Suka Disko atau Tidak, Kita Semua Anak-Anak Keju

Reporter: Nuran Wibisono - 29 Nov 2016 15:22 WIB
Dibaca Normal 4 menit
Keju pernah identik sebagai makanan orang kaya. Orang miskin makan singkong saja. Kini telah berubah, kita adalah anak-anak keju.
tirto.id - Dengan wajah lempeng tapi melas, pria yang menemplokkan topi pet ke kepala itu mulai bernyanyi. Suaranya sendu. Macam baru ditinggal oleh kekasihnya. Tapi ternyata, dia malah baru saja menolak seorang perempuan kaya.

"Kau bilang cinta padaku. Aku bilang pikir dulu. Selera kita terlalu jauh berbeda."

Si lelaki itu kemudian mulai nyerocos tentang segala perbedaan antara dia dan perempuan yang mencintainya. Parfum si perempuan itu dari Paris, sepatunya dari Italia. Semuanya serba luar negeri. Si lelaki dengan tampang agak flamboyan itu kemudian menegaskan semua perbedaan yang macam tak bisa disatukan.

Aku suka jaipong, kau suka disko
Aku suka singkong, kau suka keju

Arie Wibowo adalah penyanyi yang masyhur di era 1980-an. Dia memang terkenal ahli dalam membuat perbandingan yang meyakinkan. Tentu yang paling terkenal adalah "Madu dan Racun". Tapi tak ada pula yang bisa menyanggah kalau "Singkong dan Keju" adalah lagunya yang fenomenal. Amat berhasil menggambarkan kesenjangan ekonomi dan kehidupan sosial percintaan, tanpa perlu repot mengutip Karl Marx atau Adam Smith.

Dia dengan jitu menggunakan keju sebagai simbol manusia kelas atas. Karenanya, amat jauh dari singkong, makanan yang dia gambarkan sebagai identitas kaum papa, makanan bagi mereka yang tak berpunya.

Kalau saja Arie masih hidup, dia mungkin akan gumun. Keju sekarang sudah bukan menjadi monopoli kaum kaya saja. Ia semakin ramah kantong. Membuatnya bisa dikonsumsi oleh siapapun. Salah satu merek keju balok kemasan 180 gram, bisa ditebus dengan harga 9.900 rupiah saja. Salah satu merek keju, menjual keju lembaran isi 5 dengan harga sekitar 7.500 rupiah. Itu berarti per lembar keju hanya 1.500 rupiah.

Keju di Indonesia

Berbeda dengan di Eropa, keju nyaris absen dalam tiap makanan khas di Asia. Sapi memang dikenal dalam dunia boga di Asia. Dagingnya muncul dalam banyak makanan di Nusantara, Jepang, Korea, dan tentu saja Tiongkok. Tapi tidak dengan hasil fermentasi susu.

Sebenarnya, produk fermentasi susu macam keju bukannya tak ada. Di Filipina, ada makanan yang disebut kesong puti. Makanan yang terbuat dari susu kambing ini juga merupakan hasil fermentasi, yang dibungkus dengan daun pisang. Di Nusantara, kita juga mengenal dadiah dari Minang dan juga dangke yang kerap disebut keju ala Enrekang, Sulawesi Selatan.

Tapi keju benar-benar nyaris absen dalam tiap hidangan kuliner negara Asia. Ada beberapa teori terkait hal ini. Yang paling populer adalah: sebagian besar warga Asia adalah pengidap lactose intolerance. Istilah ini untuk menjelaskan kondisi tubuh yang tak bisa mencerna atau menyerap laktosa karena kurangnya enzim laktase. Laktosa adalah zat yang banyak ditemukan di beberapa makanan berbahan susu, semisal yoghurt atau keju.

Jika manusia pengidap intoleran laktosa ini mengonsumsi produk berbahan susu, ada perasaan mulas, kembung, bahkan diare. Di kawasan Asia, sekitar 80 persen hingga 100 persen populasinya mengalami kondisi ini. Termasuk di Indonesia. Yang paling parah adalah negara-negara di kawasan Asia Timur. Menurut Michael de Vresse dalam jurnal berjudul Probiotics: Compensation for Lactase Insufficiency, sekitar 90 hingga 100 persen populasi warga di kawasan ini mengalami kondisi intoleran laktosa.

Hal ini kemudian menimbulkan teori lain yang tak kalah populer. Sebagian besar makanan di Asia dipengaruhi oleh kultur kuliner Tiongkok. Karena di sana nyaris nihil makanan berbahan keju, maka begitu pula negara-negara yang dipengaruhinya.

Di Indonesia, keju dibawa oleh Belanda. Jejaknya tampak ke makanan-makanan yang masih populer hingga sekarang. Di antaranya adalah kastengel. Setiap lebaran, makanan ini nyaris tak pernah absen. Kastengel berasal dari bahasa Belanda, kkasstengels. Kaas berarti keju, dan stengels adalah batang.

Dulu keju adalah makanan para bangsawan dan orang kaya. Bisa menyantap keju adalah kemewahan. Menandakan status sosial. Seperti yang dibilang oleh Arie Wibowo. Tapi dengan semakin majunya industri dan distribusi, keju bisa dibuat dengan ongkos produksi yang murah. Membuat harga jualnya pun jadi lebih murah.

