Shopee dan Sejarah Sponsor Titel di Liga Sepakbola Indonesia

Oleh: Herdanang Ahmad Fauzan - 14 Mei 2019
Dibaca Normal 5 menit
Sebelum Shopee, liga Indonesia pernah memakai berbagai perusahaan sebagai sponsor titel. Mulai dari pabrikan rokok, bank, sampai perusahaan transportasi daring.
tirto.id - PT Liga Indonesia Baru (LIB) selaku operator kompetisi telah me-launching Liga 1 2019, Senin (13/5/2019). Jika dalam dua musim terakhir Gojek hadir sebagai sponsor titel, tahun ini kompetisi divisi teratas sepakbola Indonesia itu akan didukung perusahaan e-commerce Shopee. Nama kompetisi pun resmi direvisi, dari Gojek Liga 1 menjadi Shopee Liga 1 2019.

"Pada kesempatan ini kami ingin menegaskan bahwa Shopee mendukung penuh perbaikan sepakbola Indonesia dengan menjadi sponsor utama Liga 1 2019," tutur Pandu Sjahrir selaku Presiden Komisaris SEA Group, induk PT Shopee Internasional Indonesia dalam rilis resmi yang diterima Tirto.

Shopee maupun Gojek sebenarnya bukan perusahaan pertama yang mendukung gelaran sepakbola Indonesia. Jauh sebelum era Liga 1, divisi teratas sepakbola Indonesia pernah memakai sejumlah perusahaan lain sebagai sponsor titel.

Dunhill & Kansas Sebagai Pemula


Semua bermula pada 1994. Sepinya penjualan tiket kompetisi Galatama dan minimnya aspek komersil di kompetisi Perserikatan bikin PSSI mengambil keputusan besar sekaligus kontroversial. Federasi sepakbola Indonesia itu membentuk kompetisi baru bernama Divisi Utama sebagai penggabungan Galatama dan Perserikatan.

Penggabungan ini bikin jumlah peserta menggemuk jadi 34 tim. Maka untuk menyiasati hal itu, kompetisi dibagi dengan format dua wilayah--setiap wilayah terdiri dari 17 klub--. Empat klub terbaik dari masing-masing wilayah lantas masuk ke perempat final (format fase grup), kemudian berlanjut lagi ke semifinal (knockout) dan final.

Bergesernya liga ke bentuk lebih komersil ini bikin PSSI bergerak mencari sponsor untuk menopang roda kompetisi. Dunhill, sebuah pabrikan rokok asal Inggris adalah perusahaan pertama yang menceburkan diri sebagai sponsor titel perdana Divisi Utama.

Dunhill menggelontorkan dana sampai Rp4,5 miliar per musim, kemudian memberikan subsidi Rp100 juta untuk setiap klubnya. Tidak cuma itu, Dunhill juga memberikan hadiah Rp75 juta bagi kesebelasan juara, Rp50 juta untuk runner-up, serta Rp25 juta bagi pemain terbaik kompetisi. Nominal ini jelas angka yang tak main-main untuk standar finansial pada 1994.

Divisi Utama lantas diberi nama Liga Dunhill. Klub yang keluar sebagai juara pada edisi perdana adalah Persib Bandung. Maung Bandung yang di fase awal cuma berpredikat runner-up klasemen Wilayah Barat menjadi juara berkat kemenangan tipis 0-1 atas Petrokimia Putra di final.

Kemudian pada tahun kedua (1995/1996) Liga Dunhill mengalami sedikit perubahan. Total hanya ada 31 klub yang berkompetisi, meski formatnya tidak mengalami perbedaan berarti. Perubahan ini disebabkan sejumlah kesebelasan mengundurkan diri.

Pada akhir musim, gelar kembali direngkuh klub asal Bandung. Kali ini giliran Bandung Raya yang keluar sebagai pemenang, berkat skor dua gol tanpa balas atas PSM Makassar pada partai puncak.

Di tengah dominasi Bandung dalam periode awal Divisi Utama, menjelang tahun ketiga, Dunhill akhirnya menarik diri dari posisinya sebagai sponsor titel Divisi Utama. Lalu jelang Divisi Utama 1996/1997, perusahaan rokok lain, Kansas datang menawarkan diri sebagai sponsor titel. Kesepakatan akhirnya diteken pada 1996. Pabrikan rokok asal AS itu menjanjikan dana segar Rp5,35 miliar untuk kompetisi, berikut nominal Rp100 juta kepada setiap klub sebagai tambahan subsidi.

Secara alur kompetisi, sebagaimana Liga Dunhill, Liga Kansas dilakukan dengan format berbasis wilayah yang berlanjut ke fase grup dan knockout. Hanya saja, pada fase awal, liga dipecah ke dalam tiga wilayah, yakni wilayah barat, tengah, dan timur. Total partisipan adalah 33 klub.

Persebaya Surabaya akhirnya keluar sebagai juara di edisi perdana Liga Kansas. Pada partai final mereka menundukkan juara bertahan Bandung Raya dengan skor meyakinkan 3-1.


Tanpa Sponsor dan Hadirnya Bank Mandiri

Pada Divisi Utama 1997/1998 Kansas kembali dicanangkan sebagai sponsor titel. Namun, di tengah kompetisi, gejolak politik 98 yang menyebabkan tumbangnya rezim Orde Baru bikin sepakbola terkena imbasnya. Krisis tak terhindarkan dan liga tidak bisa diselesaikan sampai laga terakhir.

Dampak dari kejadian itu pun merembet ke tahun berikutnya. Karena krisis ekonomi, pada Divisi Utama 1998/1999 tidak ada satu pun perusahaan yang bersedia menjadi sponsor titel. Alhasil, PSSI menggulirkan Divisi Utama tanpa sponsor titel, dengan kompetisi Liga Indonesia.

Liga Indonesia adalah titik paling kentara dari inkonsistensi format sepakbola Indonesia. Sistem turnamen ini begitu rumit. Mulanya klub dibagi ke dalam tiga divisi yang setiap divisinya terdiri dari dua grup (kecuali divisi timur). Kemudian ada playoff degradasi, babak 10 besar, dan fase gugur hingga menuju final.

Mantan juara Liga Kansas, Persebaya Surabaya sempat menembus partai puncak. Sayang, di laga terakhir Bajul Ijo takluk 0-1 dari PSIS Semarang.

Krisis sponsor dan keuangan yang mendera persepakbolaan nasional mulai menemui titik terang tahun berikutnya. Pada Divisi Utama 1999/2000, sponsor titel kembali hadir. Bukan lagi produsen rokok, untuk kali pertamanya kompetisi disokong oleh sebuah bank.

Adalah Bank Mandiri yang saat itu merupakan bank terbesar di Indonesia dalam hal aset, pinjaman, dan deposit, hadir sebagai juru selamat. Mereka menjadi sponsor titel Divisi Utama dalam kurun waktu yang relatif panjang, tepatnya lima musim kompetisi, dari 1999/2000 sampai 2004. Nama kompetisi pun kembali berganti, kali ini jadi Liga Bank Mandiri.

Mulanya Liga Bank Mandiri mengadopsi sistem tiga wilayah yang dipakai Liga Kansas. Namun, seiring berjalannya waktu, tim-tim terus berguguran dan pada tahun ketiga sistem kompetisi mulai diubah ke liga satu wilayah. Pesertanya pun menyusut, hanya 20 klub (pada musim ketiga) hingga 18 klub di musim berikutnya.

Di era Liga Bank Mandiri, sejumlah klub berhasil menjadi juara untuk kali pertama. Mereka adalah PSM Makassar, Persija Jakarta, Petrokimia Putra, dan Persik Kediri. Kemudian, pada musim terakhir Liga Bank Mandiri, Persebaya Surabaya mencatatkan diri sebagai klub pertama yang menjadi juara Divisi Utama sebanyak dua kali.


Dominasi Djarum

Bank Mandiri boleh jadi merupakan juru selamat dan berkontribusi panjang sebagai sponsor titel Divisi Utama. Namun, dominasi mereka rupanya tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Djarum, raksasa perusahaan rokok yang berpusat di Kudus, Jawa Tengah.

Hadir sebagai pengganti Bank Mandiri sejak musim 2005, Djarum tak pernah berhenti menjadi sponsor titel selama enam musim beruntun (sampai 2011/2012). Dalam periode itu, era Djarum dapat diklasifikasikan menjadi dua.

Era pertama adalah saat mereka menjadi sponsor dengan nama kompetisi Liga Djarum Indonesia. Kompetisi ini menggunakan format menyerupai Liga Dunhill, yakni pembagian peserta liga ke dua wilayah. Kemudian klub-klub terbaik dari setiap wilayah bakal dipertemukan dalam fase gugur, semifinal, dan final. Sistem ini berjalan pada tiga musim perdana era Djarum, dengan Persipura, Persik Kediri, dan Sriwijaya FC berturut-turut keluar sebagai pemenang.

Lalu, per musim 2008, kompetisi dirombak dengan format satu wilayah. Total peserta sebanyak 18 klub. Dua tim terbawah otomatis terdegradasi, sementara satu tim di atasnya bakal melakoni playoff dengan tim dari divisi kedua. Bersamaan dengan pergantian format ini, kompetisi diubah nama menjadi Djarum Indonesia Super League (Djarum ISL).

Selama tiga musim era Djarum ISL, klub yang keluar sebagai juara adalah Persipura (dua kali) dan Arema Indonesia.

