Seragam Anyar Juventus, antara Identitas dan Bisnis

Oleh: Renalto Setiawan - 14 Mei 2019
Dibaca Normal 2 menit
Juventus memberi kejutan. Nyonya Tua pamer seragam baru dengan motif yang tidak pernah digunakan sebelumnya.
tirto.id - Juventus akan tampil beda musim depan. Jersey bermotif hitam-putih--yang sudah dipakai sejak 1903--akan lebih semarak karena ditambah strip tipis vertikal berwarna merah muda pada bagian depan.

“Kilatan merah muda di jantung desain untuk menghormati warna pertama yang digunakan klub,” tulis Juventus lewat situs resmi.

Sama seperti saat mengganti logo pada 2017 lalu, perubahan motif jersey ini menjadi bahan pembicaraan banyak orang. Mengganti logo dengan bentuk yang lebih sederhana (hanya huruf "J" dengan bintang di atasnya) sempat disebut hanya demi kepentingan bisnis. Dan pembicaraan senada berulang kembali sekarang.

Beberapa media mengatakan wajah baru jersey kandang ini mengundang kontroversi, lainnya menyebut bahwa ini melanggar tradisi 100 tahun lebih.

Football-Italia menduga Juventus tengah mengincar pasar Amerika Serikat. Mereka menyebut jersey lama sulit laku karena itu mirip seperti seragam wasit American Football. Orang Amerika kabarnya tak suka pakai baju mirip wasit.

Jual Jersey Memang Menguntungkan


Pada bursa transfer musim panas 2018 lalu, Juventus berani mengeluarkan duit besar untuk mendatangkan Cristiano Ronaldo. Dikontrak selama empat tahun, harga pemain berusia 33 tahun itu mencapai 100 juta Euro.

Ada dua faktor mengapa Juventus rela merogoh kocek sedemikian dalam hanya untuk mendatangkan satu bintang: Pertama, mereka ingin merasakan kembali gelar Liga Champions setelah terakhir kali menjuarainya pada 1995-1996 silam; Kedua, Juventus juga mengincar keuntungan dari segi bisnis.

Yang menarik, dalam tulisannya di Financial Times, Muret Ahmed mengatakan bahwa mendatangkan Ronaldo untuk mengincar uang yang lebih besar sebetulnya sama seperti berjudi. Alasannya, meski mereka memiliki Ronaldo, Juventus toh tidak akan mendapatkan perubahan penghasilan dari hak siar televisi.


Hingga musim 2020-2021 nanti, pada setiap musim, Serie A hanya mendapatkan 1,4 miliar Euro. Angka ini masih di bawah Premier League (3,3 juta miliar Euro) dan La Liga (2 miliar Euro). Angka ini bisa jadi makin merosot mengingat Ronaldo mungkin tak lagi punya nilai jual yang sama seperti sekarang.

Hitung-hitungan pendapatan Juventus dari Liga Champions tak kalah menarik. Masih menurut Ahmed, pemenang Liga Champions setidaknya akan mengantongi uang sebesar 130 juta Euro dari hak siar televisi serta uang hadiah. Namun, karena persaingan yang luar biasa ketat, menjadi juara di Liga Champions tentu kelewat sulit. Dan pada musim ini, meski sudah memiliki Ronaldo, Juventus ternyata hanya mampu melangkah hingga babak perempat-final.

Dari sana, keuntungan yang bisa diperoleh Juventus dari penjualan jersey pun menjadi paling masuk akal.

Saat ini Juventus memang hanya mendapatkan uang 40 juta Euro per tahun dari Adidas serta Jeep, sponsor yang logonya tertempel di jersey mereka. Namun, semakin laris jersey mereka, ada kesempatan untuk menaikkan nilai kontrak. Dengan adanya Ronaldo, peluang tersebut bukan tak mungkin untuk dikejar.

Buktinya, menurut laporan Business Insider pada 22 Juli 2018 lalu, hanya butuh waktu 24 jam bagi Juventus untuk mengumpulkan duit 60 juta dolar AS dari penjualan jersey Ronaldo. Angka tersebut jelas luar biasa karena nilainya hampir setengah dari harga yang harus dibayarkan Juventus ke Real Madrid untuk mendatangkan pemain asal Portugal tersebut.

Kenapa Tak Suka?


Untuk mendapatkan nilai tawar lebih, Juventus harus mampu berekspansi. Karena mempunyai prospek besar, Amerika kemudian menjadi sasaran tembak. Sayangnya, 'menjual sepakbola' ke Negeri Paman Sam itu tak semudah membalikkan telapak tangan. Pamor sepakbola masih kalah jauh dibanding American Football.


Masalah kemudian bertambah ketika orang-orang Amerika ternyata tak menyukai jersey bermotif strip putih dan hitam, yang biasa dikenakan wasit dalam American Football, profesi yang paling dibenci dalam sejarah American Football.

Pagan Kennedy mengatakan bahwa semua berawal pada 1920. Ketika itu wasit American Football masih menggunakan jersey putih polos. