Wayang Potehi di Antara Legenda dan Perlakuan Penguasa

Seorang dalang memainkan cerita Hong Kiauw Lie Tan saat pementasan wayang potehi di Klenteng En Ang Kiong, Malang, Jawa Timur, Rabu (25/1). Pementasan wayang potehi yang diselenggarakan selama dua bulan tersebut dalam rangka menyambut tahun Baru Imlek. ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto/kye/17.
Oleh: Irfan Teguh - 5 Februari 2019
Dibaca Normal 4 menit
Bermula dari kisah lima orang narapidana, diaspora Tiongkok membawa wayang Potehi menyebar ke pelbagai penjuru dunia termasuk Indonesia
Empat dari lima orang pesakitan gelisah menghitung jejentik waktu. Maut membayang dalam benak. Eksekusi mati tengah menanti mereka. Cemas dan gelisah berparade tiap sekon. Hanya seorang yang tetap tenang dan jatmika. Alih-alih meratapi nasib, ia justru mengajak kawan-kawannya untuk bergembira menghibur diri.

Dia kemudian membuat boneka dengan kain yang entah dari mana, barangkali sisa pakaiannya. Kawan-kawannya diajak untuk membuat pertunjukan sederhana. Mereka bertugas sebagai penabuh pelbagai alat yang mengiringi lakon boneka. Bebunyian piring, panci, dan perkakas lainnya yang tersedia di dalam sel dijadikan sebagai alat musik.

“Pertunjukkan boneka ini ternyata tidak saja menghibur mereka, tapi juga narapidana lain dan bahkan para sipir penjara. Cerita tentang pertunjukkan kelima orang narapidana ini akhirnya sampai ke telinga kaisar,” tulis Tempo dalam Wayang dan Topeng: Tradisi Menjadi Seni (2015).

Kaisar penasaran, lalu mengundang mereka untuk melakukan pertunjukkan di hadapannya. Kebijaksanaan terbit, kelima narapidana itu akhirnya diampuni dan dibebaskan.

Kisah ini beredar secara lisan di kalangan pegiat dan penikmat pertunjukkan wayang Potehi di Nusantara. Thio Tiong Gie alias Teguh Chandra Irawan, salah seorang dalang wayang Potehi yang namanya populer, menuturkan kisah yang sama kepada Dwi Woro Retno Mastuti, penulis buku Wayang Potehi Gudo: Seni Pertunjukan Peranakan Tionghoa di Indonesia (2014).

Pada perkembangannya, imbuh Tempo, pertunjukkan wayang Potehi diiringi sejumlah alat musik tradisional Tiongkok, yakni toa loo (gembreng besar), hian na (rebab), piak ko (kayu), bien siauw (suling), siauw loo (gembreng kecil), tong ko (gendang), dan thua jwee (terompet).

Wayang ini tentu berasal dari Tiongkok. “Po” artinya kain, “te” berarti kantong, dan “hi” yang berarti wayang. Secara harfiah Potehi bermakna wayang yang berbentuk kantong dari kain.

“Cara memainkannya dengan memasukkan tangan ke dalam pakaian yang dikenakan wayang. Jari tengah digunakan untuk mengendalikan kepala. Sedangkan ibu jari dan kelingking untuk mengendalikan tangan wayang,” tulis Tempo.

Wayang Potehi, imbuh Retno, dibawa ke Nusantara seiring migrasi warga Tiongkok ke selatan untuk mencari penghidupan yang lebih baik karena di kampung halamannya terjadi huru-hara.

“Di dalam memori heritage mereka masih kental kebudayaan leluhur dan itu terbukti sampai sekarang. Di mana pun mereka berada masih membawa tradisi leluhurnya. Kebudayaan Tiongkok kuat sekali melekat di dalam diri para diaspora tersebut, dan salah satunya adalah wayang Potehi” tuturnya kepada Tirto (4/2/2019)

Karena wayang Potehi banyak terdapat di Jawa Timur, Retno memperkirakan wayang ini mula-mula hadir di sekitar Lasem atau Tuban. Selanjutnya, ia menyebar ke pelbagai pedalaman lewat aktivitas perniagaan dan akhirnya mereka membuat sejumlah permukiman, termasuk di dalamnya rumah peribadatan seperti kelenteng dan vihara. Di sinilah, imbuhnya, wayang Potehi mula-mula digelar karena sejatinya ia adalah ritual peribadatan.

