Varian Baru Virus Corona dari India: Kenapa Disebut Mutan Ganda?

Oleh: Addi M Idhom - 26 Maret 2021
Dibaca Normal 3 menit
Ratusan kasus Covid-19 yang dipicu sejumlah varian baru corona ditemukan di India saat gelombang penularan kedua terjadi di negara itu.
tirto.id - Varian baru virus corona (Sars-CoV-2) ditemukan di India. Otoritas kesehatan di India menyebut hasil mutasi corona yang terbaru itu sebagai "mutan ganda." Varian baru ini ditemukan pada 200-an sampel kasus positif Covid-19 di negara bagian Maharashtra.

Dalam konferensi pers, Direktur Pusat Nasional untuk Pengendalian Penyakit India, Sujeet Kumar Singh mengatakan 20 persen sampel dari Maharashtra ditemukan di Kota Nagpur, pusat logistik di negara bagian tersebut. Dia menduga varian baru ini mulai menyebar di India, mengingat terdapat 9 sampel serupa ditemukan di New Delhi.

Sekalipun, penemuan varian baru itu bersamaan dengan lonjakan data kasus baru di Maharashtra, Kerala, dan Punjab, otoritas kesehatan India belum memastikan bahwa keduanya berhubungan.

Para ilmuwan kini sedang meneliti kemungkinan bahwa varian baru corona dari India tersebut lebih menular atau juga berpengaruh pada penurunan kemanjuran vaksin Covid-19.


Sebaran sejumlah varian baru corona di India kini menyita perhatian mengingat negara tersebut mengalami gelombang kedua penularan Covid-19.

Sejak awal Maret 2021, India mengalami lonjakan angka kasus baru. Padahal, jumlah kasus baru di India sempat terus menurun sejak September 2020 hingga mencapai titik terendahnya di awal tahun ini.

India masih merupakan negara dengan jumlah kasus Covid-19 tertinggi ketiga di dunia. Hingga 26 Maret 2021, data Worldometer menunjukan sudah ditemukan 11.846.652 kasus Covid-19 di India, dengan angka kematian 160.983 jiwa. Dalam sehari terakhir, masih ditemukan 570 kasus baru di negara tersebut.


Penyebab Varian Baru dari India Disebut Mutan Ganda

Ahli Epidemiologi India sekaligus pendiri Pusat Dinamika Penyakit, Ekonomi dan Kebijakan di New Delhi, Ramanan Laxminarayan menjelaskan istilah "Mutan Ganda" merujuk pada varian baru yang memiliki karakteristik dari dua mutasi yang sudah teridentifikasi.

"Mutan ganda bukan istilah ilmiah. Ini hanyalah mutan lain yang kelihatannya unik di India," kata Ramanan dikutip dari The Guardian.

"Apakah ada alasan untuk mengkhawatirkan varian ini? Belum, kami belum memiliki bukti bahwa varian ini lebih menular atau lebih mematikan dari yang sudah ada," Ramanan menambahkan.

Sementara mengutip BBC, Kementerian Kesehatan India menyebut varian baru itu mengandung mutasi E484Q dan L452R. Dua mutasi itu, diduga memicu peningkatan kemampuan virus corona dalam menginfeksi dan menghindari kekebalan tubuh.

Ahli Virologi dari Louisiana State University Health Sciences Center Shreveport, Dr Jeremy Kamil menjelaskan kepada BBC bahwa mutasi E484Q mirip dengan E484K.

Mutasi E484K selama ini terlihat pada varian baru corona B1351 dari Afrika Selatan dan varian P1 dari Brasil, dua strain anyar yang kini menyebar di puluhan negara sekaligus terbukti lebih menular dan terindikasi berpengaruh pada kemanjuran vaksin.


Sedangkan L452R, menurut Jeremy, juga terdeteksi menjadi bagian dari varian baru B1427/B1429 di AS, yang sering kali juga disebut Varian California.

Dia menambahkan, mutasi ganda atau adanya lebih dari satu mutasi di sebuah varian baru virus corona sebenarnya bukan fenomena langka. Jeremy mengatakan kemunculan varian baru corona dengan banyak mutasi, termasuk hanya di gen protein spike, sudah banyak terjadi.

