Pandemi COVID-19

Solidaritas Masker Gratis di Sejumlah Kota Hadapi Pandemi Corona

Oleh: Irwan Syambudi - 5 April 2020
Dibaca Normal 3 menit
Masker susah dicari saat penyebaran COVID-19 semakin masif di Indonesia. Warga di sejumlah kota pun melakukan solidaritas berbagi masker kain gratis.
tirto.id - Warga di sejumlah kota melakukan solidaritas berbagi masker di tengah pandemi virus Corona atau COVID-19. Mereka sebagian tergerak memproduksi sendiri tatkala masker makin sulit didapat di pasaran.

Di Solo, Jawa Tengah sejumlah pengusaha konveksi yang memiliki puluhan karyawan menyediakan jalur produksinya khusus untuk membuat masker. Sebagian hasil produksi mereka bagikan secara cuma-cuma.

Miftah Faridl Widhagdha adalah salah satu pengusaha konveksi di Solo yang memproduksi masker kain untuk dijual sekaligus dibagikan secara gratis. Arjuna Tailor usaha konveksi rintisan orang tuanya yang memiliki sekitar 40 karyawan, sebagian pekerjanya ia alihkan untuk memproduksi masker.

Ia memproduksi masker kain yang dapat dimodifikasi dengan ditambah tisu atau kertas penyaring yang dapat digunakan untuk mencegah penularan virus. Setiap satu masker yang laku terjual, maka hasilnya akan digunakan untuk memproduksi satu masker untuk dibagikan gratis.

“Sampai saat ini kami sudah mendistribusikan 5.000 masker secara gratis,” kata Miftah saat dihubungi reporter Tirto, Kamis (2/4/2020).

Selain memproduksi sendiri, Miftah juga mengkampanyekan agar para penjahit di Solo mulai bergerak memproduksi masker kain untuk memenuhi permintaan. Hal ini, kata dia, agar masyarakat tidak membeli masker medis yang jumlahnya sedikit dan dibutuhkan oleh tenaga medis.



Sejak awal Maret lalu, ketika kasus positif Corona mulai merebak di Solo, masker medis sulit didapat karena banyak masyarakat yang memborong.

Dari cerita pengalaman sang istri yang merupakan dokter di rumah sakit daerah di Solo, Miftah tahu betul bagaimana kemudian tenaga medis kesulitan mendapatkan masker medis. Hal itu juga yang kemudian membuatnya tergerak untuk memproduksi masker.

"Saya mencoba mengajak teman-teman penjahit. Saya membuat tagar penjahit bergerak. Ini sudah ada banyak yang bergabung, selain karyawan saya ini sudah ada sekitar 40 penjahit di Solo ikut memproduksi masker," kata Miftah.

Pengusaha konveksi lainnya di Solo yang juga ikut memproduksi masker adalah Muchsin Assegaf. Ia yang memiliki pabrik dengan puluhan karyawan memanfaatkan sisa-sisa kain untuk diproduksi menjadi masker dan dibagikan secara cuma-cuma.

Biasanya ia dengan puluhan karyawannya memproduksi kaos, pakaian muslim dan mukena. Namun, sejak beberapa pekan terakhir pesanan sangat sepi, pasar dan pedagang baju kebanyakan tutup akibat pandemi Corona.

"Daripada karyawan saya menganggur ya lebih baik saya karyakan untuk sosial," kata Muchsin kepada reporter Tirto.

Untuk kebutuhan bahan baku, Muchsin tidak kesulitan. Tetapi untuk menggaji karyawan secara borongan memproduksi masker tersebut, ia dibantu dari donasi yang dilakukan oleh rekan-rekannya yang tergabung dalam Aksi Belarasa Alumni SMAN 3 Surakarta.

Sampai saat ini, kata dia, sudah ada 1.000 masker yang telah dibagikan secara gratis. Lebih dari setengah masker tersebut dilakukan sterilisasi terlebih dahulu untuk kemudian diberikan kepada tenaga medis.


Produksi Masker Tak Ambil Untung


Salah seorang pengusaha konveksi di Jakarta Barat Erwan Mahmudi mengaku sejak beberapa pekan terakhir usaha konveksi miliknya sepi. Pesanan kaos dan baju yang biasanya didistribusikan ke pusat perbelanjaan kini berhenti sejak pandemi Corona.

Akibatnya sekitar 12 karyawannya pun sulit mendapatkan pemasukan. Ia berpikir dari banyak permintaan dan terjadinya kelangkaan masker, ia kemudian mengalihkan untuk produksi masker kain.

Sudah sejak empat hari terakhir ia fokus memproduksi masker. Setidaknya sudah ada 1.000 masker yang telah diproduksi dan telah didistribusikan.

"Kita hampir sama sekali tidak mengambil untung dari adanya pandemi ini. Kami jual dengan harga sesuai biaya produksi dan juga untuk para pekerja yang ada di sini," kata Erwan.

Untuk setiap masker kain, kata dia, memerlukan biaya produksi Rp3.000. Biaya produksi itu meliputi bahan baku dan upah karyawan.

Sementara untuk harga jualnya setiap masker ia jual Rp3.500. Margin Rp500 itu ia gunakan untuk biaya listrik dan perawatan mesin jahit. Ia mengaku tak mengambil banyak keuntungan dan memanfaatkan situasi.

Masker-masker kain yang ia produksi itu kebanyakan dipesan oleh pedagang maupun individu. Kepada setiap pedagang yang memesan, ia selalu berpesan agar kemudian tidak memanfaatkan situasi dengan menaikkan harga terlalu tinggi.

"Ambil untung enggak masalah kalau untuk pedagang yang keliling itu. Karena kalau enggak ambil untung ya mereka tidak ada pendapatan. Tapi jangan manfaatin banget," kata dia.

Berbagi Masker Berawal dari Kecelakaan


Di Surabaya, Jawa Timur solidaritas berbagi masker secara gratis dilakukan oleh Andreas Wicaksono. Kepada reporter Tirto, Kamis (2/4/2020), ia bercerita solidaritas membagi-bagikan masker bermula dari sebuah kecelakaan.

Suatu ketika, Andreas yang mulai kesulitan membeli masker di Surabaya memutuskan untuk membeli masker kain secara online. Ia pesan lima masker untuk digunakan sendiri.

Lima masker itu ia beli seharga Rp22.500. Ketika uang sudah dibayarkan melalui transfer bank, sang penjual bilang kepadanya bahwa pembayaran kurang. Penjual bilang total yang harus dibayarkan adalah Rp225.000.

Andreas belakangan baru menyadari bahwa ia salah pesan. Ia ternyata bukan memesan lima buah masker melainkan memesan masker lima pack yang berisi 50 buah masker.

Tanpa pikir panjang, dan menyadari bahwa itu memang salahnya karena kurang teliti. Andreas kemudian membayar kekurangan pembayaran.

Beberapa saat kemudian setelah barang dikirim ia bingung karena terlalu banyak masker yang dia dapat. Ia sempat berpikir untuk menjualnya dan ambil untung. Dari yang ia beli per masker Rp4.500 ia hendak jual Rp5.000.

"Di tengah jalan saya berubah pikiran. Kok jahat sekali [kalau saja jual] karena kemarin saya cari masker sulit minta ampun," kata Andreas.

Ia kemudian berpikir untuk membagikan masker tersebut secara gratis. Seizin keluarga ia kemudian membagikan masker tersebut.

Bahkan anaknya kemudian membantunya untuk memodifikasi masker tersebut. Di tengah masker ia sisipi kain penyaring tambahan yang kedap terhadap partikel kecil termasuk virus.

"Saya bagikan di jalan waktu pergi kerja atau ke mana. Lihat orang yang enggak pakai masker langsung saya kasih," kata dia.

Awlanya 50 buah masker yang ia bagikan. Kemudian ada temannya lagi yang ingin berdonasi membagikan masker dengan memberikan sejumlah uang.

Uang donasi itu kemudian ia belikan lagi masker dan mendapatkan 90 buah masker yang kemudian ia bagikan juga secara gratis.


Cara Kerja Masker Kain terhadap Virus


Dalam protokol penggunaan masker yang disampaikan oleh Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Erlina Burhan menyebut masker kain dapat menekan penularan virus Corona hingga 70 persen.

Pada dokumen tersebut, Erlina menyebut masker dapat digunakan oleh masyarakat yang sehat ketika berada di tempat umum dengan catatan tetap harus menjaga jarak dengan orang lain 1 sampai 2 meter.

Tetapi untuk tenaga medis masker kain tidak disarankan untuk digunakan. Sebab, ia menyebut 40 sampai 90 persen partikel masih dapat menembus masker kain. Sehingga jika memang terpaksa digunakan oleh tenaga medis, maka harus dikombinasikan dengan pelindung wajah.

Masker kain, kata dia, efektif sebagai pelindung keluarnya percikan cairan dari alat pernafasan saat batuk atau bersin. Tetapi tidak dapat melindungi dari partikel yang ada di udara.

Masker kain dapat menyaring 0,1 mikron dengan presentase 30 hingga 95 persen. Selain itu, keunggulan masker kain dapat dicuci dan digunakan berulang.

Dalam dokumen paparannya itu, Erlina menyimpulkan bahwa penggunaan masker bedah lebih efektif 3 kali lipat dibandingkan masker kain. Masker kain atau buatan rumah bisa jadi pilihan terakhir untuk mencegah penularan virus melalui partikel kecil (droplet).

Dan menurutnya masker kain lebih baik digunakan oleh masyarakat daripada tidak menggunakan masker sama sekali.


Baca juga artikel terkait VIRUS CORONA atau tulisan menarik lainnya Irwan Syambudi
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Irwan Syambudi
Penulis: Irwan Syambudi
Editor: Abdul Aziz
DarkLight