Keterangan ini salah satunya ia dapat dari Usman Arif, pakar agama Konghucu, yang berpendapat bahwa Potehi merupakan bentuk ritual dari prajurit-prajurit perang Tiongkok di masa lalu yang merefleksikan keyakinannya.

Sementara menurut seorang dalang wayang Potehi yang lain yaitu Sugiyo Waluyo Subur dalam Wayang dan Topeng: Tradisi Menjadi Seni (2015), wayang Potehi diperkirakan dimainkan pertama kali di Semarang, Jawa Tengah, pada abad ke-16.

Pendapat ini agaknya sejalan dengan Bambang Soelarto dan S. Ilmi Albiladiyah dalam Wayang Cina-Jawa di Yogyakarta (1980) yang menyebutkan bahwa Potehi berkembang di pesisir utara Jawa, khususnya di Semarang. Perkembangannya diiringi dengan pelbagai bauran kebudayaan, salah satunya yaitu dengan mempergunakan bahasa Indonesia yang diselang-seling dengan idiom-idiom Tiongkok.

Dan jika membaca laporan Koran Tempo edisi 14 Maret 2011 dalam artikel “Baco Puraga, Wayang Berdialek Hokkian”, Potehi tidak hanya terdapat di Jawa, tapi juga di Sulawesi, tepatnya di Makassar.

“Wayang Cina (Potehi) yang terbuat dari kain ini di Makassar disebut Baco Puraga, disesuaikan dengan nama khas daerah, dan diambil dari nama panggilan anak lelaki," tulis Koran Tempo.


Thio Tiong Gie dan Muruah Potehi

Seperti disebutkan sebelumnya, salah satu dalang wayang Potehi yang namanya cukup dikenal adalah Thio Tiong Gie alias Teguh Chandra Irawan. Menurut Sam Setyautama dalam Tokoh-tokoh Etnis Tionghoa di Indonesia (2008), Tiong Gie biasa membantu orangtuanya berjualan bakpau.

Sekali waktu ia menemukan buku yang mengisahkan kisah Che Jin Thay Cu Cauw Kok (Putra Mahkota cung Hun Melarikan Diri) saat membeli koran untuk bungkus bakpau yang ia jual.

Saat tengah asyik membaca cerita itu, Oei Sing Twei, kawan ayahnya yang kerap mencari pesanan pentas wayang Potehi, bertanya, “Apa lu bisa baca?”

“Bisa,” jawabnya.

Singkat cerita, tambah Setyautama, saat Tiong Gie telah belajar menjadi dalang wayang Potehi, ia diajak kawan ayahnyanya itu untuk pentas di Cianjur, Jawa Barat. Sejak itu ia semakin menekuni wayang Potehi.

Keterangan tersebut agak berbeda dengan laporan Kompas edisi 31 Maret 2010. Tiong Gie menuturkan jika pada mulanya pertemuan ia dengan buku berhuruf Cina itu justru saat ayahnya berjualan tekstil di Semarang. Kala itu usianya masih 14 tahun dan masih bersekolah di Chu Hoo Kong Sie, Pekapuran, Semarang.

“Dari tumpukan kertas untuk bungkus tekstil, saya menemukan buku berhuruf Cina yang ternyata cerita pakem Tiongkok. Judulnya Chu Hun Thay Chu Chao Kok atau Putra Mahkota Melarikan Diri. Saya membacanya sampai habis,” kenangnya.

Saat pentas di Cianjur, usianya telah menginjak 25 tahun. Penampilannya mendapat sambutan dari warga yang menonton. Ia kemudian menjadi salah satu shai hu atau dalang wayang Potehi di Semarang yang pada warsa 1950-an hanya ada empat orang.