Begitu pula di Indonesia. Pada 2011, Dinas Peternakan Jawa Barat merilis hasil survei. Pertanyaannya: apakah produk olahan susu yang paling digemari. Sekitar 52 persen menjawab keju. Mengalahkan es krim, yoghurt, ataupun susu murni.

Ini menarik, sebab konsumsi susu di Indonesia termasuk rendah. Menurut Kementrian Perindustrian, konsumsi susu orang Indonesia hanya sekitar 12 kilogram per kapita per tahun. Termasuk paling rendah di kawasan ASEAN yang rata-rata di atas 25 kilogram per kapita per tahun. Bahkan Malaysia sudah mencapai 36 kilogram per kapita per tahun.

Tapi produk keju malah banyak bermunculan. Selain Kraft yang sudah lama jadi raja keju di Indonesia, ada produk seperti Diamond, Cheesy, hingga Prochiz. Bahkan ada beberapa produk luar negeri yang masuk dalam pasar Indonesia. Seperti Perfetto (mozarella asal Australia), Galbany (Italia), Chesdale (Selandia Baru), Baby Bell (Prancis), hingga De Jongs (Belanda).

Selain pabrikan besar, banyak pula keju artisan lokal. Seperti Trie's Cheese (Depok), hingga Rosalie Cheese (Jakarta dan Bali). Yang juga pemain lokal skala besar adalah Yummy (Bali), Indrakila Cheese (Boyolali), K.P.B.S Pangalengan (Bandung), dan Bukit Baros Cempaka (Sukabumi). Keju yang diproduksi mulai dari mozarella sampai gouda. Harga keju yang mereka jual tentu lebih murah ketimbang keju produksi luar negeri.

Produk keju juga makin populer karena ada banyak merek makanan yang mengeluarkan produk dengan embel-embel keju. Terakhir, KFC Indonesia merilis produk terbarunya, Hot and Cheesy Chicken. Seperti namanya, ini adalah ayam goreng krispi khas KFC yang kemudian dicelupkan ke dalam saus keju.

Infografik Konsumsi Keju di Indonesia


Raja Bernama Kraft

Jika bicara keju, sebagian besar orang Indonesia akan menyebut merek Kraft. Produk ini memang sudah bersinonim dengan keju. Di Indonesia, merek Kraft identik dengan keju cheddar balok maupun lembaran.

Pada 2011, Dinar Asteria Permata Sari menulis skripsi berjudul Analisis Tingkat Kepuasan dan Loyalitas Konsumen Produk Keju Merek Kraft di Kota Bogor. Dari skripsinya itu, jelas bahwa mayoritas konsumen sudah mengonsumsi keju Kraft lebih dari 12 bulan. Ini artinya Kraft punya konsumen yang loyal. Selain itu, tampak kalau frekuensi konsumsi keju, setidaknya di Bogor, termasuk tinggi. Mayoritas konsumen membeli keju Kraft setiap dua minggu sekali. Dan hasilnya: 98 persen konsumen puas setelah mengonsumsi keju produksi Kraft.

Lembaga Riset Euromonitor juga menyebutkan bahwa Kraft menguasai 61 persen pasar keju di Indonesia pada 2016. Ini tak jauh berubah dengan hasil penelitian Dinar Asteria. Di penelitiannya tersebut, Senior Brand Manager Retail & Food Service PT Kraft Food Indonesia menyatakan bahwa produk mereka menguasai sekitar 60 persen pasar keju.

Dalam skala global, Kraft juga menjadi penguasa pasar keju. Dapat dipahami, sebab Kraft yang bermula pada 1874 ini memang sejak awal menjual keju. Pada 1916, perusahaan ini mematenkan temuannya: keju yang tak harus diletakkan di kulkas tapi bisa bertahan lebih lama ketimbang keju biasa. Karena temuannya ini, Kraft berhasil menjual sekitar 272 ribu ton keju pada pihak militer Amerika Serikat saat Perang Dunia I.

Hingga sekarang, Kraft punya sekitar 48 produk keju, dengan sekitar 370 kemasan yang berbeda. Ini belum termasuk produk kudapan atau pasta yang mengandung keju. Dengan jumlah produk keju yang beragam itu, tak salah kalau orang mengidentikkan Kraft dengan keju.

Perusahaan ini juga semakin membesar karena bergabung dengan Heinz pada Juli 2015. Pada 2015, Kraft Heinz membukukan penjualan sekitar 18 miliar dolar, hanya di Amerika Utara saja. Karena merger inilah, Kraft Heinz kini memiliki nilai perusahan sebesar 46 miliar dolar.

Dengan modal yang amat besar, dan citra yang sudah terbentuk sejak belasan tahun lalu, rasa-rasanya produk keju Kraft masih akan jadi raja di Indonesia.

Dan dengan harga keju yang terjangkau, dan menyelinap dalam hampir banyak sekali makanan, kita pada dasarnya bukan lagi anak singkong. Kita adalah anak-anak keju, menyukai disko atau pun tidak.

Baca juga artikel terkait KEJU atau tulisan menarik lainnya Nuran Wibisono
(tirto.id - Gaya Hidup)

Reporter: Nuran Wibisono
Penulis: Nuran Wibisono
Editor: Zen RS

DarkLight