Al-Ilmu Nuurun

Mohammed Arkoun: Menggali Islam Intelektual, Melawan Islam Politik

Mohammed Arkoun. tirto.id/Quita
Oleh: Zacky Khairul Umam - 29 April 2020
Dibaca Normal 4 menit
Mohammed Arkoun mendorong penggalian Islam sebagai objek historis, bukan hanya agama wahyu. Banyak ditentang kaum Islam politik.
Nama yang tak asing bagi pengkaji pemikiran Islam, Mohammed Arkoun, mengatakan sendiri pada 2009 sebagai bagian dari les chercheurs-penseurs (para sarjana-pemikir). Kategori ini ia gunakan supaya ilmu pengetahuan menjadi tak dingin dan berjarak. Ia berusaha untuk membumikan banyak hasil kesarjanaan tingkat tinggi, termasuk mereka yang berprofesi di menara gading sebagai filsuf, dalam produksi pengetahuan soal masa kini dan mendatang. Tanggung jawab intelektual menjadi kebutuhan mendesaknya.

Tajuk keprofesoran Arkoun di Sorbonne, Paris, bertajuk l’histoire de la pensée islamique (sejarah pemikiran Islam) banyak dijadikan model dalam dunia akademik Perancis dan negeri lain. Sebagai sejarawan pemikiran Islam, ia terpanggil untuk memahami hubungan rumit antara bidang yang digelutinya beserta kaitan strategis dengan intervensi dalam masyarakat. Posisinya bukan khusus untuk menelaah satu bidang, semisal filsafat, teologi, hukum, kajian Al-Qur’an, dan seterusnya, melainkan meliputi semuanya. Pendekatan menyeluruh ini yang membuatnya harus menelisik Islam dalam rentang yang panjang untuk memperoleh formula pada konsepnya yang sering dipinjam tulisan populer di Indonesia: rethinking Islam.

Dalam biografi Mohammed Arkoun: ein moderner Kritiker der islamischen Vernunft (2004), Ursula Günther menyebut Arkoun sebagai pelintas batas. Sejak kuliah pascasarjana era 1950-an hingga masa 1980-an ia banyak meminjam tren perkembangan ilmu sosial dan humaniora di Perancis dan negeri lain, kemudian dimanfaatkan secara kreatif untuk proyek intelektualnya.

Arkoun adalah, dalam bahasa Carool Kersten penulis Cosmopolitans and Heretics: New Intellectual Muslims and the Study of Islam (2011), perintis pelbagai pendekatan baru dalam kajian Islam. Kreativitas Arkoun dalam memanfaatkan perangkat perkembangan ilmu sebelum abad ke-20—mazhab sejarah Annales, post-strukturalisme, post-modernisme, antropologi, dan lain-lain—membuat kritik nalar Islam-nya yang mencangkok semangat Immanuel Kant dengan substansi anyar menjadi seksi dan memikat perhatian banyak intelektual.

Memikirkan Kembali Islam

Keprihatinan intelektualnya membuat dia tak berhenti sebagai seorang pengkaji Islam klasik. Dalam disertasi doktoralnya, ia membahas mengenai konsep humanisme Ibnu Miskawaih, filsuf dan sejarawan Persia abad ke-10/11. Di bawah pengaruh metode sejarah mentalitas ala Perancis, Arkoun lalu membaca humanisme dalam Islam tidak hanya terbatas pada konteks kuno, tetapi meniliknya melalui pembacaan yang lebih luas. Dari sini, ia membuka diri untuk melintasi batas waktu, ruang geo-historis, patahan dan perkembangan, yang tak terpikirkan serta ulang-alik masa kini dan masa lalu dalam membaca Islam.

Pembacaan radikal Arkoun yang inovatif dan interdisipliner sulit diikuti bahkan oleh mahasiswa didiknya sendiri. Dalam iklim pembaharuan Islam dan modernisasi di Indonesia, suara Arkoun malah tampak terdengar nyaring sebagai model alternatif, canggih sekaligus elite, dan interdisipliner. Tak salah jika hasil terjemahan karya Arkoun oleh sarjana tekun dan birokrat ulet, Muhammad Machasin, mendapat gaung yang luas. Bukan hanya itu, banyak intelektual dan aktivis kita haus akan kemajemukan kosa kata Arkoun dari para mahasiswa kritis lulusan IAIN dan universitas di Timur Tengah, khususnya Al-Azhar, yang membaca pemikirannya dari bahasa Arab.

Dekade 1990-an menjelma sebagai masa ketika gairah intelektual tumbuh subur dan penerimaan akan ide luar begitu deras di tengah kebutuhan demokratisasi di mana-mana. Apalagi eklektisisme Arkoun—pemilahan metode dan pembacaan terbaik dari berbagai sumber—cocok dengan kecenderungan intelektual umum di tanah air. Mereka suka sekali dengan apa yang serba baru min abwabin mutafarriqah, dari mana-mana, meski sedikit yang berhasil meramunya dengan baik.

Leksikon Arkoun soal rethinking, logosentrisme pemikiran Islam, dan lain-lain menjadi perbincangan di mana-mana. Applied Islamology, istilah dan kerangka Arkoun yang mencangkok applied anthropology, juga masih menjadi mata kuliah di Universitas Indonesia yang dipimpin Siti Rohmah Soekarba, pengkaji Arkoun dan filsafat Perancis. Arkoun termasuk dalam secuil dari intelektual muslim dunia yang dibicarakan luas di kampus agama maupun kampus umum.