Era Djarum kemudian berakhir pada penghujung musim 2011/2012. Penyebabnya adalah aturan baru pemerintah, yakni PP 109/2012 tentang Pengendalian Produk Tembakau. Dalam aturan itu disebutkan sponsor rokok tidak boleh memasang dan menampilkan nama produk pada event yang disponsori. Djarum pun menyerah.

Tak lama berselang, perginya Djarum dari posisi sponsor titel diperparah dengan konflik antara PSSI dan operator liga, PT Liga Indonesia (LI). PSSI lebih memilih mengakui Liga Primer Indonesia sebagai kompetisi resmi. Alhasil, sampai 2015 sepakbola Indonesia terpecah belah oleh dualisme kompetisi dan jaminan finansial serba tak pasti.


QNB Gagal Ikuti Jejak Mandiri


Pada 2015, momentum nyaris hadir. Setelah terkatung-katung tanpa sponsor, ISL akhirnya dilirik oleh Qatar National Bank (QNB) yang punya hasrat menjadi sponsor titel. Kesepakatan pun berhasil diteken.

Diganti nama menjadi QNB League, kompetisi juga mendapat pengakuan dari federasi. Kickoff berjalan lancar.

Namun, menjelang pekan ketiga, liga dihentikan. Penyebabnya adalah tekanan dan dualisme yang terjadi antara PSSI dan Kemenpora.

Kemenpora bersikukuh meminta Persebaya dan Arema dicoret dari kompetisi karena dinilai tidak lolos verifikasi BOPI. Di saat bersamaan, PSSI tetap ingin ngotot menjalankan liga dengan 18 tim termasuk Persebaya serta Arema, dan hal itu sebenarnya sudah direstui oleh FIFA.

Tidak ada titik temu dari perbedaan ini, hingga pada akhirnya Kemenpora membekukan PSSI. Pembekuan ini berbuntut rapat Exco yang menghasilkan penghentian QNB League.

FIFA akhirnya turun tangan. Organisasi tertinggi sepakbola dunia itu menjatuhkan sanksi karena alasan intervensi. Kompetisi sepakbola Indonesia kemudian tidak diakui selama dua tahun ke depan.

Gojek dan Era Glenn Sugita

Pada 2017, sepakbola Indonesia akhirnya terbebas dari sanksi FIFA. Dibentuklah PT Liga Indonesia Baru (LIB) sebagai operator liga yang baru. LIB menghadirkan liga baru, dengan nama Liga 1 yang kemudian berganti titel jadi Gojek Traveloka Liga 1 karena kehadiran dua perusahaan yang jadi sponsor titel, Gojek dan Traveloka.

Singkat cerita, kompetisi dengan format satu wilayah berjalan lancar, Bhayangkara FC keluar sebagai juara.

Pada tahun kedua Liga 1 (2018), menjelang kompetisi dimulai, Traveloka menarik diri dari posisi sponsor titel. Gojek pun menjadi sponsor tunggal Liga 1 2018 dengan titel Gojek Liga 1 2018. Kompetisi kembali berjalan lancar, meski diwarnai insiden kerusuhan suporter, dugaan pengaturan skor, dan tambal sulam penjadwalan. Persija Jakarta keluar sebagai juara.

Menjelang liga tahun ketiga, lagi-lagi sponsor titel berkurang. Gojek mengikuti jejak Traveloka untuk menarik diri.

Konon kepergian GoJek tidak lepas dari mundurnya Glenn Sugita dari posisi Komisaris Utama PT LIB. Soalnya, Glenn kerap disebut sebagai sosok yang menarik kehadiran Gojek. Semua tidak lepas dari kepemilikan perannya di Northstar Group, perusahaan yang sempat punya sebagian saham di Gojek.

Shopee akhirnya jadi juru selamat terakhir. Kehadiran perusahaan e-commerce itu bakal memastikan musim ketiga Liga 1 bergulir per Rabu (15/5/2019) besok. Namun, terlepas dari kepastian tersebut, tidak dapat dipungkiri bahwa LIB sempat mengalami banyak kesulitan selepas kepergian Gojek dan Glenn. Bahkan sampai April alias sebulan sebelum kompetisi, negosiasi dengan Shopee diklaim belum selesai.

"Sampai saat ini masih ada beberapa dalam tahap negosiasi, tapi sudah ada lampu hijau," kata Direktur Umum PT LIB, Dirk Soplanit setelah managers meeting klub Liga 1.

Shopee telah hadir sebagai ‘juru selamat’ Liga 1 2019. Namun, akankah kehadiran mereka bisa jadi pertanda baik bagi nasib PT LIB yang sedang dililit utang ke klub-klub Liga 1?

Baca juga artikel terkait LIGA 1 2019 atau tulisan menarik lainnya Herdanang Ahmad Fauzan
(tirto.id - Olahraga)

Penulis: Herdanang Ahmad Fauzan
Editor: Abdul Aziz
DarkLight