tirto.id - Tepian Batang Mandau di Desa Balai Pungut, Kecamatan Pinggir, Kabupaten Bengkalis, Riau kini berkembang sebagai destinasi wisata yang dikelola oleh masyarakat. Perubahan ini pun turut membuka peluang ekonomi bagi warga setempat.
Pada masa lalu, aliran Sungai Mandau menjadi jalur utama logistik industri migas di wilayah Duri, Bengkalis. Selama puluhan tahun, sungai ini dilintasi banyak perahu. Aktivitas harian warga Desa Balai Pungut pun bertumpu pada aliran sungai ini.
Potensi keindahan alam dan warisan sejarah di kawasan tersebut sempat terabaikan. Objek wisata menarik di tepian Sungai Mandau tidak dikelola secara optimal. Kunjungan wisata di sana memang ada, tetapi hanya terbatas di momentum liburan tertentu.
Sementara keterbatasan fasilitas membuat potensi ekonomi kawasan itu sulit berkembang. Banyak warga menggantungkan hidup pada pendapatan harian yang tidak menentu.
Perubahan mulai terjadi melalui Program Pengembangan Desa Wisata Berbasis Masyarakat yang didukung PT Pertamina Hulu Rokan (PHR). Program ini diarahkan untuk memperkuat tata kelola kawasan wisata dan mendorong tumbuhnya aktivitas ekonomi berkelanjutan.
Dukungan PHR mencakup penguatan kapasitas Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dan masyarakat. PHR juga melengkapi sarana pendukung pariwisata di kawasan itu dengan menyalurkan bantuan seperti sampan, dayung sampan, alat memancing, dan pelampung.
Selain itu, masyarakat mendapatkan pelatihan manajemen usaha kuliner dan community based tourism. Program yang sama juga mendukung pembukaan area kuliner lokal hingga memfasilitasi penyewaan sampan dan perahu wisata.
Ketua Pokdarwis Desa Wisata Balai Pungut, Erwin, mengatakan pengembangan kawasan wisata yang didukung oleh PHR ini telah memberikan dampak nyata pada perekonomian warga.
Warga desanya sekrang terlibat dalam pengelolaan operasional perahu wisata, memberikan pelayanan kepada pengunjung, hingga menjaga kebersihan kawasan. Ramainya kunjungan wisatawan turut menghidupkan warung-warung kuliner dan jajanan lokal yang dikelola oleh warga Desa Balai Pungut.
"Sekarang sungai ini bukan hanya tempat kami beraktivitas sehari-hari, tapi juga mulai menjadi sumber penghasilan masyarakat. Sedikit demi sedikit kampung kami mulai hidup dari wisata yang kami kelola bersama," kata Erwin baru-baru ini.
Selain menawarkan wisata sungai, Balai Pungut juga memiliki sejumlah potensi lain, seperti wisata kuliner, budaya, dan religi. Di kawasan ini, terdapat rumah adat tradisional sekaligus makam tokoh ulama yang dikenal sebagai penyebar Islam pertama di wilayah Mandau.
Berbagai agenda budaya pun rutin digelar oleh masyarakat setempat. Salah satunya festival pacu sampan yang berlangsung di bulan Agustus dan November dan menambah daya tarik kawasan itu.
Manager Community Involvement and Development (CID) PHR, Iwan Ridwan Faizal, menilai Desa Balai Pungut memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata berbasis masyarakat. Dia mengatakan, keterlibatan warga dalam pengelolaan lokasi wisata bisa memberikan manfaat ekonomi sekaligus memperkuat keberlanjutan destinasi.
"Ketika masyarakat terlibat sebagai bagian utama dalam pengelolaan wisata, manfaatnya tidak hanya dirasakan dari sisi pariwisata, tetapi juga mampu membuka peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar," ujarnya.
Saat ini, Tepian Batang Mandau mulai menarik kunjungan wisatawan yang ingin menikmati objek wisata sungai, suasana desa yang masih asri, dan kuliner perdesaan.
Tempat tersebut menjadi destinasi baru wisata keluarga yang menawarkan pengalaman unik menikmati keindahan tepian Sungai Mandau. Banyaknya wisatawan yang berkunjung setiap hari bahkan berhasil mengerek pendapatan UMKM kuliner lokal.
Pengembangan kawasan tersebut juga memperkuat posisi Desa Balai Pungut sebagai salah satu destinasi wisata berbasis masyarakat di Bengkalis yang mengandalkan potensi alam, sejarah, dan budaya lokal.
(INFO KINI)
Penulis: Tim Media Servis
Masuk tirto.id


