Dengan "memikirkan kembali Islam", Arkoun ingin mengangkat apa yang ia sebut sebagai "Islam yang diam", yakni Islam yang direngkuh para pencari sejati yang mementingkan pada ikatan kepada kemutlakan Tuhan ketimbang gerakan politik. Selain mengkritik revivalisme Islam politik yang berupaya memonopoli wacana tentang Islam dalam ruang publik, sasaran Arkoun sekaligus pada ilmuwan sosial yang tak memedulikan jenis "Islam yang diam" itu. Bagi Arkoun, jenis Islam para pemikir dan intelektual—artinya juga para ulama umumnya dan bukan dai apalagi demagog—perlu dipelajari dan dihidupkan.

“Tujuan akhir dari memikirkan kembali Islam hari ini,” tulis Arkoun (2003), “ialah untuk membangun—melalui contoh yang diterapkan Islam sebagai agama maupun ruang sosial-historis—strategi epistemologis baru untuk kajian perbandingan budaya.”

Tujuan ini sekaligus ingin mengkritik keterbatasan studi agama dan Islam yang kurang sepadan sebelum 2000. Strategi intelektualnya membuat para pembaca untuk memahami struktur wacana setiap masa atau épistème yang tidak tetap. Arkoun juga mengajak untuk membongkar simbol, mitos, tradisi, dan ortodoksi yang tidak selalu sama, serta mencari kerangka baru dalam dunia hari ini.

Sikap ini cukup mewakili apa yang diwariskan Paul Ricouer pada Arkoun, yakni hermeneutika kecurigaan, baik itu atas sejarah panjang beserta fragmentasinya oleh kalangan muslim maupun bias dari orientalisme. Arkoun mendorong upaya menulis ulang seluruh sejarah Islam sebagai agama wahyu di dalam proses evolusi sejarah dalam masyarakat yang menganggapnya masih sebagai agama. Apa yang normatif bisa berubah-ubah dengan apa yang historis.

Untuk menulis ulang itu umumnya dilakukan melalui metode dekonstruksi (ala Derrida) guna mengetahui semesta khayal alias imaginaire tertentu (ala Castoriadis). Dan patut kita akui, kerangka metodologis yang rumit ini kerap direproduksi orang lain secara elitis tanpa diterapkan secara praktis.



Membaca Islam Asia Tenggara lewat Arkoun

Pembacaan Braudelian ala Arkoun pada pentingnya konsep ruang, waktu, skala geografis, dan mentalitas yang melingkupi Islam di dunia Mediterania bisa pula kita terapkan untuk membaca perkembangan Islam di kepulauan Asia Tenggara. Kawasan ini sama-sama pluralnya, bahkan lebih dinamis. Sejarawan Denys Lombard pernah menyebut Asia Tenggara sebagai "Mediterania yang Lain".

Kerap kali dunia intelektual dan aktivisme Islam kita banyak melompat ke sumber Timur Tengah, masa lalu dan masa kini, lalu selesai. Sementara lulusan kampus umum banyak mengacu pada pengalaman kenusantaraan masa klasik, kolonial, dan pascakolonial tanpa melihat konfigurasi dari dunia lain. Arkoun mendorong kita, mungkin dengan sentuhan Lombard, untuk membaca total kecenderungan sosio-historis Islam di Nusantara.

Arkoun tak hanya relevan dalam pembentukan wacana baru, melainkan juga mendorong supaya Islam hari ini kreatif dan aktif mengembangkan aspek sosial, spiritual, dan intelektual serta terlepas dari nostalgia yang hanya memasrahkan manusia pada takdir ilahi. Tidak salah jika ia mendapat reaksi negatif dari kalangan Islam politik. Menurut pengakuan putrinya, Sylvie Arkoun, ayahnya menyebut sikap reaksioner yang menyembunyikan kebenaran oleh Islam politik sebagai l’obscurantisme islamiste.

Reaksi itu hampir merata di Afrika Utara. Arkoun pun menyebut kawasan yang ia akrabi sebagai tempat mudik atau pulang kampung itu sebagai "negara jahat"—les Etats voyous d’Afrique du Nord. Selama masa belajar dan karier Arkoun di Sorbonne, ia hanya sempat pulang singkat beberapa kali. Keinginannya untuk pulang permanen dicegah oleh sikap reaktif yang ia terima. Bahkan jasadnya tak bisa dimakamkan di Aljazair

Lahir dua tahun sebelum kolonial Perancis merayakan seabad penjajahan di Aljazair, Arkoun besar dari ruang budaya yang dituding kuasa muslim dan kolonial sekaligus sebagai ummi: seorang Berber yang tak pandai bercakap bahasa Arab dan Perancis sama sekali ketika kecil.

==========

Redaksi Tirto kembali menampilkan rubrik khusus Ramadan "Al-Ilmu Nuurun". Tema tahun ini adalah para cendekiawan muslim global abad ke-20 dan ke-21. Kami memilih 33 tokoh untuk diulas pemikiran dan kontribusi mereka terhadap peradaban Islam kontemporer. Rubrik ini diampu kontributor Zacky Khairul Umam selama satu bulan penuh.

Zacky Khairul Umam adalah alumnus Program Studi Arab FIB UI dan kandidat doktor sejarah Islam di Freie Universität Berlin. Saat ini sedang menyelesaikan disertasi tentang pemikiran Islam di Madinah abad ke-17. Ia pernah bekerja sebagai peneliti tamu pada École française d'Extrême-Orient (EFEO) Jakarta 2019-2020.

Baca juga artikel terkait AL-ILMU NUURUN atau tulisan menarik lainnya Zacky Khairul Umam
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Zacky Khairul Umam
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight