Advertorial

Delapan Tahun Jagoan E-Commerce Asia Tenggara

Ilustrasi HUT Lazada ke 8. FOTO/Lazada
Oleh: Advertorial - 26 Maret 2020
Dibaca Normal 3 menit
Selain merintis, Lazada berperan banyak dalam mengubah & memajukan lanskap e-commerce di Asia Tenggara
Satu hal yang disepakati oleh nyaris semua orang yang hidup di awal abad 21, entah dengan muka girang atau wajah bersungut, adalah internet mengubah segalanya. Ia membuat kita tak lagi mengandalkan peta kertas berukuran besar, mendefinisikan ulang cara berkawan, mengubah kebiasaan kita mendengarkan musik dan menemukan berhala-berhala baru, hingga merombak dan mempermudah cara manusia modern berbelanja.

Sebab manusia memerlukan belanja, dan seringkali membeli lebih dari kebutuhannya, kolumnis Erma Bombeck pernah menuliskan dengan cermat perkara ini.

“Anggap saja kamu pergi ke warung dengan keinginan awal hanya beli roti, rasanya nyaris mustahil kamu pulang hanya dengan roti saja,” tulisnya.

Perpaduan antara internet dan hasrat manusia modern untuk berbelanja membuat e-commerce menjadi sesuatu yang menggiurkan. Pangsa pasarnya besar, tak peduli sepadat apapun pasarnya. Sebagai gambaran, orang terkaya di dunia abad 20 adalah yang menciptakan sistem operasi komputer. Satu abad berikutnya, orang paling kaya yang hartanya tak akan habis meski kita membagikannya pada setiap jiwa di dunia, adalah pendiri perusahaan e-commerce.

Mungkin itu sebabnya Lazada hadir pada 27 Maret 2012, tepat hari ini sewindu yang lalu. Pendirinya adalah Maximilian Bittner, pria yang pernah bekerja di beberapa perusahaan investasi dan keuangan. Lazada adalah anak perusahaan Rocket Internet, sebuah perusahaan inkubasi dan investasi yang berbasis di Jerman.

Bittner dan rekannya melihat pasar menggiurkan di Asia Tenggara. Dalam waktu nisbi singkat, Lazada hadir di Malaysia, Thailand, dan Vietnam. Indonesia kemudian menyusul. Pasar di Indonesia, seperti diakui Bittner, cukup unik sekaligus menantang. Ini merujuk pada kondisi geografis yang merupakan negara kepulauan, rendahnya penetrasi kartu kredit, serta masih jarangnya transaksi belanja online saat itu.

“Cara untuk meyakinkan para pembeli di Indonesia,” kata Bittner kepada SWA pada 2013 silam, “adalah dengan memberikan pelayanan terbaik terutama dari sisi logistik.”

Untuk menyiasati aral di Indonesia, pada awal kemunculannya Lazada menerapkan dua cara yang mungkin akan terdengar janggal di dunia e-commerce. Pertama, mereka memakai sistem cash on delivery (COD) untuk menyiasati banyak orang Indonesia yang saat itu belum begitu percaya pembelian via online.

Kedua, Lazada memiliki unit pengantaran sendiri yang dinamakan Lazada Express. Jadi, alih-alih hanya mengandalkan perusahaan pengiriman yang sudah ada, mereka pun membuat tim pengantaran sendiri sejak 2015

Untuk kebutuhan ini, mereka membuat gudang sebagai titik hubung. Jadi, semua barang yang sudah dikemas oleh penjual akan dikirimkan dulu di gudang ini. Di sana, barang akan disortir lebih lanjut. Barang yang akan dikirim di area yang sama, bakal dikirim oleh satu kurir. Dengan cara ini, pengantaran barang jadi lebih efektif, cepat, dan aman.
Pada 2019, Lazada telah memiliki 47 hub last mile Lazada Express, dan lebih dari 8.000 kurir. Sedangkan untuk gudang, kini Lazada sudah punya 12 gudang (3 diantaranya, masuk dalam kategori bulky warehouse) yang tersebar di 5 kota besar, dua di antaranya ada di Sidoarjo (Jawa Timur) yang punya luas lebih dari 9.000 meter persegi, dan Cimanggis (Jawa Barat) yang luasnya 70.000 meter persegi.

Di Indonesia, Lazada juga dikenal sebagai salah satu pelopor Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) yang diadakan pada 12 Desember 2012 (12.12). Tak disangka, gerakan itu kemudian jadi gelombang besar dalam dunia e-commerce Indonesia. Pada 2019, jumlah e-commerce yang ikut mencapai lebih dari 300 peserta.

