Siapa Kuat Bertahan di Rimba E-commerce Setelah Blanja.com Tumbang?

Oleh: Selfie Miftahul Jannah - 10 September 2020
Dibaca Normal 2 menit
Blanja.com tumbang menyusul banyak e-commerce lokal. Apa faktor-faktor yang membuat situs jual-beli online bisa bertahan?
tirto.id - Blanja.com, online marketplace hasil joint venture PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) dan eBay yang resmi beroperasi pada 8 Desember 2014, resmi tutup pada 1 September 2020. Pada tanggal itu segala transaksi dihentikan, sementara penarikan uang masih bisa dilakukan sampai 30 September.

Kinerja mereka kurang baik selama enam tahun beroperasi. Telkom memperkirakan pada tahun lalu Blanja.com hanya menguasai 1,2 persen dari seluruh nilai transaksi e-commerce di Indonesia. Pengguna aktif pun hanya 62,9 ribu/bulan, kalah jauh misalnya dibanding Tokopedia, 90 juta/bulan.

Dengan pengguna sebanyak itu, menurut laporan keuangan Telkom tahun 2019, jumlah transaksi Blanja.com hanya menyentuh angka Rp188,3 miliar. Itu pun sudah lebih banyak dari tahun sebelumnya yang hanya Rp130 miliar.

Dalam laporan itu, Telkom mengkategorikan pendapatan dan hasil dari Blanja.com ke dalam kinerja keuangan 'segmen lain-lain'. Selain Blanja.com, di dalamnya termasuk layanan music and gaming Telkom, MelOn. Segmen ini hanya memberi kontribusi sebesar 0,1 persen pada pendapatan Telkom Group.

Di sisi lain, beban yang harus ditanggung perusahaan jauh lebih tinggi. Beban keuangan meningkat tajam menjadi Rp1,484 triliun. Karena itu, bisnis ini menyebabkan kerugian hingga Rp1,287 triliun.

Peluang bisnis e-commerce di Indonesia sebenarnya tinggi. Bank Indonesia (BI) menyebut pada 2019 lalu nilai transaksi di 14 e-commerce terbesar mencapai Rp265,07 triliun. Nilai transaksi ini meningkat pesat dibandingkan 2017 sebesar Rp80,82 triliun dan 2018 Rp 145,95 triliun. Ini sudah menghitung barang yang didatangkan dari luar negeri (impor).


Porsi terbesar 'kue' bisnis tersebut berhasil dikuasai e-commerce luar negeri. Berdasarkan data dari iPrice Insight, saat ini situs jual-beli yang paling banyak digunakan oleh orang Indonesia adalah Shopee, asal Singapura. Pada kuartal II 2020, Shopee mendapat kunjungan bulanan 93.440.300 kali.

Di posisi kedua ada Tokopedia yang mendapat kunjungan 86.103.300 kali, kemudian Bukalapak yang dikunjungi 35.288.100 kali, Lazada 22.021.800 kali, Blibli 18.307.500 kali, dan JD.ID 9.301.000 kali.

Kebanyakan kunjungan didapat dari tautan di sosial media seperti Facebook, Twitter, dan Instagram.

Siapa Bertahan?

Blanja.com menambah panjang deretan e-commerce dalam negeri yang tumbang. Berdasarkan data dari iPrice Insight, sedikitya terdapat 16 e-commerce lokal yang sudah terlebih dulu tutup. Beberapa di antaranya adalah Tokobagus.com, Berniaga.com, Pulsa.com, Kelora, Rakuten, sampai Mataharimall.com.

Presiden Komisaris Lippo Group Mochtar Riady mengungkap kenapa Mataharimall.com bisa gagal. Ia bilang sejak awal beban biaya terlalu tinggi dengan fondasi yang rapuh. Satu contoh, "waktu itu kami langsung meng-hire sekitar 300 orang teknisi," padahal pertama-tama yang perlu dilakukan adalah "mempromosikan diri, apakah buka toko atau bangun pasar di internet."

Belajar dari pengalaman tersebut, menurutnya, bisnis e-commerce harus dimulai dari skala kecil. "Bagi swasta, harus hati-hati," katanya.

Pengamat ekonomi dari Universitas Indonesia (UI) Fithra Faisal memberikan penjelasan serupa.

