Al-Ilmu Nuurun

Taha Abdurrahman & Islam sebagai Modernitas Alternatif Selain Barat

Taha Abdurrahman. tirto.id/Quita
Oleh: Zacky Khairul Umam - 14 Mei 2020
Dibaca Normal 4 menit
Bagi Taha Abdurrahman, Islam adalah modernitas. Menawarkan alternatif di luar dominasi Barat.
Pemikiran Taha Abdurrahman masih samar-samar terdengar di Indonesia. Saya mengenal filsuf itu pertama kali dari tulisan Mohammed Hashas, sarjana dari Maroko yang bekerja di Italia, beberapa tahun lalu. Kawan-kawan yang kuliah di Maroko juga kerap mengutip tulisan Abdurrahman di media sosial mereka.

Semakin jelas ketika sarjana-pemikir Palestina, Wael Hallaq, dalam Reforming Modernity (2019) menyebut Taha Abdurrahman memutus gaya pemikiran dari periode al-Nahda (Renaisans Arab), atau liberal age dalam istilah sejarawan Albert Hourani. Dalam wacana umum, periode al-Nahda ini berlangsung sejak abad ke-19 hingga masa Taha Husayn tahun 1930-an.

Hallaq menyebut titik kulminasi dari periode kebangkitan itu justru muncul pada era pasca-1967 dengan tampilnya figur intelektual seperti Mohammed Arkoun, Abed al-Jabiri, Nasr Hamid Abu Zayd, dan seterusnya. Periode ini ditandai wacana nasionalisme, marxisme, sekularisme, islamisme politik, dan liberalisme. Abdurrahman, dalam timbangan Hallaq, memutus mata rantai pengaruh isme-isme besar tersebut, lalu memulai sebuah bangunan epistemologi baru dengan sistematis.

Modernitas Alternatif

Proyek filsafat Abdurrahman sebagaimana ditulis dalam Ruh al-hadathah (Semangat Modernitas, 2006) ialah untuk keluar dari pemaksaan modernitas Barat. Dalam pandangan Abdurrahman, modernitas Barat pada kenyataannya berjalan dalam laju kegagalan etis. Maka, peradaban non-Barat, dalam hal ini Islam, perlu membangkitkan ruh, spirit, atau semangat dari modernitas itu yang digali dalam tradisi etis.

Abdurrahman menyuarakan apa yang oleh sosiolog Israel, Shmuel Eisenstadt (2002), dinamakan ‘modernitas yang jamak’ (multiple modernities). Teori Eisenstadt yang sedang ngetren ini berputar pada persoalan bahwa pandangan klasik soal modernitas, berdasarkan pengalaman Barat, tidak dapat dipraktikkan untuk semua masyarakat dari kebudayaan lain yang sama-sama berhak merengkuh modernitas.

Hallaq belakangan mengembangkan hal serupa dan, melalui kerangka pemikiran Abdurrahman, ia ingin memperkuat suatu modernitas alternatif dari tradisi Islam yang sudah mulai didiskusikan dalam The Impossible State (2014). Anehnya, Hallaq tak mengutip dan merujuk pada Eisenstadt—barangkali karena masalah politik kedua negeri mereka yang tak pernah akur. Abdurrahman, sebagaimana Eisenstadt dan Hallaq, berpikir bahwa potensi untuk ‘menjadi modern’ atau ‘menjadi baru’ (al-hadathah) itu banyak dan tidak tunggal sebagaimana digambarkan Barat.

Abdurrahman dengan pembacaan filsafat Barat yang luas dari berbagai spektrum mempertanyakan konsep utama dari masa Pencerahan, terutama rasionalisme. Rasionalitas Barat dengan tepat dibungkusnya sebagai kebudayaan khusus, bukan umum, untuk seluruh manusia (non-Barat). Rasionalitas Barat melalui berbagai kanal pemikiran yang juga masuk ke dalam gorong-gorong di seluruh dunia seolah-olah menjadi hal utama. Mempertanyakan hal ini, Abdurrahman lalu menggali apa yang menjadi inti dalam Islam, yakni etika. Ia membangunkan "konsep yang mati" untuk membangun "konsep baru", karena konsep Barat tak mewakili tradisi Islam yang ratusan tahun berkembang, lalu berusaha dipaksakan.

