tirto.id - Teori siklus memiliki kontribusi penting bagi pengkajian sosial kemasyarakatan lantaran memperlihatkan proses perjalanan manusia yang penuh dinamika. Simak pengertian teori siklus menurut para ahli dan contohnya di dalam artikel ini.
Secara umum, manusia maupun kelompok sosial di suatu lingkup tertentu pasti pernah mengalami perubahan, perkembangan, atau penurunan. Proses ini terjadi di berbagai sektor, baik ekonomi, politik, sosial, budaya, dan lain-lain.
Menurut Bagja Waluya dalam Sosiologi: Menyelami Fenomena Sosial Masyarakat (2007), siapa pun tidak bisa mengendalikan perubahan dalam teori siklus. Adapun arti siklus itu sendiri mencakup kejadian yang kesannya berulang.
Pengertian Teori Siklus Menurut Para Ahli
Teori siklus merupakan salah satu jenis teori perubahan sosial. Teori siklus perubahan sosial adalah teori yang memandang bahwa setiap masyarakat memiliki siklus yang harus dilalui.
Ciri-ciri teori siklus yang paling mencolok adalah keberadaan pola-pola berulang dalam sejarah manusia. Teori siklus menjelaskan proses perkembangan masyarakat, transformasi berdasarkan siklusnya, hingga akhirnya mengalami kemunduran.
Ibnu Khaldun pernah menyebutkan perihal teori siklus di dalam ranah kesejarahan alias siklus sejarah. Ia berpendapat bahwa masyarakat akan mengalami kebangkitan, kegemilangan, kemerosotan, dan keruntuhan secara berulang-ulang.
Cendekiawan muslim ini menerangkan bahwa berbagai pengulangan dalam kehidupan masyarakat terjadi akibat adanya kesalahan serupa. Pemikiran dari studi sosiologi ini terus mengalami perkembangan.
Teori siklus perubahan sosial menurut Oswald Spengler dan Arnold Toynbee adalah dua pendapat yang sejalan dengan Ibnu Khaldun. Berikut ini bentuk perubahan sosial siklus menurut mereka berdua.
Teori Siklus Perubahan Sosial Menurut Oswald Spengler
Oswald Spengler merupakan filsuf asal Jerman yang mempelajari tentang sejarah peradaban. Dikutip dari laman Utkal University, Spengler menjabarkan teori siklus pada 1918 melalui buku The Decline of the West.Spengler berpendapat bahwa setiap masyarakat mengalami perkembangan melalui siklus perubahan sosial yang berulang. Ia menganggap bentuk perubahan sosial siklus seperti pertumbuhan manusia, yakni masa kanak-kanak, remaja, dewasa, dan tua.
Oswald Spengler menyampaikan keterangan ini setelah melihat kondisi peradaban Barat pasca Perang Dunia I. Ia mengaku bahwa peradaban Barat termasuk yang paling kreatif, bahkan pernah mencapai puncak kejayaan pada Abad Pencerahan atau Renaissance.
Akan tetapi, melihat kondisi pascaperang saat itu, Oswald menilai bahwa peradaban Barat tengah menuju kematian. Menurutnya, hal ini sesuai dengan teori siklus mulai dari kelahiran, kebangkitan, dan kemunduran.
Setelah keruntuhan, masyarakat Barat akan mengulang tahap kelahiran kembali dan mengulangi siklus yang sama. Dalam bukunya, ia mengatakan sebagai berikut:
"Peradaban adalah takdir kebudayaan yang tak terelakkan, dan dalam prinsip ini kita memperoleh sudut pandang yang mampu memecahkan permasalahan-permasalahan morfologi sejarah yang terdalam dan paling parah.
Peradaban adalah keadaan yang paling eksternal dan artifisial yang mampu dimiliki oleh spesies umat manusia yang sudah maju.... Peradaban adalah suatu tujuan, tidak dapat dibatalkan, namun karena kebutuhan batin, hal itu dapat dicapai berulang kali."
Teori Siklus Perubahan Sosial Menurut Arnold Toynbee
Teori siklus Arnold Toynbee mengemuka pada awal ke-20, kemudian mewujud buku berjudul A Study of History dengan isinya yang sebanyak 12 jilid. Arnold Toynbee menyempurnakan buah pemikiran Spengler.Arnold Toynbee dan Spengler memang mempunyai ketertarikan yang sama terkait peradaban manusia. Lebih dari itu, kedua ahli ini memang hidup pada zaman yang serupa.
