Anak Muda Bela Lingkungan: dari Bolos hingga Dilarang Sekolah

Penulis: Haris Prabowo, tirto.id - 22 Sep 2019 11:30 WIB
Dibaca Normal 2 menit
Dari anak kecil, remaja hingga orang dewasa turun ke jalan untuk menyuarakan isu lingkungan di depan Istana Negara
tirto.id - Jumat sore (21/09/2019), Taman Aspirasi yang berada di depan Istana Negara, Jakarta Pusat mendadak ramai. Usut punya usut, massa yang terdiri dari anak kecil, remaja hingga orang dewasa ini rupanya sedang menggelar aksi bela lingkungan.

Mereka membawa poster, spanduk, dan aksesoris berbagai warna dengan tulisan bertema isu lingkungan. Misalnya, "Lawan Krisis Iklim!", "Save Our Earth", "Pukul Mundur Krisis Iklim", hingga "Revolusi Energi Terbarukan".

Raut muka sebagian massa yang datang terlihat bersemangat dan riang gembira, meski sebelumnya mereka baru saja berjalan cukup jauh dari Masjid Cut Meutia, melewati Balai Kota, hingga berakhir di seberang Istana Negara, sejak pukul 13.00 WIB.


Aksi yang digelar juga tak melulu meneriakkan tuntutan ataupun jargon lingkungan. Mereka terlihat membagikan makanan dan minuman gratis kepada warga sekitar. Anak-anak bahkan antusias mencoret-coret aspal di depan gerbang Monas memakai kapur berwarna, bertuliskan isu-isu lingkungan.

Dalam aksi itu, mereka membawa panel surya berukuran besar. Listrik yang dihasilkan lantas digunakan untuk mic sound dan mobil listrik. Pemandangan ini mungkin tidak terlihat untuk aksi-aksi pada umumnya, apakah itu soal HAM, isu politik dan lainnya.

Meski begitu, aksi yang diinisiasi oleh sejumlah organisasi lingkungan itu juga menimbulkan konsekuensi. Lantaran aksi dimulai sejak 13.00 WIB, terdapat anak-anak atau remaja yang bolos sekolah.

Anak Indonesia Yang Terinspirasi Greta

Aksi bela lingkungan yang sebagian besar diramaikan oleh anak-anak dan remaja ini, usut punya usut rupanya terinspirasi dari Greta Thunberg, seorang remaja berusia 16 tahun asal Swedia yang getol berjuang dalam menghentikan perubahan iklim.

Dia bahkan pernah mogok makan dan mogok bicara karena kecewa usai menonton tayangan dokumenter tentang dampak perubahan iklim. Greta menonton sembari menangis karena tak tega melihat beruang kutub kelaparan.

Greta juga marah melihat sampah yang memenuhi lautan dan kesal mendengar pemanasan global. Dia tak habis pikir mengapa manusia tidak melakukan upaya berarti untuk membuat lingkungan hidup jadi lebih baik.


Dia menganggap segala kebijakan yang dikeluarkan pemerintah cenderung menguntungkan pihak yang merusak lingkungan hidup. Greta pun memutuskan mogok sekolah demi belajar isu lingkungan, dan menggalang solidaritas.

Semangat Greta dari Swedia tampaknya terpatri ke dalam diri Reza Maulana. Remaja berusia 17 tahun yang baru saja lulus dari salah satu SMK di Jakarta ini mengakui ikut aksi sore itu lantaran terinspirasi Greta.

Sebelum diwawancara reporter Tirto, Reza baru selesai memberikan orasi di mimbar bebas dan menceritakan pengalaman dirinya yang sempat dilarang pihak sekolah untuk ikut aksi isu lingkungan, empat bulan lalu.

Awalnya, Reza bersama kawan-kawannya berencana meminta izin ke kepolisian untuk aksi isu lingkungan di balai kota. Namun, rencana itu terdengar oleh pihak sekolah, dan Reza cs diminta untuk tidak melaksanakan aksi itu.

“Dilarang, tapi saya tetap memberanikan diri untuk tetap berangkat dan terjun ke lapangan. Kami sebenarnya sudah menjelaskan ke pihak sekolah, tapi tetap saja dilarang. Saya enggak peduli,” tutur Reza.

Menurut Reza, isu lingkungan seharusnya sudah menjadi prioritas kita semua. Untuk itu, ia bersama kawan-kawannya akan terus mengajak semua orang, terutama anak muda untuk ikut melakukan perubahan demi lingkungan yang baik.


Pendapat yang sama juga disampaikan Muhammad Amar. Remaja berusia 17 tahun ini menganggap bahwa jika hanya berdiam diri terkait krisis lingkungan, dirinya merasa menjadi bersalah.

“Makanya saya kaget banyak anak-anak yang ikut aksi hari ini. Kami harap anak-anak bisa menyadarkan guru-guru mereka kalau perubahan iklim itu benar-benar nyata dan ada. Dan memang harus diubah mulai hari ini," kata Amar.

Sementara itu, Juru Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia Satrio Swandiko menilai Greta Thunberg tidak saja memberikan inspirasi bagi Indonesia, tetapi juga belahan dunia lainnya.

"Dia keluar dari sekolah, menolak untuk bersekolah, dan datang ke parlemen di Swedia untuk menyuarakan bahwa ia merasa masa depannya sudah terancam karena krisis iklim ini,” ucap Satrio.

Melihat sepak terjang Greta, lanjut Satrio, organisasi lingkungan bersama anak-anak muda juga ingin ikut bersuara terkait krisis lingkungan saat ini. Apalagi, Indonesia saat ini sedang dilanda bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Satrio berharap suara dari anak-anak muda ini bisa didengar pemerintah, sehingga pemerintah dapat segera mengeluarkan kebijakan yang lebih pro lingkungan guna mencegah kerusakan lingkungan yang semakin parah.

Baca juga artikel terkait GLOBAL WARMING atau tulisan menarik lainnya Haris Prabowo
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Haris Prabowo
Editor: Ringkang Gumiwang

DarkLight