Sinopsis One Night in Miami: Saat Muhammad Ali & Malcolm X Berpesta

Oleh: Rizal Amril Yahya - 21 Juni 2021
Dibaca Normal 2 menit
Sinopsis One Night in Miami: Apa yang mungkin terjadi dalam percakapan 4 tokoh kulit hitam AS di pesta yang kelewat malam.
tirto.id - Muhammad Ali—saat itu masih dikenal dengan nama kelahirannya, Cassius Clay—memenangkan gelar juara tinju dunia kelas berat untuk pertama kalinya usai mengalahkan Sonny Liston pada 25 Februari 1964. Seusai pertandingan, Ali merayakan kemenangannya bareng 3 kawan: Malcolm X, penyanyi Sam Cooke, dan bintang NFL Jim Brown. Itulah malam yang digambarkan oleh sutradara Regina King lewat One Night in Miami.

Malam tersebut juga menjadi malam di mana Cassius Clay memeluk agama Islam dan mengubah namanya menjadi Muhammad Ali. Namun, bukan tentang gilang-gemilang dan perjalanan Ali film ini dibuat.

Film berdurasi 110 menit ini lebih bercerita tentang idealisme dan perlawanan atas rasialisme di AS. Waktu itu, di Amerika sana, diskriminasi terhadap kulit hitam menjadi kehidupan sehari-hari—sebagaimana kini meski lebih buruk lagi.

Keempat tokoh itu berkumpul di Hampton House Motel di Miami—peristiwa itu betulan terjadi. Percakapan empat kawan itulah yang digali oleh Kemp Powers, penulis naskah film ini. Apa yang mungkin terjadi dalam percakapan sekumpulan kawan yang kelewat malam? Saling bertukar keriangan, kehangatan, juga perdebatan dan kekhawatiran empat tokoh itu menjadi hal yang digambarkan Kemp Powers dan Regina King.

Film ini dibintangi oleh Kingsley Ben-Adir, Aldis Hodge, Leslie Odom Jr., dan Eli Goore. Keempat aktor tersebut dinilai sukses memerankan empat tokoh kulit hitam AS dengan keunikan masing-masing. Pertama kali diputar di Venice Film Festival 2020, One Night in Miami telah dirilis via layanan streaming sejak 15 Januari 2021.


Sinopsis One Night in Miami (2020)

Keriangan Cassius Clay (Eli Goore) setelah memenangkan gelar juara tinju dunia kelas berat ingin ia resapi dengan gemuruh pesta dan hal-hal membahagiakan lainnya. Dua kawannya, Jim Brown (Aldis Hodge) dan Sam Cooke (Leslie Odom Jr.) mengharapkan hal yang sama. Malcolm X (Kingsley Ben-Adir), si tuan rumah, punya pemikiran berbeda, ada hal yang mengganggu pikirannya dan musti dibagikan ke tiga kawannya.

Malcolm adalah salah-satu aktivis Islam dan gerakan anti-diskriminasi yang dianggap berbahaya oleh FBI pada masa itu. Namanya tengah mentereng karena pemikirannya, juga kepiawaiannya dalam menulis dan berbicara di depan orang banyak. Malam itu ia punya pertanyaan, apa jadinya bila tiga kawannya ini—yang mana merupakan tokoh populer masa itu—ikut serta dalam gerakan anti-diskriminasi terhadap kulit hitam?

Suka cita yang didambakan Cassius Clay, Jim Brown, dan Sam Cooke lambat laun sirna setelah kawan aktivisnya ini membagikan keresahannya. “Pesta perayaan” itu kemudian menjadi perdebatan alot. Malcolm tak habis pikir mengapa kawan penyanyinya, Sam Cooke, hanya membuat lagu yang menurut Malcolm merupakan lagu cinta yang banal. Aktivis Nation of Islam itu menganggap Sam Cooke menyia-nyiakan kesempatannya sebagai musisi untuk berbicara tentang masalah penting seperti diskriminasi rasial lewat lagunya.

Malcolm kemudian memainkan lagu “Blowin’ in The Mind” milik Bob Dylan, dan memanas-manasi Sam Cooke dengan bertanya mengapa ia tidak bisa menulis lagu revolusioner macam ini, seperti yang dilakukan oleh orang Minnesota berkulit putih itu.

Sam tentu tak sepakat dengan tuduhan Malcolm yang menganggapnya tak melakukan apa-apa terhadap diskriminasi terhadap kulit hitam di Amerika. Ia menjelaskan bahwa label musik yang dimilikinya, dan bagaimana ia memberikan bayaran yang adil bagi musisi kulit hitam di bawah naungannya, adalah bukti bahwa ia ikut andil dalam meretas diskriminasi terhadap kulit hitam. Waktu itu, diskriminasi terhadap kulit hitam terjadi di segala lini, termasuk industri musik. Banyak musisi kulit hitam yang mengaku dieksploitasi oleh pemilik label karena alasan rasial.

Malam itu pula, Cassius Clay memantapkan diri untuk memeluk Islam, untuk menjadi Muhammad Ali. Malcolm X merupakan kawan sekaligus mentor spiritual Cassius—hubungan yang dianggap buruk oleh para pelatih dan manajer Cassius waktu itu. Kebintangan Muhammad Ali sudah dilihat Malcolm pada waktu itu, ia merasa perlu meyakinkan Ali agar ikut bersuara melawan diskriminasi yang selama ini mereka alami.

Jim Brown, atlet NFL ternama, juga ikut dalam percakapan malam itu. Ia menjadi sosok pengendur urat syaraf ketika perdebatan memanas. Ia, juga tiga kawannya, merasakan betul diskriminasi terhadap mereka hanya karena memiliki kulit hitam. Lebih dulu terjun dalam industri olahraga dan mendapat ketenaran darinya, Jim Brown berkata kepada Muhammad Ali bahwa atlet kulit hitam seperti hidup bagai gladiator, di mana orang kulit putih selalu menjadi penguasa pertandingan.

Kekhawatiran Malcolm X yang digambarkan mungkin bukan tanpa alasan. Telik sandi FBI tengah mengawasinya. Ia juga berseteru dengan Elijah Muhammad, pemimpin Nation of Islam—organisasi yang Malcolm ikuti. Dalam catatan sejarah, Malcolm dibunuh setahun setelah “pesta” itu, pada 21 Februari 1965.

Masih dalam catatan sejarah, Sam Cooke, merilis lagu “A Change Is Gonna Come” beberapa bulan setelah “pesta” dengan tiga kawannya itu. Lagu Sam Cooke satu ini, abadi sebagai lagu yang menggambarkan diskriminasi terhadap kulit hitam. Hits ini, oleh Variety, dijuluki sebagai lagu tak resmi untuk gerakan hak-hak sipil. Sedangkan Cassius Clay, yang kemudian kita kenal sebagai Muhammad Ali, menjadi tokoh besar dunia yang lantang mengutuk rasialisme, juga diskriminasi terhadap minoritas.

One Night in Miami memberikan kita gambaran peristiwa yang jadi salah-satu tonggak pemikiran tokoh-tokoh kulit hitam AS dalam melawan diskriminasi rasial. Malam itu, terjadi lima puluh tahun yang lalu, Regina King mengingatkan lagi kini, saat rasialisme dan diskriminasi di dalamnya masih menjangkiti kehidupan kiwari.



Baca juga artikel terkait SINOPSIS FILM atau tulisan menarik lainnya Rizal Amril Yahya
(tirto.id - Film)

Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Addi M Idhom
DarkLight