Kolumnis
Peneliti di Departemen Sejarah, UGM, Alumnus Pascasarjana Leiden University, akan menerbitkan buku tentang KAA

Silang Budaya Patung Guan Yu di Tuban

Kolumnis: Wildan Sena Utama
08 Agustus, 2017dibaca normal 2:30 menit
Beberapa hari terakhir media sosial heboh dengan polemik pendirian patung Konco Kwan Sing Tee Koen yang menjulang setinggi 30 meter di Klenteng Kwan Sing Bio, Tuban. Patung yang diresmikan oleh Ketua MPR pada 17 Juli lalu diributkan karena dianggap merupakan simbolisasi penjajahan Cina atas wilayah Indonesia. Ada juga yang menganggap bahwa patung itu merupakan situs berhala yang mengusik keimanan umat Islam.

Dua alasan itu, plus/terutama aksi demonstrasi di Tuban menolak keberadaan patung,  dianggap sudah cukup oleh Pemerintah Kabupaten Tuban untuk melakukan penutupan patung dengan kain putih. Meski Pemkab Tuban beralasan bahwa penutupan kain putih didorong oleh perizinan patung yang bermasalah.

Polemik patung yang lebih dikenal sebagai Kwan Kong atau Guan Yu ini mulai terangkat mengemuka di media sosial terutama dengan membandingkan tinggi patung ini dengan patung Sudirman di Jakarta yang hanya bertinggi sekitar 12 meter. Banyak kalangan yang meributkan mengapa jenderal Cina yang tidak punya jasa terhadap bangsa Indonesia dibangun semegah dan setinggi itu, sedangkan masih banyak pahlawan Indonesia yang seharusnya diangkat sosoknya. Mulailah pendirian patung itu dikaitkan dengan ketidaktahudirian orang-orang Tionghoa yang merupakan pendatang di Indonesia sampai muncul anggapan bahwa patung tersebut adalah upaya Cina menjajah Indonesia.

Argumentasi yang mengkaitkan pendirian patung Guan Yu dengan penjajahan soft power negara Cina atas Indonesia merupakan analisis yang mengada-ada. Apalagi jika analisis tersebut dihubung-hubungkan dengan kepemimpinan Jokowi yang pemerintahannya dianggap lebih condong bekerjasama dengan Cina.

Jika patung ini dikaitkan dengan tindakan semena-mena orang Tionghoa, patung ini sebetulnya telah ditempatkan sesuai dengan konteksnya. Patung Guan Yu ini didirikan bukan di tengah alun-alun kota, tapi di dalam kompleks peribadatan. Mungkin sebagai penghormatan atas sosok Guan Yu yang dianggap sakral oleh masyarakat Tionghoa di seluruh dunia, bahkan telah disakralkan sejak masa Dinasti Sui (518-618).

Guan Yu merupakan jenderal besar yang berperan penting dalam pendirian negara Shu Han, yang dipimpin oleh Liu Bei, pada masa Tiga Kerajaan (220-280). Ia dikenal sebagai salah satu figur bersejarah di sepanjang Asia Timur berkat kepopuleran novel historis Romance of Three Kingdoms.

Di balik kepiawaiannya dalam bertempur, sosoknya digambarkan sebagai tokoh yang menghargai kesetiaaan dan kejujuran. Tidak hanya dalam tradisi agama rakyat Tiongkok sosok Guan Yu dianggap sebagai salah satu dewa, Konfusianisme menganggapnya sebagai dewa kesusasteraan, Taoisme memujanya sebagai dewa pelindung dari peperangan, dan dalam tradisi Buddha ia dianggap sebagai pelindung Dharma.

Menempatkan patung tersebut di kompleks peribatadan adalah penegasan dari aspek sakral sosok Guan Yu. Membangunnya di kompleks ibadat menjadikan sosok Guan Yu tidak semata-mata sebagai tokoh historis. Mengabaikan posisi sakralnya dalam tata kepercayaan, dan melulu menakar sosoknya dari perspektif historis-profan, inilah yang memungkinkan komparasi historis dengan Jenderal Soedirman atau memancing argumen: memangnya tidak ada pahlawan asal Tuban yang bukan orang Cina?  

Namun, meletakkan patung Guan Yu sebagai wujud sakral, membuat posisi patung itu terbuka untuk dianggap berhala yang, bagi kalangan Islam konservatif, adalah musyrik.  

Kasus patung yang dianggap sebagai berhala dan karenanya dinilai musyrik bukan kali pertama terjadi. Pada 2010, patung tiga mojang karya seniman Nyoman Nuarta di Bekasi dirobohkan sekelompok ormas Islam sebab dianggap seronok dan mencitrakan ajaran agama Hindu. Pada 2016, patung Arjuna Memanah di Purwakarta habis dibakar menyusul nasib patung Gatot Kaca, Semar, dan Bima, yang terlebih dahulu dihancurkan pada 2011 karena dianggap tidak merepresentasikan nilai keislaman yang kuat di Jawa Barat. Di Tanjung Balai, patung Buddha yang terletak di dalam lokasi rumah ibadat juga diturunkan secara tragis karena mayoritas wilayah itu dihuni umat Islam.

Pendirian patung Guan Yu menurut saya tidak boleh dilihat sesempit dan sepicik itu, meskipun Islam tidak mengenal tradisi pembuatan patung seperti dalam agama lain. Pendirian patung itu saya kira tidak bermaksud untuk menunjukkan superioritas agama tertentu atau menganggu keimanan umat Islam. Patung ini didirikan sebagai sebuah monumen dan lebih untuk menarik perhatian turis asing dan domestik agar pariwisata Tuban terangkat. Toh, sosok Guan Yu yang disembah oleh orang yang datang beribadat tetap berada di dalam kuil.

Lagi pula, sebagai negara yang beranekaragam dan secara historis didirikan untuk menghormati dan merawat keanekaragaman itu, apakah keimanan kita, umat Islam, akan langsung menyusut karena keberadaan patung seperti itu?

Pendirian patung ini mesti dilihat secara bijak dalam kerangka yang lebih luas, sebagai kemajemukan, bukan dalam kerangka sempit, mayoritas-minoritas. Denys Lombard dalam karya monumentalnya Nusa Jawa, Silang Budaya mengatakan bahwa Indonesia, atau lebih spesifiknya Jawa, dilewati oleh tiga kebudayaan besar, yaitu Islam, India, dan Cina. Masing-masing dari kebudayaan itu memberikan nafas atau saling berpadu dalam membentuk kebudayaan kita.

Oleh sebab itu tidak ada yang aneh sebetulnya kalau salah satu unsur tersebut menjadi corak yang mewarnai identitas kebudayaan kita. Patung Guan Yu adalah silang budaya ke-Indonesia-an kita.

Jangan sampai identitas kita yang majemuk diseragamkan menjadi satu identitas yang kaku. Jangan sampai pula pandangan keagamaan yang sempit menghancurkan identitas keindonesiaan yang majemuk. Jangan sampai pula kebencian terhadap etnis dan agama tertentu melahirkan ketakutan seniman-seniman kita untuk berekspresi. Saya percaya kita tidak sebodoh dan sesempit itu.

*) Opini kolumnis ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi tirto.id.

Keyword