Mutasi yang selama ini terjadi pada protein spike sering kali menarik perhatian ilmuwan. Sebab, protein spike yang bentuknya serupa paku-paku di permukaan virus corona merupakan bagian yang berperan penting dalam proses infeksi.

Protein spike adalah bagian corona yang bisa terikat dengan reseptor ACE2 di sel tubuh manusia. Dengan kata lain, protein spike jadi sarana virus corona untuk menempel dan masuk ke sel tubuh.

Maka itu, mutasi di protein spike virus corona berpotensi meningkatkan kapasitas penularannya, memperparah gejala, dan menurunkan kemanjuran vaksin Covid-19.

Di sisi lain, Jeremy mencatat, data GISAID mencantumkan 43 virus yang memiliki mutasi E484Q dan L452R, atau sama dengan varian baru yang ditemukan di India. Sebuah varian yang bulan ini ditemukan di Inggris bahkan diketahui memiliki 9 mutasi pada gen protein spike saja.

Fakta ini membuat Jeremy bilang, "Apakah sudah dipastikan bahwa varian India hanya memiliki dua mutasi di protein spike?"


Setelah peneliti India mengunggah data mereka ke GISAID, ilmuwan dari seluruh dunia akan dapat menentukan apakah "mutan ganda" adalah garis keturunan yang sama dengan yang ditemukan di wilayah lain, atau apakah kombinasi mutasi ini muncul secara independen.

Kekhawatiran bahwa varian mutan ganda dari India memicu peningkatan penularan disanggah oleh seorang ilmuwan India. Rakesh Mishra, Direktur Center for Cellular and Molecular Biology (CCMB) yang berbasis di Hyderabad, menyatakan bahwa dari ribuan sampel pengurutan genom, hanya 230 yang mengandung mutasi ganda tersebut.

"80 persen dari sampel yang kami catat tidak memiliki kombinasi mutan ini," kata dia kepada BBC.


Data Sebaran Varian Baru Corona di India

Pemerintah India sudah merilis data termutakhir yang menunjukkan sebaran sejumlah varian baru virus corona. Di antaranya termasuk varian berstatus variant of concern (VoC).

Merujuk laporan The Indian Express, infeksi varian B117 dari Inggris sudah ditemukan pada 736 kasus di India. Varian tersebut tercatat sudah menyebar di 18 negara bagian. Namun, konsentrasi terbanyak ada di 7 negara bagian.

Temuan kasus infeksi corona B117 terbanyak di Punjab, yakni pada 336 kasus. Sebanyak 65 kasus infeksi B117 juga ditemukan di Delhi, serta 56 lainnya di Maharashtra.

Sebaran varian B1351 dari Afrika Selatan juga sudah ditemukan di 7 negara bagian India. Kasus penularan corona B1351 di India terbanyak di Telangana (17) dan Maharasthra (5). Adapun kasus varian P1 dari Brasil baru ditemukan di Maharahtra, yakni 1 kasus.

Khusus terkait data sebaran varian dengan mutasi ganda E484Q dan L452R ditemukan pada 206 kasus di Maharasthra, lalu 9 kasus di Delhi, dan 2 kasus di Punjab.


Sekalipun demikian, laporan The Indian Express menyebutkan para ilmuwan di India menilai tidak ada satu pun dari 3 varian VoC yang terbukti berkaitan dengan gelombang infeksi kedua di India. Sebab, prevalensi kasus infeksi 3 varian baru itu di populasi India belum terlalu tinggi.

Selain itu, ratusan kasus infeksi corona B117 di Punjab sebagian besar terjadi pada pelancong dan orang-orang yang melakukan kontak langsung dengan mereka. Meskipun begitu potensi penularan varian ini ke tengah-tengah penduduk India menjadi bahaya yang kini perlu diwaspadai.

Namun, identifikasi sebaran varian baru corona di India itu juga memuculkan keraguan mengingat data sampel pengurutan genom di negara itu masih terlampau minim. Hingga pekan kedua Maret 2021, India baru melakukan analisis pengurutan genom pada 19.092 sampel. Jumlah itu terbilang sedikit jika dibandingkan dengan AS dan Cina yang sudah menganalisis lebih dari 100 ribu sampel.

Baca juga artikel terkait VIRUS CORONA atau tulisan menarik lainnya Addi M Idhom
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Addi M Idhom
Editor: Agung DH
DarkLight