Menuju konten utama

Si Jenius di Balik Tesla

Lewat Tesla, ia akan merevolusi transportasi di bumi. Melalui SpaceX, ia mencoba membawa umat manusia menginjakkan kaki di Mars. Dengan SolarCity, ia berusaha menghapus ketergantungan pada perusahaan penyedia listrik. Elon sendiri tampak enggan disejajarkan dengan Jobs, atau Tesla Motors Inc disejajarkan dengan Apple Inc. Suatu kali, pernah ada wartawan yang menanyakan pendapat Elon soal rencana Apple mengembangkan mobil listrik.

Si Jenius di Balik Tesla
Elon Musk, salah satu pendiri Tesla Motors dan saat ini menjabat sebagai kepala desain produk model Tesla x, di Hawthorne, Los Angeles, California, 9 februari, 2012. foto/shutterstock

tirto.id - Elon Musk menjadi salah satu jenius paling berpengaruh di muka bumi ini. Banyak yang menyandingkannya dengan Steve Jobs. Tetapi, Elon berbeda dengan Steve. Musk bukanlah Jobs. Elon adalah Elon. Visinya tak sempit hanya pada keuntungan perusahaan. Lebih dari itu, pria berusia 45 tahun itu ingin berkontribusi menyelamatkan bumi melalui perusahaannya.

Elon sendiri tampak enggan disejajarkan dengan Jobs, atau Tesla Motors Inc disejajarkan dengan Apple Inc. Suatu kali, pernah ada wartawan yang menanyakan pendapat Elon soal rencana Apple mengembangkan mobil listrik. “Apple baru saja merekrut beberapa insinyur terbaik Tesla, apa Anda khawatir dengan persaingan ini?” tanya si wartawan.

“Insinyur terbaik? Mereka merekrut orang-orang yang kami pecat. Kami selalu punya lelucon bahwa Apple adalah kuburannya Tesla. Mereka yang gagal bekerja di Tesla, akan lari ke Apple,” jawab Elon, Sang CEO.

Apple memang sedang mengembangkan iCar, sebuah mobil listrik. Dana sebesar $10 miliar dikucurkan untuk proyek ini. Banyak yang menyebut iCar akan menjadi saingan besar Tesla.

Elon tak begitu ambil pusing dengan rencana Apple. “Hal yang baik ketika Apple masuk ke bisnis mobil. Tetapi produksi mobil jauh lebih rumit jika dibandingkan handphone atau jam tangan pintar. Ini tidak sesederhana pergi ke perakit seperti Foxconn dan meminta mereka membuatkan mobil,” sindir Elon sambil tertawa. Ia merujuk pada produksi Apple yang sebagian dibuat oleh Foxconn.

Elon bisa disebut sebagai pahlawan bagi Tesla, meski ia hanyalah investor yang datang belakangan. Tetapi tanpa Elon, Tesla mungkin hanya menjadi catatan bahwa pernah ada perusahaan produsen mobil listrik yang kemudian mati dan bangkrut.

Keterlibatan Elon di Tesla bermula ketika ia mendapatkan email dari Martin Eberhard di penghujung Maret 2004. Martin dan rekannya, Marc Tarpenning telah mendirikan Tesla Motors pada 2003.

“Kami sangat ingin mendiskusikan Tesla Motors dengan Anda,” tulis Martin kepada Elon. “Terutama jika Anda tertarik untuk investasi di perusahaan kami. Kami sangat yakin bahwa anda telah mengendarai mobil tzero milik AC Propulsion. Maka Anda tentu tahu bahwa mobil listrik dengan performa tinggi sangat mungkin untuk diciptakan. Kami ingin meyakinkan Anda bahwa itu dapat dilakukan dengan menguntungkan.”

Malam harinya, Elon membalas ajakan bertemu itu. “Tentu saja saya tertarik. Jumat pekan ini atau pekan depan saya bisa bertemu kalian,” jawabnya.

Pertemuan berlangsung di Los Angeles, tepatnya di kantor SpaceX, sebuah perusahaan milik Elon yang mengembangkan dan memproduksi wahana luncur antariksa. Martin datang bersama Ian Wright, anggota ketiga dari tim Tesla. Pertemuan yang seharusnya berlangsung selama 30 menit itu baru selesai dalam waktu dua jam.

Martin dan Ian menunjukkan rencana bisnis mereka kepada Elon. Dalam pertemuan itu, Martin ingat betul betapa skeptisnya Elon tentang desain dan biaya produksi. Tetapi Elon menunjukkan ketertarikannya. Ia meminta para pencetus ide Tesla segera merumuskan berkas untuk due dilligence.

Saat itu istrinya sedang mengandung si kembar. “Proses ini harus selesai sebelum istriku melahirkan. Kalau mereka lahir, aku tidak punya waktu untuk berurusan dengan Tesla,” ungkap Elon.

Dokumen-dokumen itu rampung pada 23 April 2004. Elon menyuntikkan $7,5 juta dan menjadi komisaris utama. Sejak itulah Tesla mulai tumbuh.

Anak Pertama Tesla

November 2004, Tesla “melahirkan” anak pertamanya yang diberi nama Roadster. Saat itu, JB Straubel—kini menjabat sebagai CTO—diberi kehormatan sebagai pengendara pertama. Roadster bisa melaju, tetapi kacau. Panel body-nya lepas. Straubel terkejut dan menginjak pedal gas. Roadster mendarat di trotoar. Untungnya, ban mobil tidak lepas dan perangkat lunaknya tidak rusak.