Gerak gesit Lazada dengan segera mengundang investor, seperti JP Morgan, perusahaan retail Swedia, Kinnevik dan juga raksasa retail asal Britania Raya, Tesco. Langkah investor yang berani menanamkan saham ini tak mengherankan, sebab di Asia Tenggara saat itu pelaku e-commerce masih bisa dihitung jari sebelah tangan. Raksasa e-commerce dari Barat juga tak masuk ke kawasan ini, mungkin sudah gentar duluan dengan pola konsumsi yang amat berbeda. Sebab itulah Lazada bisa dibilang sebagai raja e-commerce di Asia Tenggara.

Pada 2014, Lazada makin mencengkramkan kukunya dengan membuka operasional di Singapura sekaligus mendirikan kantor utamanya. Tak lama berselang, Temasek Holdings, perusahaan plat merah negeri Singa, membenamkan investasi sebesar 250 juta dolar. Saat itu, jumlah penjual di Lazada sudah melonjak jauh, dari 500 penjual pada 2013, menjadi 10.000 penjual pada 2014.



Kehadiran Alibaba

Kiprah Lazada ini menarik perhatian raja di kerajaan e-commerce Cina: Alibaba. Saat itu, perusahaan yang didirikan oleh Jack Ma pada 1999 tersebut sudah menjadi perusahaan terbuka, dan membukukan pendapatan 22,9 miliar dolar. Meski begitu, Alibaba belum punya jejak di kawasan Asia Tenggara. Dan lewat lobi panjang, pada April 2016 Alibaba membeli saham mayoritas Lazada (51 persen) dengan nilai total 1 miliar dolar.

Menurut Alibaba, Lazada adalah perusahaan yang sukses membangun jaringan e-commerce di kawasan yang awalnya sukar menerima kehadiran e-commerce. Di titik itu, Lazada masih ingin terus berkembang, dan karenanya butuh suntikan dana. Alibaba menjadi jawabannya.

Setelah investasi terbesar Alibaba di luar Cina itu, mereka kembali menanamkan dua kali investasi tambahan, masing-masing 1 miliar dolar (2017), dan 2 miliar dolar (2018). Berkat tambahan dana ini, Lazada makin leluasa bergerak dan berkembang.

Tahun lalu, tepat di ulang tahun yang ke-7 Lazada meluncurkan fitur Shoppertainment. Ini adalah perpaduan antara teknologi streaming, hiburan, dan belanja. Dalam kesempatan tersebut, Lazada memperkenalkan berbagai macam fitur shoppertainment seperti pengalaman belanja seru di in-all live streaming serta tiga gim seru yaitu LazGame, Splash, dan Crazy Flash Sale. Peluncuran fitur Shoppertainment ini merupakan upaya Lazada agar bisa terus terhubung dengan konsumen dan memuaskan kebutuhan mereka dalam era baru shoppertainment.

Mengingat pasar e-commerce yang makin padat dan beragam, termasuk di Indonesia, Lazada tak mau tinggal diam. Mereka terus meningkatkan daya tarik, termasuk dalam jumlah barang yang dijual. Saat ini, ada lebih dari 200 juta barang yang bisa dibeli di Lazada.

Ditambah lagi, sejak September 2018, Lazada meluncurkan LazMall, “mall” online terbesar di Asia Tenggara, yang menampilkan produk asli dari 300-an merek yang sudah terkurasi. Kemunculan mereka ditandai dengan peluncuran kampanye 9.9 yang diluncurkan di enam negara. LazMall memberikan tiga jaminan kepada para pembeli: barang asli, pengembalian barang dalam jangka waktu 15 hari, dan pengiriman barang esok hari.

Dengan perkembangan yang amat cepat itu, Lazada sebagai pelopor e-commerce di Indonesia tidak lantas melupakan akarnya. Mereka masih mengandalkan jaringan logistik yang sejak awal menopang mereka. Kini, mereka mengklaim ada 89 persen barang yang bisa dikirim dari gudang mereka ke pembeli di hari yang sama atau keesokan harinya. Sistem logistik ini juga makin terintegrasi dengan sistem teknologi informasi Lazada, termasuk adanya teknologi real-time tracking.

Memasuki ulang tahun sewindu, Lazada kembali melakukan transformasi, termasuk mengganti logonya di pertengah tahun lalu dengan heartgram --huruf L yang dibentuk seperti jantung-- dan warna yang identik dengan oranye, kini menjadi pink. Ia menandakan awal baru yang segar, modern, sekaligus energetik. Ini sekaligus menunjukkan bahwa Lazada bukan lagi anak baru yang belajar menapak. Mereka adalah remaja yang senantiasa ingin berlari dan terus bergerak. Makin gesit. Makin cepat.Tepat di hari jadi yang kedelapan ini, Lazada menyediakan jutaan voucher untuk para pelanggan. Selanjutnya sila kunjungi tautan ini.
DarkLight