Supaya tidak hanyut dalam kebangkrutan etis, Abdurrahman menggali lebih dalam persoalan ini secara mendasar. Ia seakan-akan meneruskan apa yang sudah dirintis Muhammad Iqbal melalui etika dalam Al-Qur’an dan lalu dibedah secara hermeneutis oleh Fazlur Rahman. Di antara pemikir lain yang juga mengacu pada etika, Abdurrahman berperan paling besar dalam membangun fondasi kuat. Hadis Nabi yang menyatakan “sesungguhnya aku diutus untuk memperbaiki karakter yang mulia” perlu diletakkan sebagai panduan luhur, tidak berada di bawah rasio atau nalar. “Kualitas khas dari manusia ialah moral, bukan nalar; sebab tidak setiap yang pintar itu bermoral, sementara setiap yang bermoral itu pintar,” tegasnya.

Masyarakat Islam berhak berpikir dan berfilsafat yang berbeda, sebagaimana ditegaskan dalam istilahnya: fi-l-ikhtilaf al-fikri dan fi-l-ikhtilaf al-falsafi. Tulisnya, “Faidhan la budda an tadkhula al-hadathah al-salihah fi-l-mumarasat al-islamiyyah!” (Maka, engkau seharusnya memasuki modernitas yang baik dan reformis dalam pengalaman keislaman!). Diktum yang lain ditulis tanpa artikel definitif al- yang spesifik, “La insan bi-ghayr akhlaq” (Tidak ada kemanusiaan tanpa etika).

Landasan pemikiran etis Abdurrahman berangkat dari konsep amanah atau kepercayaan yang Allah berikan kepada manusia sebagai khalifatullah untuk berbuat kebajikan di muka bumi. Amanah ilahi ini sifatnya menyeluruh, terkait dengan tanggung jawab manusia terhadap sesama, alam, dan seluruh makhluk hidup tanpa mereduksi keragaman dan kemajemukan di dalamnya. Amanah ini menentukan kualitas kemanusiaan dan peradaban. Karena bumi dan kehidupan ini amanah yang dititipkan Tuhan, maka konsekuensinya manusia harus bertanggung jawab untuk menjaga dan memeliharanya (siyanah dan ri’ayah).

Dari konsep amanah itu, ia membangun paradigma mandat (al-i’timaniyyah) sebagai kritik tajam atas sekularisme ateis, teori etika modern, dan landasan Islamisme politik. Ia juga menolak pembagian yang taksa dalam konsep klasik seperti akal versus wahyu, agama versus politik, dan dini versus dunyawi. Paradigma ini berfungsi sebagai sebuah intan yang berkilau dalam kemanusiaan.

Ajaran Islam dari soal teoretis-doktrinal hingga praktis (`amali) tidak terpisahkan dan etika adalah kekuatan sentripetal yang dapat mendorong bangkitnya alam pikiran filosofis, tetapi secara umum Islam ingin berkontribusi pada tatanan peradaban majemuk yang tidak materialistik khas Barat. Ethos ini menjadi kunci dalam paradigma akhlaq yang ia bangun. Dalam bahasa filsafat Islam klasik, ini disebut tahdhib al-akhlaq atau ‘penyempurnaan etika’. Akhlak di sini bermakna luas, bukan seperti yang diterima dalam bahasa Indonesia yang seolah-olah menjadi eksklusif maknanya.


Islam: Akumulasi Ajaran Moral & Etika

Ketika membuka buku Semangat Modernitas-nya, saya bertanya mengapa Abdurrahman mengutip surah al-Baqarah ayat 143 tentang ‘umat pertengahan’ (ummatan wasatan) sebagai saksi bagi seluruh manusia. Lalu saya sadar, Abdurrahman sedang mengetengahkan Islam sebagai alternatif moral yang maksimal. Ia mengerti tentang ragam dan pluralisme kebudayaan dengan tuntunan moralnya masing-masing. Dalam telaahnya, Islam kemudian datang relatif terakhir dalam sejarah pewahyuan; maksudnya ialah Islam mengumpulkan warisan akumulasi moral dari masa lalu dalam satu paket sekaligus. Ini menarik jika kita baca pengertian Nabi akhir zaman sebagai pembawa risalah akumulasi ajaran moral. Sehingga, mengacu pada surat di atas, kita mengerti maksud Abdurrahman mengenai umat pertengahan: ummatan wasatan adalah titik konvergensi dari berbagai tradisi kebajikan umat manusia sebelumnya.

