Menuju konten utama

Sri Mulyani Sebut Nilai Tukar Rupiah Melemah Akan Pengaruhi Subsidi

Sri Mulyani akan berkomunikasi dengan Menteri ESDM dan Menteri BUMN untuk membahas hal tersebut sekaligus memantau kondisi neraca PLN dan Pertamina.

Sri Mulyani Sebut Nilai Tukar Rupiah Melemah Akan Pengaruhi Subsidi
Petugas menghitung uang rupiah di salah satu gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Rabu (14/3/2018). ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan

tirto.id - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS akan berpengaruh pada anggaran subsidi, terutama untuk bahan bakar minyak (BBM) dan listrik. Hal itu dikatakan Menteri Keuangan Sri Mulyani di Jakarta, Selasa (8/5/2018) malam.

Sri Mulyani akan berkomunikasi dengan Menteri ESDM Ignasius Jonan dan Menteri BUMN Rini Soemarno untuk membahas hal tersebut sekaligus memantau kondisi neraca PLN dan Pertamina.

Perhatian terutama diberikan kepada kinerja Pertamina, lanjut Menkeu, sehingga pemerintah akan membuat kebijakan yang menjaga kondisi keuangan BUMN tersebut sekaligus mempertahankan APBN tetap sehat.

"Sehingga BUMN itu [Pertamina] bisa bekerja menjalankan tugas negara menyediakan BBM di seluruh Indonesia dengan harga yang terjangkau masyarakat, tetapi di sisi lain APBN tetap sehat dan shock yang berasal dari luar itu kemudian bisa diminimalkan pengaruhnya kepada masyarakat," kata dia.

Sri Mulyani juga mengungkapkan, saat ini pihaknya sedang melakukan kalkulasi ulang perihal subsidi bersama dengan kementerian, instansi, dan BUMN terkait.

"Kami dalam tahap membuat laporan semester pertama APBN, itu yang sedang kami fokuskan, dan itu yang akan kami laporkan baik kepada Presiden, kabinet, dan kami bahas dengan dewan. Dari situ kami akan lihat pelaksanaan APBN 2018 dengan adanya perubahan-perubahan itu," ucap dia.

Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Selasa (8/5/2018) sore, bergerak melemah sebesar 50 poin dan menembus Rp14.000 per dolar AS, setelah pada hari sebelumnya masih tertahan pada Rp13.993 per dolar AS.

Rupiah pada Selasa sore ditransaksikan pada Rp14.043 per dolar AS, melemah 50 poin dibanding posisi sebelumnya.

Sementara itu, pada Rabu (9/5/2018) pagi ini, nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, bergerak melemah sebesar 30 poin menjadi Rp14.073 dibandingkan posisi sebelumnya Rp14.043 per dolar AS.

Analis Binaartha Sekuritas Reza Priyambada di Jakarta, Rabu (9/5/2018) mengatakan minimnya sentimen positif yang beredar di dalam negeri membuat pergerakan nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar AS.

"Permintaan dolar AS meningkat seiring prospek kenaikan suku bunga The Fed sehingga rupiah bergerak di atas level Rp14.000 per dolar AS," kata Reza.

Ia mengemukakan pernyataan salah satu anggota Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) Raphael Bostic yang yakin dengan kenaikan suku bunga The Fed pada tahun ini sebanyak tiga kali.

"Perekonomian AS yang dinilai cenderung membaik menyebabkan tekanan inflasi akan meningkat sehingga perlu diredam dengan kenaikan suku bunga," katanya.

Di sisi lain, lanjut Reza, data cadangan devisa Indonesia menurun turut membuat sentimen di pasar keuangan cenderung negatif.

Bank Indonesia mencatat, posisi cadangan devisa Indonesia akhir April 2018 sebesar 124,9 miliar dolar AS, masih cukup tinggi meskipun lebih rendah dibandingkan dengan posisi akhir Maret 2018 sebesar 126,0 miliar dolar AS.

Baca juga artikel terkait NILAI TUKAR RUPIAH

tirto.id - Ekonomi
Sumber: antara
Penulis: Dipna Videlia Putsanra
Editor: Dipna Videlia Putsanra