tirto.id - Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga, Riva Siahaan, tengah menjadi sorotan publik usai penyidik Kejaksaan Agung (Kejagung) menetapkan dirinya sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi tata kelola minyak mentah dan produk kilang pada PT Pertamina.
Di tengah ramainya pembicaraan tentang Riva dan kasus ini, beredar di media sosial, sebuah unggahan dalam bentuk video yang memperlihatkan seseorang mengenakan rompi tahanan sedang mencampur bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite ke Pertamax.
Keterangan dalam unggahan itu menyebut bahwa orang di video adalah Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga, Riva Siahaan, yang sedang mencontohkan cara mengoplos BBM jenis Pertalite menjadi Pertamax, sebagai salah satu modus korupsi yang dilakukan.
Narasi tersebut diunggah oleh akun Threads bernama “arya_embun.id” (arsip) pada Rabu (26/2/2025) lewat unggahan video.
“Inilah cara direktur utama pertamina mengoplos pertalite dan pertamax,” bunyi keterangan teks dalam video tersebut.
Sepanjang Rabu (26/2/2025) hingga Kamis (27/2/2025) atau selama sehari tersebar di Threads, unggahan ini telah memperoleh 1,3 ribu tanda suka, 620 komentar dan 1,4 ribu kali dibagikan.
Lantas, bagaimana kebenaran video tersebut? Benarkah bahwa video tersebut menunjukkan Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga sedang mencontohkan cara mengoplos BBM jenis Pertalite menjadi Pertamax?
Penelusuran Fakta
Tirto melakukan penelusuran dengan mengamati video tersebut dari awal sampai akhir. Kami menemukan sejumlah kejanggalan dalam video tersebut.
Pertama, ada keanehan dari seragam yang dikenakan petugas Kejagung dalam video. Dalam video, nampak petugas Kejagung memakai seragam setengah berwarna coklat tua dan setengah berwarna oranye seperti rompi yang digunakan tersangka. Ini anomali, mengingat seragam pakaian dinas harian (PDH) Kejagung secara aturan berwarna coklat tua.
Kedua, rompi oranye yang digunakan tersangka Riva dalam video juga nampak berwarna oranye. Padahal, rompi tahanan milik Kejagung sendiri diketahui berwarna pink. Ketiga, gerakan tangan Riva dalam video tersebut nampak tidak natural. Saat mencelupkan tangan ke gelas berisi Pertalite, tangannya nampak tidak basah.
Keempat, saat menuangkan gelas berisi Pertalite ke Pertamax, gelas berisi Pertamax nampak tidak tumpah mesti telah dituang seluruh isi gelas berisi Pertalite.
Kelima, di akhir video, nampak gelas yang berisi Pertalite tiba-tiba menghilang secara tidak normal.
Di sisi lain, kami juga mendapatkan petunjuk utama berupa adanya watermark bertuliskan "Antara Foto" dalam video tersebut.
Tirto lalu menelusuri asal usul dan konteks video tersebut menggunakan teknik Google reverse image search. Hasilnya, kami menemukan momen dalam video tersebut identik dengan foto yang diunggah Antaraberikut.
Konteks momen asli foto tersebut adalah Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga, Riva Siahaan, yang berada di tengah foto, berjalan memasuki mobil tahanan usai ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan korupsi dalam tata kelola minyak mentah dan produk kilang.
Namun, dalam foto asli tersebut, Riva nampak mengenakan rompi warna pink seperti milik Kejagung bukan oranye seperti dalam video. Selain itu, petugas Kejagung yang mendampinginya juga mengenakan seragam PDH berwarna coklat tua milik Kejagung.
Unggahan tersebut juga hanya berbentuk foto bukan video. Menariknya, tidak ditemukan momen dimana Riva sedang mencontohkan cara mengoplos BBM jenis Pertalite menjadi Pertamax seperti yang tertera dalam klaim unggahan.
Verifikasi dilanjutkan dengan menelusuri video lain terkait penahanan Riva oleh Kejagung yang diunggah sejumlah media lain di YouTube. Serupa, kami juga tidak menemukan adanya momen Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga itu sedang mencontohkan cara mengoplos BBM jenis Pertalite menjadi Pertamax.
Sejumlah kejanggalan ini mengindikasikan bahwa video tersebut merupakan hasil manipulasi menggunakan kecerdasan buatan (artificial intelligence). Indikasi ini diperkuat dengan ditemukannya watermark bertuliskan “pixverse.AI” pada ujung kanan atas video.
Sebagai informasi, PixVerse AI Video Generator adalah platform berbasis kecerdasan buatan atau AI yang dirancang untuk membuat video secara otomatis dari teks, gambar, atau skrip. Dengan menggunakan platform ini sangat memungkinkan untuk melakukan manipulasi gambar foto menjadi video yang bergerak.
Berdasarkan hasil temuan serta analisis ini, kemungkinan besar video yang disertakan dalam unggahan adalah hasil manipulasi menggunakan AI, tepatnya platform PixVerse AI.
Video tersebut berasal dari foto asli yang diunggah oleh Antara, kemudian dimanipulasi menjadi video yang bergerak menggunakan PixVerse, seolah-olah Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga, Riva Siahaan, yang sedang mencontohkan cara mengoplos BBM jenis Pertalite menjadi Pertamax.
Kami kemudian mencoba mencari perangkat kecerdasan buatan lain yang dapat digunakan untuk memanipulasi foto.
Hasil pencarian kami mengarahkan ke video Planet AI berikut dan tutorial ini dari kanal yang sama. Penjelasan dari video tutorial di YouTube menyebut, setiap konten AI yang dibuat akan memberikan hasil yang tidak sama. Namun, setidaknya cara ini menunjukkan cara untuk membuat foto diam menjadi terkesan bergerak, yang mengindikasikan bahwa ada kemungkinan bahwa video tersebut dibuat oleh AI.
Teknik manipulasi serupa pernah kami temukan dalam video klaim Bobby Nasution memeluk perempuan berikut ini.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelusuran fakta yang dilakukan, kami tidak menemukan bukti asli adanya video Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga, Riva Siahaan, yang sedang mencontohkan cara mengoplos BBM jenis Pertalite menjadi Pertamax.
Potongan video yang beredar kemungkinan besar berasal dari foto milik Antara. Foto tersebut kemudian dimanipulasi menggunakan perangkat AI, Pixverse.AI, menjadi video yang bergerak.
Jadi, video yang memperlihatkan Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga, Riva Siahaan, yang sedang mencontohkan cara mengoplos BBM jenis Pertalite menjadi Pertamax bersifat salah dan menyesatkan (false and misleading).
==
Bila pembaca memiliki saran, ide, tanggapan, maupun bantahan terhadap klaim Periksa Fakta dan Decode, pembaca dapat mengirimkannya ke email factcheck@tirto.id.
Editor: Farida Susanty