Tradisi Halloween Modern yang Tak Lagi Horor dan Menakutkan

Oleh: Febriansyah - 30 Oktober 2019
Dibaca Normal 2 menit
Kostum Halloween tidak melulu menyeramkan atau berkaitan dengan hantu.
tirto.id - Bulan ini orang-orang di beberapa negara akan merayakan Halloween. Saat Halloween, biasanya sensasi horor akan terasa di mana-mana, dari kostum yang dikenakan hingga dekorasi di jalanan. Orang akan berpakaian compang-camping, berdandan menyerupai wajah yang penuh luka dan darah, kostum monster, tengkorak, kostum penyihir perempuan atau yang paling mainstream kostum labu Jack O’ Lantern.

Tradisi Halloween sebenarnya adalah tradisi sakral untuk memperingati orang mati. Akan tetapi sekarang mulai bergeser menjadi perayaan tahunan untuk pesta, bermain, dan bersenang-senang. Tirto.id mencatat, penggunaan kostum menyeramkan pada perayaan Halloween moderen lebih sering dimaksudkan untuk mendulang keseruan, tidak lagi melulu soal hantu.

Lalu, mengapa tradisi kostum Halloween kini tak lagi menyeramkan? Paul J. Patterson, asisten profesor bahasa Inggris dan co-director of Medieval, Renaissance and Reformation Studies di Universitas Saint Joseph mengatakan, mungkin aneh ketika masyarakat justru "merayakan malam ketakutan". Namun, menurutnya, setiap generasi bisa mendefinisikan horor dengan berbeda.

"Anda dapat melihat sepanjang sejarah bagaimana setiap generasi telah mendefinisikan 'horor', dan sebagian besar berpaling pada gagasan tentang sesuatu di luar pemahaman yang mengancam kita," jelas Petterson seperti dilansir Science Daily.

Ketika para siswa Patterson mengeksplorasi Horror in Literature and Film di kelasnya, mereka menemukan kesimpulan definisi dari sesuatu yang ditakuti orang itu tergantung pada konstruksi sosial saat itu. Kelas ini menganalisis karya-karya seperti Homer's Odyssey, cerita akhir abad ke-8 SM, Dramula Bram Stoker (1897), Mary Shelley Frankenstein (1818), kanon Alfred Hitchcock (1940 -70-an), film-film pedang tahun 1990-an, dan pos -9/11 film hari ini.

Ketakutan setiap generasi diwujudkan dalam karya-karya ini. Kadang-kadang ketakutan digambarkan secara harafiah, misalnya, dalam bentuk zombie. Namun terkadang ketakutan juga digambarkan sebagai hal yang tidak terlihat atau orang tak dikenal dan dapat menyebabkan kerusakan besar.

Setelah peristiwa 9/11, orang-orang menganggap horor lekat dengan penyiksaan, perang, dan tragedi. Hal ini mungkin terjadi karena mereka tumbuh di sekitar retorika tragedi 9/11. Bagi sebagian orang, penyakit dan wabah yang menyerang seluruh populasi juga merupakan hal yang horor.

Horor tak melulu digambarkan sebagai hantu. Virus influenza dan ancaman perang biologis juga merupakan hal horor pada generasi tertentu. Jadi, kata "horor" itu sendiri tergantung pada situasi, kondisi, dan generasi tertentu serta keadaan pada suatu negara.

"Banyak yang bertanya di kelas 'apa artinya sesuatu yang mengerikan? Apakah kita takut akan kematian? Apakah ini hanya kematian, atau itu sesuatu yang lain sama sekali?' Teks-teks masa lalu telah menggambarkan ketakutan yang sekarang kita kenal: kebangkitan sains versus agama; pengakuan hasrat seksual; dan pencapaian keabadian," jelas Petterson.

Petterson menjelaskan, segala yang kita sebut sebagai sesuatu yang menyeramkan atau horor sekarang adalah sesuatu yang dipersonifikasi. Ia juga mengakui, mencari apa yang ditakuti generasi sekarang itu agak susah. Salah satunya mungkin karena perkembangan teknologi.

"Sekarang, sulit untuk mengatakan apa yang ditakuti generasi sekarang. Mungkin karena teknologi telah mengambil alih," kata Patterson.

Oleh karena itu, pada zaman modern ini, kostum-kostum Halloween yang digunakan tidak selalu mengarah pada hantu atau hal-hal menyeramkan, sebab sulit rasanya untuk menggambarkan apa yang ditakuti generasi sekarang. Seiring dengan menyebarnya budaya populer dari berbagai penjuru dunia, utamanya dari Amerika Serikat, tokoh-tokoh yang menginspirasi pemilihan kostum Halloween pun bertambah.

National Retail Federation mencatat, pada 2017, pakaian bertema tokoh komik DC dan Marvel masuk dalam lima besar pilihan kostum Halloween terpopuler di samping penyihir dan bajak laut. Sementara di kalangan anak-anak, karakter Princess, superhero, dan tokoh-tokoh Star Wars termasuk dalam kostum-kostum yang paling sering dipilih.

Representasi tokoh-tokoh dalam perayaan Halloween di berbagai negara tidak lepas dari tren yang ada di media massa lokal. Karakter Suzanna yang identik dengan setan misalnya, dicantumkan pada poster "Time After Time: Bloody Promnight". Hal-hal yang tak horor sama sekali pun sah-sah saja ditunjukkan dalam pesta kostum Halloween.

Pakaian seksi ala model-model majalah Playboy sampai kostum Pikachu dan Bugs Bunny bukanlah hal yang tabu untuk dikenakan saat perayaan ini. Pengalaman berdandan habis-habisan atau memakai baju yang eksentrik bukanlah bagian dari keseharian. Maka tak heran bila pesta kostum ini dimanfaatkan sebagian orang untuk unjuk diri dan bersenang-senang.



Baca juga artikel terkait HALLOWEEN atau tulisan menarik lainnya Febriansyah
(tirto.id - Hobi)

Kontributor: Febriansyah
Penulis: Febriansyah
Editor: Dipna Videlia Putsanra
DarkLight