi sebelumnya.

Baca juga: Berlomba-lomba Membuat Prosesor Sendiri

“Windows XP merupakan produk paling penting yang dirilis selepas Windows 95,” ucap Matt Rosoft, analis dari Microsoft pada CNET kala itu.

Seperti versi-versi Windows lainnya, penjualan XP di masa-masa awal sangat sukses. Tiga hari selepas diluncurkan, XP terjual hingga 300 ribu kopi. Dalam dua bulan, angka penjualannya menembus 17 juta kopi.

Padahal dari sisi harga, Windows XP terbilang mahal. Microsoft mematok harga $199 untuk Windows XP Home Edition, atau setara $274.95 hari ini. Jika dibandingkan dari harga Windows 10 Home saat ini yang seharga $119,99, harga Windows XP dua kali lipat lebih mahal.

Windows XP memang spesial secara teknis. Salah satunya sistem operasi bikinan Microsoft pertama yang benar-benar menghadirkan teknologi 32-bit. Bit ialah istilah satuan data. 32-bit mengandung arti sistem komputer dapat memproses 232 data dalam satu waktu. Pada versi-versi sebelumnya, Microsoft lebih sering menghadirkan varian hibrid untuk mencari aman bagi para pemakai lawas.

Baca juga: Dunia yang Disusun Miliaran Baris Kode Pemrograman

Selain itu, Windows XP dibuat berdasarkan kernel, pondasi bagi sistem operasi Windows NT. NT merujuk “New Technology”, sistem operasi yang dirancang mudah dipakai khalayak umum.

Demi menambahkan aspek kemudahan, Windows XP menghadirkan konsep desain dan user interface bernama Luna dengan (masih) mengandalkan tombol “Start” dan “Control Panel”, kunci dari desain tatap muka pengguna. Selain itu, wallpaper ikonik bernama “Bliss” menambah ciamik muka depan sistem operasi tersebut.

Kendati demikian, Windows XP dianggap merusak rancang bangun Windows-Windows lain, yakni mengizinkan pengguna mengakses inti sistem secara bebas. Alhasil, program-program jahat seperti virus, malware, dan lain sebagainya mudah merasuk pada Windows.

Windows XP dibuat untuk menghapus sisi negatif rancang bangun Windows selama ini. Windows XP dirancang agar pengguna hanya bisa menggunakan file pribadi. Tanpa izin pemilik, tak ada program yang bisa mengakses sistem utama.

Baca juga: Stereotipe Windows yang Rapuh Menghadapi Virus dan Malware

Sayangnya di titik inilah malapetaka menghampiri Windows XP. Banyak program yang lancar jaya berjalan di Windows sebelum XP, gagal berjalan pada sistem baru tersebut. Ini terjadi karena program-program tersebut tak kuasa mengakses sistem utama Windows XP.

Meski dikiritik, toh Windows XP terbukti menjadi Windows paling sukses. Salah satu indikasinya lamanya waktu bagi Microsoft meluncurkan pengganti Windows XP.

Windows Vista, penerus Windows XP, baru dirilis pada 2007 atau enam tahun selepas Windows XP. Ini jelas prestasi yang tak dimiliki Windows-Windows setelahnya. Windows Vista sendiri sudah digantikan Windows 7 hanya dua tahun selepas kelahirannya. Windows 7 sendiri hanya berusia tiga tahun saat digantikan Windows 8. Usia Windows 8 juga hanya tiga tahun saat digantikan Windows 10.

Baca juga: Android Meminggirkan Windows di Pasar Sistem Operasi

infografik mozaik windows xp


Tentu tak ada yang abadi di dunia ini, tak terkecuali Windows XP. Sistem operasi yang mahsyur itu akhirnya harus "menghembuskan napas terakhirnya" pada 14 April 2014 lalu.

Pada tanggal itulah Microsoft menyatakan menghentikan dukungan tambahan pada Windows XP. Langkah ini melanjutkan penghentian dukungan umum pada Windows XP sejak 14 April 2009. Ini artinya, tak ada tambal-menambal lubang keamanan atau tambahan fitur yang mampu meningkatkan sistem operasi itu. Secara sederhana Windows XP telah divonis mati.

Hebatnya, vonis mati bukanlah akhir perjalanan XP. Sebagai salah satu sistem operasi paling populer dan tergolong berumur panjang, Windows XP kadung melekat pada berbagai sistem di dunia.

Di Amerika Serikat, 95 persen mesin Anjungan Tunai Mandiri (ATM) masih menggunakan Windows XP sebagai sistem operasinya kala Microsoft mengumumkan penghentian dukungan. Merujuk Bloomberg, jumlah ATM di Amerika Serikat sekitar 420.000 unit.

Baca juga:
Untuk memperbarui sistem operasi ATM-ATM jelas tidaklah mudah dan murah, terutama menyangkut umur mesin-mesin yang telah beranjak tua. Diperkirakan, jika melakukan pembaruan, per unit ATM membutuhkan biaya antara $1.000 hingga $3.500. JP Morgan kala itu bahkan langsung melakukan aksi korporasi dengan Microsoft untuk meminta perusahaan pembuat perangkat lunak itu memberi tambahan dukungan selama setahun dengan biaya tertentu.

Selain JP Morgan, pemerintah Inggris mengeluarkan biaya tertentu untuk meminta Microsoft mau mendukung Windows XP selepas penghentian dukungan pada 2014. Pemerintah Inggris bahkan mengeluarkan kocek APBN-nya senilai £5,5 juta bagi Microsoft untuk tetap mendukung XP khusus bagi mereka selama 12 bulan.

Dan hingga hari ini, nilai penting Windows XP tak surut dimakan usia dan status kematiannya. Atas permintaan keterbukaan informasi, pada September 2017 diketahui kepolisian metropolitan London masih menggunakan Windows XP pada 35.640 komputer. Sebelumnya, lembaga penegak hukum itu mengatakan hanya seribuan komputer yang masih menggunakan XP.

Baca juga: Akhir Riwayat (Microsoft) Paint

Merujuk data yang dilansir dari Net Market Share, Windows XP memperoleh pangsa pasar 5,69 persen. Angka ini menempatkan Windows XP pada posisi ke-4 sistem operasi paling populer di dunia. Jika seluruh komputer berbasis MacOS, sistem operasi besutan Apple dan eksklusif hanya tersedia di Macbook dan iMac, Windows XP masih mudah mengunggulinya. MacOS, yang dulu dikenal Macintosh, hanya kebagian pangsa pasar 3,84 persen.

Data-data ini seakan mengatakan Windows XP "menolak mati”.

Pada Mei 2017, Microsoft menyerah. Perusahaan ini akhirnya merilis penambal lubang keamanan bagi Windows XP demi menghadang ramsonware WannaCry. Windows XP tetap abadi.

Baca juga artikel terkait MICROSOFT atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Teknologi)

Reporter: Ahmad Zaenudin
Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Zen RS