Tidak Semestinya Anak Jadi Solusi untuk Hubungan Beracun

Ilustrasi hak anak yang hilang dari buah perceraian. iStockPhoto/Getty Images
Oleh: Aditya Widya Putri - 25 Agustus 2020
Dibaca Normal 3 menit
Banyak pasangan urung berpisah karena anak, padahal tumbuh dalam hubungan beracun pun buruk bagi perkembangan mental anak.
Menikah, membesarkan anak bersama, dan tumbuh menua dengan hanya satu orang. Begitulah impian umum penganut hubungan monogami. Tapi jalan hidup tak semudah itu, kerikil-kerikil kehidupan terkadang membawa mereka pada satu keputusan pahit: perceraian.

Selang berjalannya waktu, kehidupan berpasangan bagi sebagian orang nyatanya dirasa tak semanis romansa. Perceraian adalah salah satu jalan yang diambil untuk memulas kembali kebahagiaan satu sama lain.

Tapi menapaki jalan perceraian juga tak mudah, dalam masyarakat kita pasangan yang memilih berpisah dianggap cacat nilai. Ada stigma-stigma yang akan menempel pada kedua belah pihak karena status janda atau duda, demikian juga keturunan mereka yang tak luput dilabeli “anak broken home”.

Anak-anak dari keluarga broken home diyakini punya perkembangan mental yang buruk. Sebab, mereka tak mendapat gambaran keluarga utuh dan punya peluang besar mengalami trauma akan relasi romantis di masa depan.

Dari segi ekonomi, perceraian membuat pihak yang mendapat hak asuh harus memutar otak untuk mencukupi kebutuhan sandang, pangan, pendidikan, dan kesehatan anak. Karena tetek bengek persoalan anak itulah banyak pasangan pada akhirnya memilih bertahan meski kehidupan pernikahannya tak lagi harmonis.

“Ibu berpikir bahwa anak akan tumbuh lebih baik bila orangtuanya utuh, jadi dia urung bercerai,” ujar Laksmi Wijayanti kepada Tirto beberapa waktu lalu. Laksmi (31 tahun) adalah seorang anak yang tumbuh dalam asuhan keluarga broken home. Ia bercerita tentang alasan ibunya bertahan dalam hubungan beracun.

Laksmi lahir dari orangtua yang tidak punya kecocokan sejak awal menikah. Hari-hari Laksmi dibesarkan penuh dengan percekcokan dan kekerasan fisik antara ayah ibunya. Sisa-sisa luka dan lebam di tubuh sang ibu belum cukup jadi alasan bercerai, sampai ayahnya menikah lagi dan memaksa poligami sepihak.

“Mereka baru bercerai tahun 2007 lalu. Tapi itupun saya sudah lega luar biasa,” tutur Laksmi. Perpisahan itu telah memutus rantai stres dan depresi yang ia dan ibunya rasakan.

Untuk sampai ke sebuah keputusan bercerai, orangtua Laksmi butuh waktu berpikir panjang. Bercerai memang bukan keputusan mudah, apalagi bagi banyak orang pernikahan adalah ritual sakral yang tak boleh dinodai. Walhasil, banyak pasangan memilih bertahan.

Sebuah ulasan Psychology Today membahas alasan-alasan mengapa orang-orang ini tetap bertahan di pernikahan toksik. Selain mayoritas karena anak, menghindari perebutan hak asuh dan sebagainya, ada juga yang beralasan demi kestabilan ekonomi.

“Tekanan ekonomi selama resesi membuat mereka takut kehilangan asuransi kesehatan dari pasangan dan perlindungan jaminan sosial.”

Sisanya berkutat dengan masalah keyakinan agama dan rasa enggan berurusan dengan pengacara serta birokrasi pengadilan yang panjang. Beberapa prinsip dari keyakinan tertentu melarang perceraian, atau setidaknya keras menganjurkan pemeluknya tidak melakukan hal tersebut.


Bertahanlah Hanya Jika Benar-Benar Mau Bertahan

Kesampingkan alasan-alasan bertahan dalam hubungan beracun. Entah itu demi anak atau bukan, kenyatanya fenomena ini umum terjadi di banyak keluarga. Salah satu kisah tersohor datang dari miliarder Warren Buffet dan istrinya, Susan Thompson.

Selama 20 tahun dari 50 tahun usia pernikahan mereka, secara de jure Buffet dan Thompson masih berstatus suami-istri. Tapi dalam dunia nyata mereka berpisah sejak Thompson pergi ke San Fransisco saat usia pernikahan mereka menginjak umur 30 tahunan.

Setelah pergi dari rumah, Thompson meminta sahabatnya, Astrid Menks “mengurus” Buffet. Tapi Menks dan Buffet justru jatuh cinta, memilih tinggal bareng, dan akhirnya menikah setelah Thompson meninggal. Bertahan dalam hubungan seperti ini kata Psikiater dan terapis pernikahan Scott Haltzman, dapat merusak status individu yang terlibat.

