Menuju konten utama

Tersinggung karena Patung

Patung lele dan kecapi di Bekasi dirobohkan karena lele dianggap simbol kerakusan dan buah kecapi dianggap buah murah.

Tersinggung karena Patung
Petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pemkab Tuban, Jawa Timur, dengan menggunakan alat berat "crane" menutup patung Dewa Perang Kongco Kwan Sing Tee Koen dengan kain putih di Kelenteng Kwan Swie Bio, Minggu (6/8). ANTARA FOTO/Aguk Sudarmojo.

tirto.id - Bertepatan dengan 40 hari wafatnya Abdurrahman Wahid pada Februari 2010, sejumlah seniman di Magelang berinisiatif untuk membuat karya rupa patung. Bertempat di Studio Mendut milik seniman Sutanto Mendut, sekitar tiga kilometer Timur Candi Borobudur, Cipto Purnomo membuat patung berjudul "Sinar Hati Gus Dur" dengan bentuk mirip Buddha tapi wajahnya Gus Dur berkaca mata. Seniman lainnya membuat patung "Gunung Gus Dur" (Ismanto), "Presiden Di Sarang Penyamun" (Samsudin), dan "Gladiator Gus Dur" (Sujono).

Tidak ada hal yang menghebohkan dari pembuatan patung tersebut, sampai DPP Pemuda Theravada Indonesia memprotes karya Cipto karena dianggap melecehkan simbol agama Buddha. Patung berbahan batu alam warna putih dengan lubang di dada yang dipasangi properti lampu listrik warna hijau itu lantas ditutup dengan tumpukan dahan berbentuk gunungan. Cipto sebagai pencipta patung itu meminta maaf karena karyanya telah menyinggung umat Buddha. Ia menyatakan sama sekali tidak bermaksud menghina.

KH Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf, pengasuh Pondok Pesantren Tegalrejo yang turut hadir dalam peluncuran patung, secara khusus menyebutkan bahwa Cipto tidak punya maksud melecehkan agama tertentu.

"[K]arya itu maksudnya sebagai ekspresi seni. Tetapi senimannya harus minta maaf kalau ternyata karyanya dianggap menyinggung pihak lain. Pihak yang tersinggung juga harus bisa memahami," katanya seperti dikutip Antara.

Di Magelang, pada 1985, sejumlah stupa di Candi Borobudur, Jawa Tengah, hancur berantakan karena ledakan bom. Seperti dicatat Historia, polisi menangkap para pelaku empat bulan setelah peledakan. Pelakunya adalah Abdul Kadir bin Ali al-Habsyi dan Husein bin Ali al-Habsyi, dua bersaudara. Di pengadilan, jaksa mendakwa mereka meledakkan Borobudur sebagai aksi balas dendam atas peristiwa Tanjung Priok 1984. Mohammad Jawad, yang dituding Husein sebagai otak peledakan, sampai saat ini belum tertangkap.

Penolakan terhadap patung dan upaya vandalisme situs budaya bukanlah hal baru. Di Tuban patung Kong Co Kwan Sing Tee Koen setinggi 30 meter yang berada di parkiran Klenteng Kwan Sing Bio menjadi perhatian warga Indonesia. Patung yang diperkirakan menghabiskan dana Rp2,5 miliar itu dianggap kontroversial karena diduga belum memiliki IMB. Selain itu, keberadaan patung dianggap tidak sesuai dengan Indonesia. Tokoh yang dibuat patung dianggap berasal dari kebudayaan Tiongkok.

Sekelompok masyarakat yang memprotes keberadaan patung itu menganggap masih banyak tokoh Indonesia lain yang layak dibuat patung. Padahal, Klenteng Kwan Sing Bio adalah lokasi peribadatan dan patung Kong Co Kwan Sing Tee Koen dibangun di atas tanah klenteng. Patung tersebut dibangun sebagai bagian dari keyakinan di klenteng.

Sebelum protes patung Kong Co Kwan Sing Tee Koen di Tuban, hal serupa juga terjadi di Tanjung Balai, Sumatera Utara. Warga memprotes keberadaan Patung Buddha Amitabha di Vihara Tri Ratna. Patung Buddha Amitabha lantas diturunkan pada 27 Oktober setelah ada desakan dari berbagai organisasi masyarakat.