Dalam bukunya berjudul Civilization on Trial (1948), Toynbee sempat berpikir bahwa mungkin ide dan pertanyaannya tentang peradaban sudah terjawab oleh teori siklus perubahan sosial menurut Oswald Spengler.
Ia merasa lega setelah mengetahui bahwa buku teori siklus Oswald Spengler tidak menjawab pertanyaan tentang gen peradaban. Menurut Toynbee, Spengler cenderung mengadopsi pendekatan dogmatis sehingga siklus terjadi sesuai takdir dan tanpa ada penjelasan lanjutan.
Teori siklus Arnold Toynbee lebih mempercayai adanya hubungan antarperadaban, kemudian berpotensi membentuk peradaban baru. Hal ini memiliki perbedaan dengan teori Spengler yang lebih mengarah kepada pemisahan peradaban.
Secara umum, dua tokoh teori siklus perubahan sosial itu menyimpulkan hal yang sama. Suatu peradaban akan wajib melewati tiga tahap, yaitu masa muda, kedewasaan, dan kemunduran.
Kendati demikian, teori siklus Arnold Toynbee mengembangkan tiga tahap tersebut. Tahap pertama "respons terhadap tantangan", kedua "masa sulit", dan ketiga "degenerasi bertahap".
Teori siklus menurut ahli bernama Arnold Toynbee terjadi sebagai bentuk respons heroik dan susah payah terhadap tantangan lingkungan. Pada awalnya hal ini memiliki keterkaitan dengan lingkungan fisik.
Kemudian, skalanya terus mengalami peningkatan hingga ke lingkungan sosial dan politik. Adapun bentuk perubahan sosial siklus menurut Toynbee meliputi kelahiran, pertumbuhan, kemandegan, dan disintegrasi karena peperangan.
Contoh Teori Siklus
Peserta didik dapat melihat contoh teori siklus dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, teknologi, politik, hingga gaya hidup. Menurut Sri Suntari, dalam Modul Pelatihan Guru Mata Pelajaran Sosiologi SMA (2016), salah satu contohnya yaitu perubahan mode masyarakat.
Misalnya, jenis sepatu yang tren pada 2021 berupa sepatu Mary-Jane adalah model sepatu yang pernah populer pada era 80-an. Selain itu, beberapa gaya rambut era pop kembali menarik perhatian sekarang.
Contoh teori siklus lainnya juga bisa mencakup permasalahan maupun cara seseorang berpolitik. Misalnya beberapa pemimpin politik masyarakat modern yang berusaha meniru gaya kepemimpinan pemimpin era sebelumnya.
Ada juga contoh negara-negara baru yang mulai tumbuh dan menjadi maju usai perang berakhir. Misalnya, Jepang setelah Perang Dunia II berakhir mengalami krisis sosial dan ekonomi yang tinggi.
Jepang berhasil melewati krisis dan membangun peradaban yang lebih maju seiring berjalannya waktu. Bahkan, negaranya menjadi terdepan dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi, dan budaya.
Contoh Teori Siklus dalam Kehidupan Sehari-hari
Siswa-siswi bisa pula menemukan contoh teori siklus di dalam kehidupannya sehari-hari. Salah satu contoh yang memperlihatkan bentuk teori siklus yaitu siswa berprestasi dan banyak mendapatkan penghargaan.
Untuk memperoleh prestasi tersebut, siswa tersebut tentu ingin mempelajari berbagai hal baru. Oleh karena itu, ia akan memiliki semangat yang tinggi dalam mendapatkan pengetahuan.
Kegiatan ini membawa siswa tersebut menuju puncak kejayaan akademisnya, bahkan berhasil memperoleh gelar olimpiade. Semangat belajarnya kemudian turun karena ia merasa olimpiade tersebut sudah usai.
Ketika ada gelaran olimpiade berikutnya, siswa tersebut mesti mempelajari kembali sejumlah pengetahuan yang dibutuhkan. Oleh sebab itu, peserta didik akan mengulang lagi semangat belajarnya yang tinggi.
Ingin mempelajari lebih banyak pembahasan seputar mata pelajaran lainnya dan lebih lengkap? Pastikan untuk terus melihat informasi terbaru tentang materi ajar di bawah ini.
Editor: Fadli Nasrudin
Penyelaras: Yuda Prinada
Masuk tirto.id






