“Menghambat dalam melanjutkan hubungan sehat dengan orang lain. Coba, bagaimana menjelaskannya? Tidak benar-benar menikah, tapi tidak juga bercerai,” katanya dalam wawancara dengan jurnalis Psychology Today, Rita Watson.

Tirto bertanya kepada Gracia Stephanie, Psikolog Ibunda.id, platform penyedia layanan kesehatan mental di Indonesia, soal peluang rujuk pasangan dengan alasan khusus, utamanya anak. Memang pernikahan bisa saja berlanjut, tapi tentu tidak lagi hangat, dan sulit dipertahankan dalam jangka panjang.

“Bertahanlah karena komitmen. Jangan cuma buat status tapi semua harus berproses jadi lebih baik, komunikasi, relasi,” kata Gracia.

Teori triangular of love dari Robert J. Sternberg mengemukakan tiga komponen cinta, yaitu keintiman, gairah, dan komitmen. Hubungan berpasangan akan terasa pincang jika salah satu dari ketiganya hilang.

Maka, untuk melekatkan kembali benang rumah tangga yang telah kusut, pasangan harus mengurai terlebih dulu akar masalah mereka. Kemudian saling introspeksi, mengakui kesalahan, siap meminta maaf, dan memaafkan. Jika sulit mengawalinya, Anda bisa minta bantuan profesional seperti psikolog.

Tahap selanjutnya, lihat tanda-tanda trauma pada anak. Jika mereka jadi sering menangis, gampang marah, atau nilai-nilainya merosot, artinya mereka pun butuh bantuan. Bawa anak untuk konseling agar luka masa kecilnya bisa diobati.


Tentu Buruk Tumbuh dalam Hubungan Beracun

Anak broken home identik melekat pada mereka yang tumbuh sebagai anak dengan berbagai gangguan mental, kurang kasih sayang, dan buruk dari sisi pendidikan. Tak mau anak tumbuh menjadi pribadi demikian, sebisa mungkin orangtua berusaha menghadirkan gambaran utuh keluarga bagi anaknya.

Meski berdarah-darah, peluang untuk tetap bersama terus dicoba. Hingga hal yang luput mereka pertimbangkan, bahwa tumbuh dalam hubungan beracun pun buruk bagi perkembangan anak. Ada banyak contoh di luar sana yang menunjukkan bahwa perceraian justru jadi jalan bagi pasangan dan anak untuk kembali waras.

“Saat ini, masing-masing orangtua saya jauh lebih berbahagia (setelah bercerai). Saya juga belajar menerima dan memaafkan, mereka dan saya berhak bahagia,” Primadita Rahma (29 tahun) mengawali cerita tentang dirinya dan keluarga baru.



Dita pernah menjalani hari-hari penuh tekanan sama seperti Laksmi. Untung saja ibunya cepat sadar dan mengajukan cerai. Kini baik ibu maupun ayahnya telah menjalani kehidupan baru dengan keluarga masing-masing. Mental Dita pelan-pelan membaik, ia tumbuh jadi anak berprestasi dan yang terpenting, tak perlu lagi mendengar ribut-ribut di rumahnya.

“Anak memang bisa berperan memperbaiki hubungan, tapi jika alasannya hanya itu maka komunikasi pasangan akan tetap jelek dan tegang secara emosi,” Gracia kembali menegaskan pentingnya komitmen ketika memilih rujuk.

Anak-anak yang dibesarkan dalam hubungan beracun tetap bisa merasakan ketakutan, stres, dan trauma. Pertumbuhan mental dan otaknya berpotensi terganggu karena merasa tidak aman secara emosional dan terpapar stres tingkat tinggi.

“Anak cenderung sering bertengkar, kemampuan sosialnya kurang, dan mungkin saja berpengaruh saat punya relasi lawan jenis karena mereka tidak melihat contoh solusi dan kompromi dalam keluarga,” lanjutnya.

Memang, ketika menjadikan anak sebagai alasan damai maka struktur keluarga tak berubah sehingga anak tak perlu beradaptasi ulang. Kondisi ekonomi juga mungkin tetap sama, jadi beban rumah tangga bisa dibagi berdua. Tapi perseteruan yang berlanjut dalam rumah tangga juga tak lebih baik dari perceraian, sama-sama memengaruhi pola asuh anak.

Kasih sayang seperti apa yang diharapkan dari orangtua yang energinya sudah habis untuk masalah kerja dan pasangan?

Baca juga artikel terkait RUMAH TANGGA atau tulisan menarik lainnya Aditya Widya Putri
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Aditya Widya Putri
Editor: Windu Jusuf
DarkLight