tirto.id - Bagi konsumen di era digital, banyak kemudahan yang diperoleh. Mau belanja, tinggal klik, scrol, klik, dan check out di aplikasi. Jeda beberapa hari, barang tersebut sudah tersedia di depan pintu. Mau makan, tinggal pilih, pesan, dan tunggu sekian menit saja. Mau pergi ke suatu tempat tinggal pilih diantar oleh motor atau mobil.
Semua bisa diperoleh hanya melalui aplikasi di genggaman tangan. Tapi, tak cukup dengan kemudahan, kita pun tetap mencari harga murah. Diskon paket pengiriman atau diskon lainnya. Tingginya permintaan itu mau tidak mau berdampak pada para pengemudi dan kurir, apalagi di masa Ramadhan hingga Idul Fitri.
Kisah Kurir Paket Bekerja Sebulan Full
Misalnya saja apa yang dialami oleh Abdullah Rokhim. Sebulan penuh selama momen Ramadhan hingga lebaran 2026, Abdullah Rokhim terus bekerja tanpa henti. Karena jumlah pengiriman melonjak drastis selama bulan yang penuh berkah tersebut, kalender kerja laki-laki 54 tahun itu hampir tidak memiliki tanggal merah. Rokhim bekerja selama tujuh hari dalam sepekan.
Jadwal kerja padat tersebut bukan hal baru. Tahun lalu Rokhim juga bekerja tanpa libur saat Ramadhan hingga lebaran. Namun, yang menjadikannya berbeda, pada tahun ini perusahaan jasa ekspedisi tempatnya bekerja tidak lagi merekrut kurir harian seperti tahun-tahun sebelumnya.
Rokhim tak tahu alasan perusahaan tempatnya bekerja bertahan hanya dengan jumlah kurir yang ada, tanpa tambahan. Padahal di masa-masa itu permintaan akan pengiriman paket bisa melonjak hingga 70 persen.
“Kalau untuk hari biasa itu ada libur. Karena event Lebaran ini nggak bisa libur sama sekali. Soalnya nggak ada yang back up (menggantikan) kalau untuk libur. Semua kurir full selama sebulan. Tahun kemarin ada kurir harian, sekarang nih nggak tahu, nggak ngerti kenapa ini (tidak ada tambahan kurir),” ceritanya kepada Tirto beberapa waktu lalu, dikutip Kamis (19/3/2026).
Meski begitu, Rokhim mengaku tidak masalah. Apalagi, pada saat lebaran ada bonus yang diberikan perusahaan untuk tiap paket. Ayah tiga anak itu bercerita, pada hari-hari biasa per pengiriman paket dihargai sekitar Rp1.800. Namun ketika momen lebaran tiba, para kurir diganjar Rp2.000 per paket.
“Betul, selisih Rp200 per paket. Setiap harinya paling maksimal tuh 150 (paket), maksimalnya. Campur, paket kecil dan paket besar,” ujar kurir yang bertugas mengantarkan paket di wilayah Rumah Susun (Rusun) Pasar Rumput dan Pasar Rumput, Manggarai tersebut.
Sembari memilah-milah paket di pool pengataran paket di Tower 1 Rusun Pasar Rumput, Rokhim bercerita, ia bersedia mengirimkan mengirimkan lebih banyak paket untuk mendapat tambahan upah Rp200 per paket. Meski tidak mudik ke kampungnya, Rokhim yang kini tinggal di daerah Menteng Tengah tersebut mengaku bahwa tambahan pendapatan tersebut sangat dibutuhkannya.
Saat Tunjangan Hari Raya (THR) tidak kunjung turun bahkan sepekan menjelang Lebaran 2026, tambahan pendapatan itulah yang diharapkannya bisa digunakan untuk mengajak tiga buah hatinya berlibur pascalebaran.
“Pulang kampung sih enggak, saya nggak punya kampung,” katanya sambil terkekeh.
“Buat liburan anak-anak aja ntar, setelah lebaran karena lebaran hari pertama masuk, jadwalnya masuk,” tambah Rokhim.
Meski begitu, seperti para pekerja lainnya, Rokhim tetep berharap THR dari perusahaan tempat ia bekerja selama tiga tahun terakhir segera turun. Sebab, selain untuk istri dan anak-anaknya, Rokhim ingin membelikan baju baru untuk mertuanya. Selain itu, ia juga ingin merayakan Idul Fitri dengan sajian ketupat dan opor ayam di meja makannya.
