Tidying Up with Marie Kondo: Kapitalis Jepang Perampok Duit Pemalas

Infografik Misbar Tidying Up with Marie Kondo
Cuplikan serial Netflix, Tidying Up with Marie Kondo. Youtube/Netflix.
Oleh: Akhmad Muawal Hasan - 25 Januari 2019
Dibaca Normal 4 menit
Kita memasuki era yang ganjil di mana beres-beres rumah jadi aktivitas yang asing sekaligus berat, sampai Kondo mampu mengkapitalisasinya lewat omong kosong “pemicu kegembiraan” dalam metode KonMari.
tirto.id - Marie Kondo hampir selalu tersenyum. Lebar-lebar pula. Saya sampai memandangnya bukan sebagai perempuan yang ramah, tapi creepy. Apa ia tidak mengenal emosi lain? Apa itu sikapnya sehari-harinya? Atau hanya ketika disorot kamera?

Kondo selalu tersenyum saat mampir ke rumah satu keluarga yang meminta bantuannya mengorganisir baju, buku, alat-alat dapur, hingga isi garasi. Ia adalah konsultan beberes—dan ya, pekerjaan ini benar-benar ada. Kisahnya disuguhkan Netflix dalam sebuah reality show bertajuk Tidying Up with Marie Kondo, yang mengudara sejak 1 Januari 2019.

Mario Kondo memulai profesi sebagai tukang beres-beres profesional di Jepang pada umur 19 tahun. Semua berangkat dari hobi. Pelanggannya adalah teman-temannya sendiri. Bayarannya dianggap sebagai uang saku tambahan.

Pada 2011 Kondo menerbitkan buku pertamanya, The Life-Changing Magic of Tidying Up, yang tak disangka-sangka laris manis hingga jilid yang ketiga. Buku tersebut telah diterbitkan ke dalam belasan bahasa dan terjual di lebih dari 30 negara. Buku mencapai status “best selling” di Jepang dan Eropa, dan pada 2014 diterbitkan di Amerika Serikat.

Kondo berubah status jadi selebriti. Dalam delapan episode Tidying Up with Marie Kondo, ia sebenarnya sedang mempraktikkan apa yang ia tulis di buku. Ia memperkenalkan metode KonMari yang inspirasinya datang dari ajaran tradisional Jepang, Shintoisme.

Mula-mula Kondo akan meminta penghuni duduk bersama untuk mengheningkan cipta. Tujuannya untuk membangun koneksi dengan rumah sekaligus berterima kasih kepada rumah yang telah melindungi dari panas dan hujan.

KonMari dipraktikkan dengan mengumpulkan satu barang menjadi satu tumpuk besar dalam satu waktu. Ada beberapa kategori barang yang Kondo sortir sesuai urutan. Pertama baju, lalu buku, kertas, komono (barang di dapur, kamar mandi, garasi, serta barang pelengkap lain), dan barang yang sentimentil (mengandung memori, berharga).


Misalkan, setelah semua baju ditumpuk, Kondo meminta pemiliknya untuk menyortir satu persatu. Jika satu baju “memicu kegembiraan” saat dipegang, maka baju itu layak disimpan. Jika tidak, maka baju harus disingkirkan—baik dibuang, atau disumbangkan ke pihak lain (opsi kedua lebih populer sebab tergolong aksi derma).

Drama akan muncul jika si empunya rumah terlalu sayang dengan barangnya. Salah satu episode bahkan menunjukkan pemilik barang yang menangis atau berkonflik dengan penghuni rumah lain, terutama akibat capek usai menata rumah selama seharian penuh.

Tidying Up with Marie Kondo tiba-tiba membuat orang-orang di Jepang, AS, Eropa, dan kawasan lain terobsesi dengan cara melipat baju yang bisa diletakkan vertikal serta tersimpan dalam posisi serta urutan yang lebih keren di lemari.

Mereka merenungkan kembali soal kepemilikan seluruh barang yang ada di rumah, atau khawatir tidak bisa menata isi garasi atau isi dapur sesuai standar yang ditetapkan Kondo.

Jika Anda termasuk golongan yang menganggap beres-beres sebagai kegiatan yang sepele, Anda sudah mengerutkan kening sejak mendengar konsep serial. Tapi Anda akan lebih geregetan lagi saat menontonnya, terutama oleh sikap para pemilik rumah yang memperlakukan Kondo seperti seorang juru selamat.

Apakah memang beres-beres kini menjadi kegiatan yang sebegitu asing sekaligus berat untuk dilakukan? Menurut pasangan pemilik salah satu rumah yang kehidupannya mapan sekaligus super-normal, jawabannya adalah iya.

Tapi apa harus sampai menyewa konsultan seperti Kondo? Tidakkah cukup dengan memotivasi diri sendiri untuk kemudian meluangkan waktu beres-beres?

Demi Tuhan, ini soal merapikan isi lemari, bukan kebimbangan pindah agama.


Pada dasarnya Kondo cuma seorang kapitalis Jepang yang merampok uang para pemalas dari berbagai belahan di dunia, baik dengan menyewa jasa konsultasinya, membeli bukunya, atau sekedar menjadi penggemar di akun Instagram.

Orang-orang yang terbiasa beres-beres, baik generasi sekarang maupun yang terdahulu, akan dengan gampang menilai metode KonMari itu omong kosong belaka. Kondo hanya melekatkan satu aktivitas remeh dengan nilai tertentu yang kesannya segar, lalu mengkapitalisasinya dalam beragam bentuk.