Butuh dua tahun bagi Tesla untuk memperbaiki kekurangan di sana sini. Di musim semi 2006, Roadster diluncurkan dan dijual dengan harga $100.000. Dua minggu setelah diluncurkan, Tesla berhasil menjual 127 Roadster.

Setelah “melahirkan” anak pertamanya ini, Tesla tertatih-tatih. Tahun 2007, Tesla mengalami kesulitan keuangan. Tak ada investor mau menyuntikkan modal pada start up produsen mobil yang belum bisa membuktikan diri. Elon membuat keputusan yang memicu konflik internal. Ia kemudian menggeser Martin dari posisi CEO dan menyuntikkan uangnya sendiri senilai $20 juta.

Kondisi belum membaik. Penjualan Roadster tak begitu signifikan. Kondisi ini diperparah dengan krisis finansial yang menghantam Amerika Serikat pada 2008. Tak ada yang mau membeli mobil mobil sport listrik. Pilihannya saat itu hanya dua. Elon meletakkan uang yang didapatnya dari penjualan PayPal, atau membiarkan Tesla mati.

Elon mengambil risiko dengan menjalankan pilihan pertama. Tahun 2008, ia kembali menyuntikkan $20 juta. Ia menyelamatkan Tesla. Dua tahun kemudian Tesla Go Public setelah merilis Model S, mobil listrik jenis sedan, di tahun sebelumnya. Sejak itu, Tesla semakin mendapatkan kepercayaan dari konsumen mobil listrik, melalui model-model baru yang dirilisnya.

Fokus Pada Energi Terbarukan

Hal paling penting yang membuat Elon bersikeras mempertahankan Tesla karena dapat membantu mewujudkan mimpinya menggantikan energi fosil dengan sumber energi yang lebih ramah lingkungan dan terbarukan.

“Adalah kondisi yang gila ketika kita bisa mengembangkan energi terbarukan tetapi masih bertahan pada penggunaan energi fosil,” katanya pada suatu kesempatan bicara dalam sebuah seminar. Elon ingin membuktikan, bahwa mobil listrik juga bisa menyaingi mobil diesel dari segi kualitas.

Ia ingin segera ada perubahan pada pola konsumsi energi, dari energi fosil ke energi terbarukan. Menurutnya, perubahan ini harus segera dilakukan sebelum bumi makin hancur, sebelum semua usaha manusia akan jadi terlambat.

Elon dan saudaranya, Kimbal Musk juga membentuk sebuah yayasan bernama Musk Foundation. Yayasan yang fokus pada riset ini memberikan dana bantuan bagi penelitian-penelitian terkait energi terbarukan. Banyak media Amerika membingkai Elon sebagai Tony Stark atau Iron Man dalam kehidupan nyata.

Elon memang nyentrik sejak kecil. Saat anak seusianya menghabiskan banyak waktu dengan bermain. Elon melewati hari-harinya dengan membaca buku. Semua jenis buku dilahapnya. Ia menikmati rutinitas itu, dari bangun tidur, hingga ingin tidur lagi. Ini membuat kehidupan sosial Elon tak begitu baik. Tetapi, ini juga membuat Elon tahu banyak hal dibandingkan anak seusianya. Meski pada sisi yang lain, perbedaan ini membuat ia sering menghadapi bullying dari teman-temannya.

Saat usianya sembilan tahun, orang tua Elon bercerai. Langkah yang diambilnya saat itu sedikit banyak menentukan seperti apa Elon saat ini. Ia memilih tinggal bersama ayahnya, Errol Musk yang tinggal di Afrika Selatan dan hidup sebagai insinyur dibandingkan dengan Ibunya yang berprofesi sebagai model di Kanada.

Di usia 10 tahun, dia mengembangkan sebuah program komputer. Ia lalu menjual kode untuk video game bernama Blastar seharga $500 pada usia 12 tahun. Ketertarikan Elon di bidang teknologi dan enterpreneur telah jelas terlihat sejak saat itu.

Setelah lulus dari Pretoria Boys High School pada 1989, Elon memilih ke Kanada dan resmi berganti warga negara. Ini juga merupakan pilihan yang tepat bagi Elon untuk mengembangkan kemampuannya di bidang teknologi. Elon lalu diterima di Queen's University di Kingston, Ontario. Setelah menjalani dua tahun di Queen's, ia pindah ke University of Pennsylvania. Dia mengambil dua kuliah, Fisika dan Ekonomi. Ia menjadi sarjana di usianya yang ke 24 tahun.

Dua jurusan yang dipilih Elon adalah kombinasi yang tepat. Masalah terbesar ilmuwan biasanya adalah mereka tak paham cara membuat temuannya diproduksi secara massal, memberi manfaat pada banyak orang, dan memberi keuntungan kepada dirinya. Berbeda dengan Elon, sebagai ilmuwan, ia juga memahami ilmu ekonomi. Hal ini yang membawa bisnisnya sukses.

Dalam Dunia Anna, Jostein Gaarder mendeskripsikan bumi di tahun 2082. Gaarder menggambarkan lingkungan sudah rusak, banyak hewan punah, bahan bakar fosil habis. Di tahun itu, orang-orang berkendara dengan menunggang kuda, atau unta. Jika mimpi Elon tentang energi terbarukan menjadi nyata, apa yang ditulis Gaarder selamanya akan jadi fiksi belaka.

Baca juga artikel terkait ELON MUSK atau tulisan lainnya dari Wan Ulfa Nur Zuhra

tirto.id - Otomotif
Reporter: Wan Ulfa Nur Zuhra
Penulis: Wan Ulfa Nur Zuhra
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti