tirto.id - Dalam rangka menyemarakkan bulan Ramadan, Tirto menggelar kegiatan #RoadToFitri di Dia.Lo.Gue Artspace Kemang, Jakarta, pada Minggu (8/3/2026). Acara ini menghadirkan dua narasumber dari latar belakang berbeda: Ustaz Jojo Ali Yusuf yang membahas refleksi spiritual menjelang Idul Fitri, serta Julian “Om Jeje” Johan, pembalap reli Dakar yang berbagi pengalaman tentang perjalanan jarak jauh dan keselamatan berkendara.
Melalui sesi diskusi dan sharing session, #RoadToFitri mengajak peserta menyiapkan perjalanan menyambut Lebaran secara menyeluruh, mulai dari memperbaiki batin hingga membangun pola pikir yang lebih siap menghadapi perjalanan.
Kegiatan ini disponsori oleh AQUA, GoTo dan PT Emas Antam Indonesia, serta didukung oleh Telkomsel, Kopi Tuku, dan Dia.Lo.Gue Artspace.
Dalam sesi pertama, Ustaz Jojo Ali Yusuf (Jojo) berbagi pengalaman pribadi yang menjadi titik balik dalam hidupnya. Ia mengaku pernah menjalani masa di penjara pada usia 22 tahun, sebuah pengalaman yang justru memberinya pelajaran besar tentang kehidupan dan rasa syukur.
Jojo teringat sebuah momen ketika berbuka puasa di penjara bersama beberapa orang yang hanya makan nasi jagung dengan bumbu mi instan, tetapi tetap menikmatinya dengan penuh rasa syukur. Pengalaman tersebut membuatnya menyadari bahwa banyak hal yang selama ini dianggap biasa sebenarnya merupakan nikmat besar.
“Di situ saya sadar, ternyata hidup itu soal bisa bersyukur atau tidak. Banyak orang yang hidupnya jauh lebih sulit, tapi mereka tetap bisa menikmati apa yang mereka punya,” pungkas Ustad Jojo pada Minggu.
Menurutnya, pengalaman tersebut mengubah cara pandangnya terhadap kehidupan. “Sejak saat itu saya belajar bahwa hidup harus diperjuangkan. Kita tidak boleh menjadi orang yang manja,” ujarnya.
Sementara itu, Julian “Om Jeje” Johan juga berbagi refleksi tentang pentingnya rasa syukur dalam perjalanan hidup. Ia menceritakan kecelakaan besar yang dialaminya pada 2017 ketika mobil balapnya tergelincir dan terbalik saat melaju dengan kecepatan sekitar 140 kilometer per jam di lintasan reli.
Meski peristiwa tersebut sempat membuatnya terkejut, Jeje bersyukur tidak mengalami cedera serius.
“Setelah kejadian itu saya sadar, mungkin hadiah dari Tuhan pada saat itu adalah kesehatan dan keselamatan. Kadang kita baru menyadari nikmat itu setelah melewati ujian,” ujar Om Jeje.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga kerendahan hati dan tidak merasa paling tahu. Dalam setiap perlombaan, Jeje berusaha menempatkan dirinya sebagai seorang “underdog”.
Menurutnya, pola pikir tersebut membantunya tetap fokus dan tidak lengah saat menghadapi risiko di lintasan.
“Saya selalu mengingatkan diri bahwa saya bukan siapa-siapa. Saya hanya ingin bisa menyelesaikan balapan dengan selamat dan menjadi pribadi yang lebih baik,” katanya.
Sebagai pembalap reli Dakar, Jeje menekankan pentingnya persiapan kendaraan, menjaga fokus saat berkendara, serta mengelola emosi selama perjalanan, hal yang menurutnya juga relevan bagi masyarakat yang akan melakukan perjalanan mudik jarak jauh.
(INFO KINI)
Penulis: Tim Media Servis
Masuk tirto.id
