“Aduh! (Kalau nggak ada tambahan) bukan berat-berat lagi. Ya udah lah, mati aja lah udah. Untuk owner (perusahaan tempat ia bekerja), ya, tolong dipikirkan lagi lah nasib para kurirnya. Kita udah kerja keras, tapi kebijakannya sedikit nggak jelas,” sambung Rokhim.

Nasib Driver Ojol di Bulan Ramadhan
Tidak seperti Rokhim, Hendi sedikit lebih beruntung karena bisa mendapatkan tambahan berupa Bonus Hari Raya (BHR) dari mitra aplikator tempatnya bekerja. Tidak hanya itu, bonus yang didapatkannya untuk lebaran tahun ini yang mencapai Rp425.000, jauh lebih besar ketimbang BHR ia yang kantongi di tahun lalu yang hanya sebesar Rp100.000.
Berhubung BHR merupakan bonus yang diberikan oleh aplikator, Hendi mengaku bersyukur dengan berapapun jumlah yang ia terima.
“Kalau saya pribadi ya merasa tetap bersyukur. Dengan adanya BHR tersebut, ya walaupun dengan nominal jumlah yang masih … ya hitungannya tetap di bawah keinginan, tapi iya tetap kita tetap bersyukur. Sehingga ada perhatiannya gitu dari aplikator,” ujar mitra pengemudi tersebut kepada Tirto, Sabtu (14/3/2026).
“Hari ini memang ada peningkatan, di beberapa segmennya ada peningkatan. Kalau kemarin saya cuma Rp100.000 kalau tidak salah, nah sekarang ya naik Rp400.000,” ungkap Hendi.
Berbekal cerita dari kawan-kawannya, Hendi mengetahui bahwa BHR yang diterima mitra pengemudi beragam, rata-rata Rp400.000 hingga Rp800.000. Tergantung tingkatan level yang diraih para pengemudi per Maret 2026.
Berdasarkan pamflet yang diterima Tirto, bagi mitra pengemudi Grab Indonesia yang sudah berhasil mencapai tingkat level ‘Pejuang’ akan mendapat BHR sebesar Rp250.000; Rp300.000 untuk ‘Kesatria’; dan Rp150.000 untuk anggota baru yang berhasil mencapai minimal 70 order selesai pada Februari 2026.
Sedangkan, untuk tingkatkan ‘Jawara’ dengan lama pencapaian 1-2 bulan berturut-turut hingga Maret 2026 layak mendapat BHR senilai Rp350.000; Rp375.000 untuk pengemudi dengan masa pencapaian 3-5 bulan berturut-turut; Rp425.000 untuk masa pencapaian 6-11 bulan berturut-turut. Sedangkan, untuk anggota dengan pencapaian selama 12 bulan beruntun akan mendapatkan BHR sebesar Rp850.000.
“Satu sisi tetap kita merasa bersyukur, kalau berhitung puas ya masih … karena masih di bawah yang diharapkan, ya kita masih kurang puas. Tapi sebetulnya kadang-kadang kawan-kawan ojol itu tidak terlalu, apa ya soal dengan, bahwa namanya BHR ini kan hanya di 2 tahun terakhirnya saja, sebelum-sebelumnya itu tidak ada,” lanjutnya.
Meski begitu Hendi dan teman-teman ojol lainnya merasa besaran BHR itu masih belum seimbang jika mengingat besarnya potongan yang dipungut aplikator selama ini. Besaran bonus yang diberikan masih tak sebanding dengan panasnya aspal jalanan dan biaya operasional yang harus dikeluarkan oleh para driver selama ini.
Sebagai contoh, program harga yang lebih hemat bagi konsumen, ternyata malah membebankan biaya tambahan bagi mereka yang menarik kemudi. Kata Hendi, untuk bisa mendapatkan orderan, driver harus ‘membeli’ pekerjaan tersebut. Dengan potongan rata-rata Rp2.000 per orderan melalui skema tertentu, seorang driver bisa kehilangan hingga Rp20.000 per hari hanya untuk memastikan aplikasi mereka terus berbunyi.Bukan hanya di program hemat, di layanan standar pun kondisinya tak jauh berbeda. Ketimpangan antara apa yang dibayar konsumen dengan apa yang masuk ke kantong driver semakin lebar, saat konsumen membayar Rp16.000-Rp17.000, upah yang diterima pengemudi tetap di angka Rp10.400, dengan potongan bisa mencapai 30 persen hingga 40 persen.