Interpretasi tersebut merupakan pemaknaan radikal atas ajaran yang sering kita simak yaitu Islam sebagai agama penyempurna. Penyempurna yang dimaksud ialah kembali pada konsep amanah kemanusiaan untuk bertanggung jawab secara moral pada kehidupan: humanis, ekologis, dan seterusnya. Jika dibaca lebih lanjut: supaya manusia tidak rakus pada jerat logika kapitalisme dan materialisme. Manusia tak memiliki kedaulatan (siyadah) sang Pencipta, sehingga ia tak bisa menggantikan Tuhan untuk mengurus segala hajat hidup di dunia dengan semaunya sendiri.

Tetap dalam paradigma Islam, yang utama ialah praktik. Agama memberikan ajaran etika lalu menuntun akal dan terakhir adalah pengamalan. Abdurrahman secara tegas menunjukkan Islam dalam pengertian kebudayaan tindakan atau hadarat al-fi`l, berbeda dengan Barat yang lebih kuat menekankan logos. Yang utama dalam peradaban Islam ialah ethos. Dengan menggunakan logika, suatu disiplin yang ia kuasai sejak kuliah doktoral di Sorbonne, ia membangun silogisme: “tak ada kemanusiaan tanpa etika, tak ada etika tanpa agama, dan tak ada manusia tanpa agama.” Mendayagunakan ajaran etika dalam beragama, dalam pengertian filosofis dan praktis, adalah inti dari fiqh al-falsafah atau pemahaman filsafat Abdurrahman. Inilah panggilan jihad yang utama.

Ada yang bilang orisinalitas pemikiran Abdurrahman adalah guncangan filsafat, sehingga ia dianggap sebagai al-Ghazali zaman ini. Ada pula yang menilai Abdurrahman sedang menggenjot mundur sepeda ontel tanpa rem karena ia kembali pada metafisika dan mistisisme.

Abdurrahman kuliah di Universitas V Rabat dan melanjutkan doktor di Sorbonne dalam bidang logika. Seperti diungkapkan Hallaq, pemikiran Abdurrahman terbangun dari pertemuan tiga lingkaran: iklim reformasi di Afrika utara (Maroko, Aljazair, dan Tunisia) pada masa 1960-an hingga 1970-an, tren pemikiran di dunia Arab-Islam khususnya dari Mesir hingga Suriah, dan wacana modernitas Barat.

Ia menguasai bukan saja sufisme dan tradisi hukum dalam Islam, melainkan juga ilmu kalam, logika, gramatika, serta sistem Neoplatonik dan Aristotelian. Semuanya berperan besar dalam bangunan filsafat moral dan kritik modernitasnya. Ia juga fasih dalam tradisi filsafat Yunani, Jerman, Perancis, dan Inggris. Barangkali yang juga penting ialah afiliasinya dengan tarekat Budshishiyyah yang berperan cukup kuat dalam struktur kekuasaan di Maroko. Tarekat Budshishiyyah adalah cabang dari Qadiriyyah yang sukses merekrut kelompok elite dan intelektual di negeri itu. Di lingkaran istana di negeri Afrika utara, ia memperoleh penerimaan yang sangat baik.

==========

Redaksi Tirto kembali menampilkan rubrik khusus Ramadan "Al-Ilmu Nuurun". Tema tahun ini adalah para cendekiawan muslim global abad ke-20 dan ke-21. Kami memilih 33 tokoh untuk diulas pemikiran dan kontribusi mereka terhadap peradaban Islam kontemporer. Rubrik ini diampu kontributor Zacky Khairul Umam selama satu bulan penuh.

Zacky Khairul Umam adalah alumnus Program Studi Arab FIB UI dan kandidat doktor sejarah Islam di Freie Universität Berlin. Saat ini sedang menyelesaikan disertasi tentang pemikiran Islam di Madinah abad ke-17. Ia pernah bekerja sebagai peneliti tamu pada École française d'Extrême-Orient (EFEO) Jakarta 2019-2020.

Baca juga artikel terkait AL-ILMU NUURUN atau tulisan menarik lainnya Zacky Khairul Umam
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Zacky Khairul Umam
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight