Uwe Boll adalah Bukti Busuknya Film-Film Adaptasi Video Gim

Oleh: Renalto Setiawan - 18 September 2019
Dibaca Normal 4 menit
Film yang diadaptasi dari video gim sering kali mengalami kegagalan. Mengapa demikian?
tirto.id - Video berjudul "Fuck You All" tayang perdana di YouTube pada 7 Juni 2015 dan disambut dengan suka cita. Lewat video yang sudah ditonton lebih dari 1,8 juta orang itu, Uwe Boll, pembuatnya, mengumumkan bahwa ia akan pensiun sebagai sutradara. Akun bernama Dorjan Vukelic lantas berkomentar, “Video ini adalah hal terbaik yang pernah Anda sutradarai, tapi tetap saja seperti sampah.”

Sebanyak 1,6 ribu akun YouTube menyukai komentar Dorjan.

Uwe Boll memang sudah dikultuskan para penggemar film sebagai sutradara terburuk yang pernah ada. Semua film yang jumlahnya 33 buah itu Boll adalah bencana. Skor film-film Boll di situs Rotten Tomatoes tak sampai 5%; para kritikus film tak punya belas kasihan saat menghajar film-film Boll. Tentu saja ia juga pernah memenangi Razzie Award, acara untuk merayakan film-film terburuk di Amerika.

“Orang ini (Boll) tidak bisa jadi sutradara. Ia tidak tahu di mana harus meletakkan kamera. Ia tidak bisa menyarankan aktor bagaimana cara menyampaikan dialog mereka... Ia tidak tahu hal-hal dasar semacam itu,” tutur John Wilson, penggagas Razzie Award, kepada Vanity Fair.

Boll memutuskan pensiun setelah gagal mengumpulkan dana untuk pembuatan film Rampage 3: No Mercy. Ia membutuhkan dana sebesar 55 ribu dolar AS untuk pembuatan film itu, tapi hanya mendapatkan dana sebesar 24 ribu dolar. Boll pun menyerah. Namun, alih-alih mengakui kalau dirinya sutradara semenjana, Boll justru menyebut pasar dan para penanam modal sebagai biang dari kegagalannya.

“Pasar film sudah mati,” kata Boll. “Tanpa bisnis DVD yang bagus, ini sudah tidak bisa diselamatkan—layanan streaming seperti Netflix dan kawan-kawan sangat bagus untuk pelanggan, tapi kami hanya akan mendapatkan 10% dari apa yang biasa kami dapatkan dari pembuatan film blockbuster.”

Dan, dalam video “Fuck You All” yang penuh sumpah serapah itu, Boll lantas mengutuk para penanam modal sebagai “bajingan egois” karena memilih mendanai film tentang "penyihir dungu di hutan” daripada mendanai filmnya.


Hollywood Gagal Menerjemahkan Video Gim ke Film


Matthew Gault, dalam tulisannya di Vice, menilai buruknya film-film Boll tak lepas dari tujuan sang sutradara membuat film. Boll hanya ingin menyenangkan para penanam modal, membayar bintang-bintang besar, juga memuaskan orang-orang yang bekerja dengannya. Boll, menurut Gault, hanya memikirkan keuntungan.

Maka, demi menekan biaya pengeluaran, Boll pun akhirnya sering kali bereksperimen agar produksi cepat kelar. Ia pernah nekat melakukan pengambilan gambar film Rampage tanpa naskah komplet. Sedangkan dalam pembuatan Bloodrayne yang dibintangi oleh Bill Zane dan Sir Ben Kingsley, Boll menyelesaikan film itu hanya menggunakan 20% naskah aslinya.

Selain itu, faktor lain kegagalan Boll ialah jenis film yang ia pilih. Alih-alih menggali naskah orisinil, Boll lebih suka mengadaptasi video gim. House of The Dead, Far Cry, Alone in The Dark, Bloodrayne, dan In The Name of The King adalah beberapa di antaranya.

Dan film-film itu berkualitas seperti kakus mampat.

Alone in The Dark, misalnya, mengutip Stephen Holden dari New York Times, “sangat tidak layak dari segi apapun, dan akan membuat Anda bertanya-tanya mengapa distributor tidak langsung merilisnya dalam bentuk video atau lebih baik langsung melemparkannya ke tempat sampah.”

Buruknya kualitas film yang diadaptasi dari video gim sebetulnya bukan hanya terjadi pada Boll, melainkan sudah menjadi masalah di Hollywood sejak lama. Dimulai dengan Super Mario Bros pada tahun 1993, tak ada film adaptasi video gim yang benar-benar memuaskan.

Rotten Tomatoes mencatat: The Angry Birds Movie Part 2 adalah satu-satunya film adapatasi dari video gim yang mampu memperoleh skor di atas 70%.

Pada 2016, Peter Suderman dari Vox menilai bahwa kegagalan film-film adaptasi itu bermula dari kesalahpahaman mendasar tentang perbedaan kinerja video gim dan film. Menurutnya, gim adalah sebuah semesta dan sistem yang memberikan kesempatan dan eksplorasi para pemain. Dengan kata lain, interaktif. Sedangkan film berpijak pada karakter dan cerita di mana pengalaman penonton sepenuhnya dipandu oleh pembuat film.

“Film yang diadaptasi dari video gim gagal biasanya karena para pembuat film terlalu banyak menaruh perhatian pada semesta dan sistem yang dicintai para penggemar gim, dengan mengorbankan karakter dan isi cerita,” tutur Suderman.

Pendapat Suderman ada benarnya, tapi menurut Paul Tassi dari Forbes persoalannya ternyata tidak sederhana itu. Tassi, yang penggemar video gim dan film, setidaknya mempunyai dua alasan mengapa film-film adaptasi video gim mengalami kegagalan.

Pertama, video gim yang paling sering diadaptasi ke film biasanya merupakan video gim bergenre laga yang tidak menonjolkan kompleksitas cerita. Dalam gim Tomb Raider, misalnya, para pemain bisa menghabiskan sebagian besar waktu untuk saling pukul dengan AI atau untuk memecahkan teka-teki. Sementara itu, durasi waktu yang digunakan pemain untuk memahami cerita tak seberapa.

Hasilnya, Tomb Raider lebih menonjolkan gameplay daripada cerita. Kemudian, saat gim tersebut diangkat ke layar lebar dan pembuat film lebih sibuk menggodok semesta dan sistem gim Tomb Raider di dalam film, film itu tentu saja tak akan ada isinya.

Yang kedua: video gim yang mempunyai cerita bagus tak perlu diangkat ke layar lebar. Mengapa?

Gim-gim seperti The Last of Us, Uncharted, Mass Effect, dan sejenisnya sudah mempunyai cerita seperti sebuah film, yang disajikan secara interaktif. Para pengembang gim-gim itu bahkan berani menghabiskan jutaan dolar untuk mengontrak pembuat naskah dan aktor agar cerita dalam gim itu mampu menyentuh emosi para pemainnya. Kalau gim-gim itu dipaksa diadaptasi ke film, kata Tossi, “film itu justru berpotensi merusak cerita yang sudah ada.”

Infografik dari gim ke film
Infografik dari gim ke film


Di sisi lain Washington Post juga pernah menulis: “Salah satu hal yang paling sulit dalam mengadaptasi video gim ke film adalah memilih keseimbangan cerita yang paling tepat.”

Pada 2016, Duncan Jones mengadaptasi Warcaft, salah satu gim paling legendaris di PC. Film yang dibuat dengan anggaran sebesar 160 juta dolar AS itu sukses meraih pendapatan 433,7 juta AS. Namun, kesuksesan komersial itu ternyata hanya karena nama besar Warcraft, bukan karena kualitas filmnya.

Warcraft, selain hanya mendapatkan skor 28% dari Rotten Tomatoes, dihajar kritikus film secara bertubi-tubi. Salah satu kritik paling keras datang dari Stephanie Merrie, kritikus film Washington Post. Warcraft, kata Merrie, “adalah sebuah kekacauan yang menguras energi dan pikiran.”

Kritik Merrie itu kira-kira begini: Bagaimana bisa Duncan Jones menjejalkan semua “kekayaan cerita” yang terdapat di gim ke dalam film yang hanya berdurasi selama dua jam? Mengapa tidak ada cerita baru di dalam film itu?


Orisinalitas


Berbeda dengan film-film yang diadaptasi dari video gim, film-film seperti Ready Player One, Jumanji, Tron, Wreck It Raph, dan lain-lain tidak terikat dengan cerita spesifik dalam video gim, melainkan hanya menggunakan konsep dalam video gim.

Soal orisinalitas dalam film-film itu, Keza MacDonald menulis di Guardian:

Wreck-It Ralph mempertanyakan apa yang akan terjadi dengan karakter terkenal dalam video gim jika, seperti selebritis nyata, mereka punya kehidupan pribadi di luar persona publik mereka. Tron, Jumanji, dan Ready Player One membayangkan seperti apa rasanya tersedot ke dunia virtual. Dan di dalam Scott Pilgrim vs the World, gim hanya dianggap sebagai latar belakang suatu budaya.”

Lantas, apakah kualitas film-film adaptasi dari video gim masih bisa diselamatkan?

Belum ada yang tahu, tentu. Yang jelas, dalam "Fuck You All", Uwe Boll, yang kini lebih sukses dengan bisnis restoran, menyampaikan pesan menarik untuk orang-orang yang membencinya.

“Anda sekarang aman karena tidak akan ada lagi film adaptasi video gim karya Uwe Boll. Nikmatilah film-film yang jauh lebih baik, seperti Silent Hill 2, Prince of Persia, Resident Evil 1,2,3, dan empat, dan Warfcraft."

Baca juga artikel terkait FILM ADAPTASI atau tulisan menarik lainnya Renalto Setiawan
(tirto.id - Film)

Penulis: Renalto Setiawan
Editor: Windu Jusuf
DarkLight