Mengingat Kondo sedang menjual kegembiraan beres-beres, maka wajar ia selalu tersenyum di depan kamera. Ia ingin menyampaikan pesan bahwa inti dari KonMari adalah penyortiran yang menghasilkan rasa bahagia setelah semuanya tertata—sebagaimana yang ia ungkapkan dalam buku.

Meski demikian, jika mau skeptis, ada banyak pertanyaan yang muncul mengenai konsep kegembiraan dalam KonMari.

Misalnya, dalam proses penyortiran, sebenarnya bagaimana standar kegembiraan itu bekerja? Bukankah barang-barang yang ada di rumah banyak yang mula-mula dibeli karena fungsinya, bukan karena menghasilkan perasaan senang selama memakainya?

Dengan demikian, masih dalam konteks fungsionalitas benda, bagaimana jika kita tidak merasa gembira pada satu barang tapi barang tersebut sebenarnya masih dibutuhkan, mungkin tidak saat itu, tapi di masa depan?

Kondo tak pernah merinci seberapa banyak barang yang mesti disimpan atau dibuang. Kebetulan saja orang-orang yang dikunjungi Kondo tipikal hoarder (penimbun), yang meski belum akut, namun memang perlu menyingkirkan sebagian barangnya.

Bagaimana jika seorang non-hoarder menerapkan KonMari tapi hanya 1 persen dari barangnya yang tersingkir karena 99 persen lain memicu “kegembiraan” saat dipegang? Apakah berarti metode tersebut tetap berhasil? Atau gagal? Sebab perasaan itu subyektif, KonMari pun tidak punya ukuran kesuksesan yang jelas.


Saya menyepakati Conctance Grady yang menulis di kanal Vox bahwa Kondo menjual fantasi atas kontrol penuh atas isi rumah. Umumnya orang menegosiasikan ruang dengan barang karena barang yang ada punya hak untuk tinggal. Kondo membaliknya: baranglah yang mesti dinegosiasikan hak tinggalnya.

Si pemilik rumah dipaksa untuk mengurangi jumlah barang karena pada dasarnya barang yang lebih sedikit itu lebih mudah dikontrol. KonMari menimbulkan ilusi kelegaan sementara karena si penghuni rumah hanya mengurus barang yang memicu kegembiraan saat dipegang.

Mengapa sementara? Tentu karena aktivitas harian setelah Kondo merampungkan misinya akan membuat isi rumah berantakan kembali. Maka pertanyaan selanjutnya adalah: apakah satu kali pengorganisiran yang dipandu Kondo sudah cukup untuk mengubah mental si pemilik rumah agar tidak mengulangi kemalasan yang sama di masa depan?



Tidak lupa juga, KonMari mengandung jebakan yang jarang disadari orang-orang. Sementara metode tersebut seakan turut mempromosikan gaya hidup anti-konsumerisme yang menjunjung filosofi minimalisme, kenyataannya tidak demikian. Jika dihitung-hitung, gaya minimalis sebenarnya juga menguras kantong.

Barang tidak selamanya awet, terutama yang murah, sehingga yang berstatus “pemicu kegembiraan” pun suatu hari perlu diganti. Mau beli barang yang jauh lebih awet? Harganya pasti juga jauh lebih mahal. Rumusnya klasik: rego nggowo rupo. Kualitas setara dengan harganya.


Liciknya, Kondo juga membuka usaha penjualan barang-barang pendukung metode KonMari (boks kecil, dan lain sebagainya). Menurut catatan Conctance Grady dipatok mulai dari harga $89 (Rp1,26 juta) per set, alias lebih mahal dari harga normal.

Manuver ini cukup mengherankan sebab di buku Kondo menyebut agar pemilik rumah memakai barang pendukung seadanya. Ia kemudian berdalih bahwa barang pendukung di AS tidak standar Jepang, sehingga ia menjual yang berstandar Jepang. Secara tersirat: yang lebih cocok untuk program KonMari.

Barang pendukung seharga $89 per set itu berisi boks-boks kecil yang secara fungsi serupa dengan boks kecil pada umumnya. Hanya saja para penggemar Kondo terkesan dengan keindahan desainnya, sehingga terasa lebih menggembirakan saat digunakan. Pantas, barang pendukung ini laris manis di pasaran.

Pesan moralnya: berhati-hati lah dengan seseorang yang mendaku diri sebagai konsultan gaya hidup, mempromosikan aktivitas remeh dengan bungkus nilai yang kesannya mengandung kebaruan, tapi ujung-ujungnya jualan produk bikinan sendiri.

Acara Tidying Up with Marie Kondo mengundang penilaian pedas dari para kritikus dan penonton. Bekalnya argumen yang kurang lebih sama dengan pertanyaan-pertanyaan saya di atas. Alexandra Spring, misalnya, menulis ulasan dengan pesan singkat yang amat solutif di Guardian:

“Marie Kondo, kamu tahu enggak apa yang bisa benar-benar memicu kegembiraan? Beli lebih sedikit barang-barang tak berguna. Sebab barang-barang tak berguna itu tidak akan musnah begitu saja—ya mengotori daratan, ya jadi polusi di lautan!”

Baca juga artikel terkait KONSUMERISME atau tulisan menarik lainnya Akhmad Muawal Hasan
(tirto.id - Film)

Penulis: Akhmad Muawal Hasan
Editor: Windu Jusuf
DarkLight