“Tokopedia, Bukalapak, mereka mulainya memang dari level yang sangat terbatas. Bukalapak mulai dari dulu ada Kaskus, kemudian berkembang dari situ terinspirasi dan membangun komunitas. Begitu juga dengan Tokopedia ada basis komunitas,” kata dia kepada reporter Tirto, Senin (7/9/2020).


Kunci keberhasilan lain adalah kemampuan untuk menentukan segmentasi pasar dan mengembangkan produk yang tepat. Mungkin saja ada e-commerce yang dukungan pendanaan awalnya tidak besar, tapi mereka bisa saja bertahan, misalnya, jika “memiliki aspek kelokalan. Aspek kelokalan ini yang sebenarnya jadi keunggulan komparatif.”

Mereka yang tumbang adalah yang gagal menentukan segmentasi dan produk unggulan. “Untuk berkembang fondasinya sudah jelas, user. Blanja.com atau yang lain gagal mendapatkan itu,” katanya menjelaskan. “Mereka tidak berdasarkan bottom up, tapi top down, sehingga enggak jelas ini siapa penggunannya. LinkAja yang masih mandek ini salah satunya terjadi karena itu.”

Kunci menentukan dan menguasai segmen ini menurutnya di atas dukungan pendanaan. Keberhasilan bisnis butuh lebih dari sekedar besarnya modal. Meski begitu, tentu modal tak kalah penting. Bisnis e-commerce yang berhasil adalah mereka yang kelak mampu menggalang dana dari para investor. Kemampuan menarik investor ini tak lepas dari segmentasi bisnis yang tadi disebut.

Dalam kasus Blanja, karena investasi mereka dari BUMN, investor lain tidak bisa masuk.

Lebih dari itu semua, menurutnya perusahaan rintisan atau startup secara umum memang punya kemungkinan berhasil yang relatif kecil. Mungkin, kata dia, dari 10 perusahaan rintisan hanya satu yang berhasil.

Peneliti dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Izzudin Al Faras menjelaskan situasi ini tak terlepaskan dari investor yang tidak bisa dibilang banyak dan cenderung selektif menanamkan modal.

“Sumber pendanaan e-commerce banyak dari venture capital. Ada Softbank, Alibaba. Yang bisa akses investor-investor tersebut enggak banyak. Makanya mereka hanya mau memberikan pendanaan ke beberapa e-commerce yang bagus dan punya potensi,” katanya kepada reporter Tirto, Senin.


Kecenderungan untuk selektif ini pada akhirnya menciptakan perusahaan yang tampak memonopoli pasar. Faras mencontohkan lewat Shopee dan Tokopedia. Saat monopoli terjadi, atau ketika segelintir perusahaan sudah tergolong besar menguasai pasar, maka “yang kecil kecil itu dalam dua tahun ke depan pasti akan sangat sulit dan kalau tidak bisa bertahan pasti tutup.”

Keamanan Data

Sekjen Kementerian Perdagangan (Kemendag) Oke Nurwan memberikan sudut pandang lain. Menurutnya aspek lain yang cukup penting menentukan keberhasilan e-commerce adalah kemampuan untuk menjamin keamanan transaksi.

Client akan memilih penyelenggara yang dianggap kredibel. Yang masih eksis ternyata bisa memberikan keyakinan, keamanan, serta kenyamanan kepada pengguna,” katanya kepada reporter Tirto, Selasa (8/9/2020).

Pemerintah sendiri terus berupa menciptakan iklim bisnis e-commerce yang kondusif, katanya, juga mengupayakan para pelaku usaha mampu menjaga dan menjamin keamanan data dan transaksi pengguna.

“Pemerintah saat ini masih pada tahap menyusun aturan main bagi semua pengguna e-commerce, guna memastikan berjalannya penyelenggaraan kegiatan dengan tertib (tertib niaga) dan melakukan pembinaan dan pengawasannya, sehingga semua pengguna, penyelenggara, dan pemanfaa e-commerce dapat melakukan bisnis secara tertib, aman, dan nyaman,” tandasnya.

Baca juga artikel terkait E-COMMERCE atau tulisan menarik lainnya Selfie Miftahul Jannah
(tirto.id - Bisnis)

Reporter: Selfie Miftahul Jannah
Penulis: Selfie Miftahul Jannah
Editor: Rio Apinino
DarkLight