Angka Rp10.400 itu mungkin terlihat cukup untuk sekali jalan, namun jika dikurangi biaya bensin yang cukup tinggi, servis motor, hingga potongan aplikasi yang mencekik, sisa uang yang bisa dibawa pulang untuk keluarga di rumah saat lebaran terasa sangat tipis. Ditambah lagi, kondisi di mana banyaknya pengemudi yang pulang kampung untuk bertemu sanak saudara selama lebaran, membuat fenomena krisis ojol terjadi.

“Saat ini rata-ratanya masih di atas Rp100.000-Rp200.000 yang masih bisa dibawa pulang. Itu setelah berbagai macam potongan kita, termasuk bensin. Walaupun di aplikasi itu kita bisa dapat Rp200.000-Rp300.000 tapi kan belum hal lainnya, juga belum potongan dan segala macam. Tetap sih yang kebanyakan (dibawa pulang) Rp100.000,” jelas Hendi.
Dengan upah tak seberapa besar yang dibawa pulang, Hendi memutuskan untuk mengorbankan waktunya demi menarik lebih banyak penumpang saat Hari Raya. Maklum, dengan permintaan cukup banyak dari konsumen, namun jumlah pengemudi terbatas, aplikator bersedia memberikan bonus lebih besar per perjalanan ojol.
"Biasanya ada (tarif) lumayan biasanya. Cuma kan kita juga harus berani mengobarkan waktu untuk tidak merayakan lebaran. Kita harus tetap jalan, gitu aja," ucap pengemudi yang acap kali berkendara hingga lintas provinsi tersebut.
Krisis Ojol di Masa Ramadhan
Soal krisis ojol, Head of Driver Operations Gojek, Bambang Adi Wirawan berujar, pada periode akhir Ramadhan atau menjelang libur Hari Raya Idul Fitri, Gojek mendapati adanya perubahan pola pemesanan atau lonjakan tingkat permintaan pada jam-jam sibuk. Utamanya, di area bisnis di pusat Jakarta.
"Jam sibuk dimulai lebih awal dibanding hari-hari lainnya di luar bulan Ramadhan, yakni sejak pukul 15.30 hingga mencapai puncaknya pada pukul 16.00-18.00 WIB," tuturnya dalam keterangan yang diterima Tirto.
Di sisi lain, kata dia, sebagian mitra driver Gojek yang beroperasi di kota-kota besar ada yang telah pulang kampung atau memilih menghabiskan waktu bersama keluarga masing-masing saat akhir Ramadan.
Menurut Bambang, berdasar data Gojek tahun 2025, mitra driver kembali beraktivitas secara bertahap dalam 1-2 minggu setelah Hari Raya Idul Fitri. Kembalinya mitra driver beraktivitas dilakukan bersamaan dengan kembali normalnya aktivitas masyarakat setelah periode libur Lebaran.
"Di luar hal-hal tersebut, faktor eksternal seperti cuaca hujan yang menyebabkan genangan di beberapa titik serta berakibat pada kepadatan lalu lintas turut mempengaruhi ketersediaan mitra driver," urainya.

Sementara itu, Director of Mobility, Food, and Logistics Grab Indonesia Tyas Widyastuti menyatakan memang ada reaksi masyarakat terkait waktu tunggu lebih lama di Jabodetabek. Hal ini dinilai karena adanya peningkatan berbagai layanan di Jabodetabek.
Sebab, saat masa Ramadhan terdapat perubahan perilaku konsumen yang terjadi saat menjelang waktu berbuka. Misalnya, permintaan untuk mengirim makanan, layanan ojol biasa, dan layanan pengiriman paket.
"Dalam beberapa waktu terakhir, permintaan terhadap berbagai layanan Grab di Jabodetabek meningkat hingga 35 persen dibandingkan dengan periode normal," tutur Tyas dalam keterangannya.
Jumlah mitra pengemudi Grab tetap stabil saat masa Ramadhan. Namun, jumlah jam kerja mitra disebut lebih pendek selama masa Ramadhan.