Protes ini bermula sejak 2009 dengan alasan patung tersebut berada di hadapan kiblat, sehingga muslim yang sedang salat secara tak langsung menghadap patung tersebut. Meski pengelola Vihara mengaku menurunkan patung tersebut secara sukarela, banyak aktivis menganggap bahwa penurunan itu bentuk menurunnya toleransi antar-umat di Indonesia.

infografik patung dan situs yang dirusak

Di Indonesia, penolakan dan perusakan patung maupun situs bersejarah tidak melulu lahir dari alasan agama. Pada 2002, Patung Lele dan Kecapi di Jalan Juanda, Bekasi dihancurkan dan dibakar karena alasan yang absurd. Seperti ditulis situs Info Bekasi, organisasi Badan Kekeluargaan Masyarakat Bekasi (BKMB) memprotes patung lele dan buah kecapi karena dianggap tidak mencerminkan masyarakat Bekasi.

Mereka menganggap lele merupakan binatang yang rakus karena memakan segala-galanya sementara buah kecapi adalah buah murah yang banyak tumbuh di Bekasi. Simbol lele yang rakus dan buah kecapi yang murah dianggap merendahkan martabat masyarakat Bekasi. Warga yang diwakili oleh BKMB melayangkan protes pada Moch. Djamhari, Bupati Bekasi yang membangun patung lele dan kecapi itu pada 1995.

Protes itu kemudian membuahkan hasil. Walikota saat itu menurunkan SK untuk pembongkaran patung lele dan buah kecapi, tapi karena patung tak kunjung dihancurkan, warga memutuskan untuk menyelesaikannya. Damin Sada, yang saat itu menjabat sebagai Kepala Desa Srijaya, Kecamatan Tambun, mengambil inisiatif menghancurkan patung tersebut. Tidak berhenti sampai di sana, ia bersama warga membakar patung lele dan buah kecapi hingga habis.

Perusakan patung juga pernah terjadi secara beruntun di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Patung Yesus dan Bunda Maria di Gereja Santo Yusuf Pekerja, Klaten, pada 9 Agustus 2016, dirusak dan dibuang di sungai. Pada hari yang sama, di Goa Sendang Sriningsih, Prambanan, Sleman, patung Bunda Maria dirusak oleh orang yang tidak dikenal. Hingga hari ini, belum jelas bagaimana perkembangan kasusnya.

Pada 24 Juli, lalu situs budaya Calonarang di desa Sukorejo, Kediri, Jawa Timur dirusak oleh orang yang tidak dikenal. Di lantai situs bersejarah itu tertoreh kalimat: "Ini bukan tempat dipuja, Ingat Allah murka seperti Aceh, Sunami." Situs cagar budaya yang diperkirakan dibangun pada periode Majapahit (1293-1478 Masehi) ini pada awal tahun 2014 diubah bentuk aslinya menjadi tempat pemujaan oleh juru kunci tanpa sepengetahuan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Trowulan. Karena kerap dijadikan tempat pemujaan dan ritus klenik, ada orang yang kemudian merusak situs bersejarah itu.

Tidak hanya alasan keagamaan atau rasa malu, penolakan pendirian patung juga terjadi dengan alasan boros dan dianggap tidak etis. Di Jakarta, saat ramai rencana kunjungan mantan presiden Amerika Serikat Barack Obama, sekelompok warga negara AS bersama teman-teman sekolah Obama dulu membentuk yayasan nirlaba Friends of Obama yang dipimpin oleh Ron Mullers.

Pada 2010, yayasan ini membangun patung Obama kecil dengan biaya 100 juta rupiah. Pada mulanya, patung itu diletakkan di Taman Menteng, tapi karena ada protes warga, patung itu dipindahkan ke SDN 01 Menteng.

Penolakan patung karena dianggap pemborosan juga pernah terjadi di i Kalianda, Lampung Selatan, Lampung. Patung Zainal Abidin Pagaralam dirobohkan warga pada akhir Maret 2012. Sejumlah warga berupaya merusak bagian dasar atau fondasi patung itu dengan peralatan pencongkel, kemudian setelah memastikan fondasi terbuka, mereka menariknya dengan mengikat leher patung itu dengan tali, lalu ditarik dengan kendaraan besar sampai roboh lantas dibakar.

Masyarakat memprotes pembangunan patung tersebut karena dianggap pemborosan APBD yang mencapai Rp1,1 miliar. Massa menolak keberadaan patung tersebut di tengah-tengah kondisi kemiskinan dan infrastruktur publik daerah itu yang seharusnya justru perlu diprioritaskan pembenahannya.

Baca juga artikel terkait PATUNG atau tulisan lainnya dari Arman Dhani

tirto.id - Sosial budaya
Reporter: Arman Dhani
Penulis: Arman Dhani
Editor: Maulida Sri Handayani