Ia menambahkan, keputusannya untuk menjadi shai hu semakin kuat setelah mendapat hadiah buku Shie Jin Kui Cheng Tang Ching Shem saat ia tampil di Blitar mewakili shai hu Tan Ang Ang asal Surabaya.

“Apalagi setelah dihadiahi seperangkat wayang Potehi (100 unit), lengkap dengan instrumen musiknya, bekas dari Kelenteng Grajen, Semarang,” ujarnya seperti dilansir Kompas.

Tiong Gie tampil dari satu pentas ke pentas lainnya, sampai pada 1967, saat rezim berganti, Orde Baru melarang segala kebudayaan yang berunsur kebudayaan Tiongkok. Namun, pelarangan itu tak menyurutkan semangatnya. Dalam keterbatasan, ia tetap mencintai Potehi.

Thio Ting Gie wafat pada 20 Agustus 2014 dalam usia 81 tahun. Menurut salah seorang anaknya, Thio Haouw Liep, dalam kondisi sakit pun ayahnya tetap menyempatkan diri untuk mendalang.

“Kecintaannya terhadap wayang potehi sangat besar. Meski tengah sakit, kurang fit kondisinya, Papa tetap bersikeras mendalang, tetap menerima mahasiswa atau siapa pun yang ingin belajar,” katanya.


Nasib Potehi dalam Pelbagai Era

Seperti dituturkan sejumlah shai hu wayang Potehi kepada beberapa media, sepanjang 1950 sampai pertengahan 1960, pertunjukkan ini cukup semarak. Pemerintah Orde Lama tak melarangnya. Namun, setelah tragedi 1965, angin berbalik arah.

Lewat Instruksi Presiden No. 14 Tahun 1967, pemerintah Orde Baru melarang setiap perayaan dan adat istiadat Cina “yang memiliki aspek affinitas culturil yang berpusat pada negeri leluhurnya” untuk digelar secara umum, termasuk di dalamnya pergelaran wayang Potehi. Padahal menurut Tiong Gie saat ia berkunjung ke Tiongkok, di negara asalnya wayang tersebut hanya menjadi suvenir.

“Pada awal era Orde Baru berkembang sentimen negatif terhadap budaya Tionghoa membuat seni wayang ini mengalami masa surut. Keberadaannya hilang di tengah masyarakat,” kata shai hu Subur dalam Wayang dan Topeng: Tradisi Menjadi Seni (2015).



Pelarangan ini berimbas juga pada Baco Puraga, wayang Potehi versi lokal Makassar. Aruji, salah seorang pegiat Baco Puraga mengungkapkan kepada Koran Tempo edisi 14 Maret 2011 bahwa kini di Makassar tak ada lagi pertunjukkan wayang potehi Baco Puraga.

“Rupanya orang di kelenteng pun takut mengoleksi wayang itu setelah terjadi penganiayaan terhadap kultur Cina selama masa Orde Baru. Mereka trauma melanjutkan seni pertunjukkan ini,” katanya.

Saat Orde Baru tumbang, Presiden Abdurahman Wahid atau Gus Dur lewat Keputusan Presiden No. 6 Tahun 2000, mencabut Instruksi Presiden No. 14 Tahun 1967 dan membuka kembali keran-keran kebudayaan Tionghoa. Imlek menjadi libur nasional dan wayang Potehi boleh dipentaskan kembali.

Dalam Imlek Tanpa Gus Dur (2012), mendiang Lan Fang—penulis kelahiran Banjarmasin—yang menganggap Gus Dur sebagai ayahnya, mengungkapkan kehilangannya:

“Betapa inginnya saat Imlek ini saya menjura pada Gus Dur. Namun, tampaknya Gus Dur sedang menempuh perjalanan ke sebuah tempat yang lebih tinggi, sehingga saya hanya bisa mengatakan: Gus Dur, xie-xie, semoga Gus Dur sampai kepada Sang Cahaya.”

Baca juga artikel terkait HARI RAYA IMLEK atau tulisan menarik lainnya Irfan Teguh
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Irfan Teguh
Editor: Nuran Wibisono
DarkLight