Pasalnya, mitra pengemudi Grab disebut mengambil istirahat saat berbuka atau menghindari kepadatan lalu lintas saat sore hari.
"Kenaikan ini terjadi seiring perubahan pola mobilitas selama Ramadhan, di mana puncak permintaan dari berbagai layanan muncul pada waktu yang hampir bersamaan, terutama pada jam pulang kantor untuk GrabBike, waktu persiapan berbuka puasa untuk GrabFood, serta lonjakan permintaan pengiriman melalui GrabExpress," lanjut dia.
BHR dan Keadilan untuk Pekerja Informal Lainnya
Sementara soal BHR, sebagai penguatan ekosistem ekonomi digital yang adil, inklusif dan berkelanjutan, pada tahun ini Grab mengalokasikan Rp100 miliar hingga Rp110 miliar untuk dibagikan kepada mitra pengemudi ojek maupun taksi online. Dalam pembagiannya, BHR disusun berdasarkan tingkat produktivitas dan aktivitas mitra sepanjang periode penilaian.
Untuk kategori penerima tertinggi, mitra GrabBike akan memperoleh BHR hingga Rp850 ribu, sedangkan mitra GrabCar menerima bonus di kisaran Rp1,6 juta. Sebaliknya, untuk nominal terendah, mitra GrabBike akan mendapat BHR senilai Rp150 ribu dan Rp200 ribu untuk mitra GrabCar.
"Grab hadir untuk Indonesia, senantiasa mendukung program Presiden RI Prabowo Subianto untuk memperkuat ekosistem ekonomi digital yang adil, inklusif, dan berkelanjutan," kata Chief Executive Officer Grab Indonesia Neneng Goenadi dalam keterangan resminya, dikutip Sabtu (21/3/2026).
Sama halnya dengan Grab, Gojek juga mengalokasikan anggaran sebesar Rp110 miliar untuk BHR mitra ojol. Direktur Utama/CEO GoTo, Hans Patuwo mengatakan BHR keagamaan bukan sekadar bentuk dukungan finansial, tetapi juga wujud semangat kekeluargaan yang selalu dijaga di GoTo.
"Kami bersyukur para Mitra terus mempercayakan Gojek dan GoTo sebagai tempat memperoleh pendapatan dan tumbuh bersama. Dengan semangat ini, kami menyalurkan BHR sebagai bentuk apresiasi GoTo atas kontribusi mitra dalam menjaga kualitas serta keandalan layanan kepada pelanggan dalam 12 bulan terakhir, dengan tetap mempertimbangkan kemampuan perusahaan," ucapnya dalam keterangan resmi.

Pada kesempatan terpisah, pakar transportasi, Azas Tigor Nainggolan menjelaskan penghargaan berbasis performa sekaligus dukungan moral dan finansial dari aplikator kepada para mitra pengemudi menjelang Hari Raya. Sehingga, skema BHR tidak dapat disamakan dengan kewajiban normatif seperti tunjangan hari raya pada hubungan kerja formal.
"BHR ini sifatnya diskresi atau kebijakan dari aplikator, apakah mereka ingin memberi atau tidak. Jika perusahaan memberikannya, itu adalah bentuk apresiasi agar para mitra bersama keluarganya bisa merayakan Lebaran dengan tambahan dukungan materi dari perusahaan,” ujar dia dalam keterangan yang diterima Tirto.
Meski begitu, perusahaan perlu menetapkan kriteria agar kebijakan tersebut tetap berkelanjutan secara finansial, baik bagi aplikator maupun mitra pengemudi. Perbedaan tingkat keaktifan mitra, misalnya antara pengemudi yang hanya beroperasi 1-2 jam per hari dengan mereka yang aktif penuh waktu, menjadi salah satu pertimbangan wajar dalam menentukan besaran apresiasi yang diberikan aplikator.
Namun di sisi lain, Azas mengingatkan agar perhatian terhadap pekerja sektor informal tidak hanya difokuskan kepada sektor transportasi daring. Sebaliknya, pemerintah perlu mendorong kebijakan yang lebih merata bagi pekerja di sektor informal lainnya.
"Sektor informal lain juga perlu mendapatkan perhatian serupa agar tercipta rasa keadilan," tambahnya.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Rina Nurjanah
Masuk tirto.id

































