Target Bauran Energi Terbarukan 23 Persen di 2025 Dipastikan Gagal

Oleh: Vincent Fabian Thomas - 25 September 2019
Dibaca Normal 1 menit
Target bauran energi terbarukan sebesar 23 persen di 2025 dipastikan gagal lantaran pertumbuhan ekonomi nasional bergerak stagnan di angka 5 persen setiap tahun.
tirto.id - Kementerian ESDM memperkirakan target bauran energi terbarukan sebesar 23 persen di 2025 sulit untuk direalisasikan lantaran pertumbuhan ekonomi nasional bergerak stagnan di angka 5 persen setiap tahun.

Direktur Panas Bumi Ditjen Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Kementerian ESDM, Ida Nuryatin Finahari menjelaskan bahwa target bauran energi terbaru ditetapkan pemerintah dengan asumsi pertumbuhan ekonomi di kisaran 7-8 persen.

“Tercapai enggak kalau begini? Ya enggak karena pada saat kami menyusun ini dari pertumbuhan ekonomi Indonesia sangat optimis. Saat itu 7-8 persen, sementara saat ini hanya 5 persen,” ucap Ida di Jakarta, Rabu (25/9/2019).

Menurut Ida, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) sudah mengeluarkan proyeksi terkait target bauran EBT di 2025. Jika pertumbuhan ekonomi hanya berkisar 5 persen, maka bauran energi terbarukan yang bisa dihasilkan hanya 13 persen pada 2025.

Tak hanya itu, lanjut Ida, target pembangkit listrik EBT sebagaimana tertuang di dalam Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) sebanyak 115 GW di 2030 juga sulit tercapai apabila pertumbuhan ekonomi hanya naik 5 persen.

“BPPT keluarkan outlook EBT dengan asumsi pertumbuhan ekonomi 5 persen. Kontribusi bauran energi nasional hanya bisa 13 persen di 2025,” ucap Ida.

Ida merinci realisasi panas bumi yang ditargetkan sebanyak 6,3 GW per 2025 saja baru tercapai 2 GW. Lalu untuk pembangkit tenaga surya, Indonesia hanya memiliki 928 MW dari target 6.500 MW sampai 2025.

Sementara itu, Ketua Umum Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) Surya Dharma menilai kesulitan Indonesia untuk mengejar target bauran EBT lantaran masih ada persoalan dari sisi kebijakan.

Salah satunya adalah harga yang ditetapkan pemerintah untuk listrik yang dihasilkan EBT belum ideal atau wajar. Hal ini juga dikarenakan pengembangan industri EBT ini tidaklah murah, dan membutuhkan insentif besar.

“Saya ketemu beberapa dubes. Dia sampaikan kami baru saja ketemu pak menteri dan dia mengatakan bahwa ‘silahkan kembangkan selama itu murah'. Kalau energi itu tidak murah ya kira-kira silahkan cari tempat lain,” ucap Surya.


Baca juga artikel terkait TEKNOLOGI PANEL SURYA atau tulisan menarik lainnya Vincent Fabian Thomas
(tirto.id - Ekonomi)

Reporter: Vincent Fabian Thomas
Penulis: Vincent Fabian Thomas
Editor: Ringkang Gumiwang
DarkLight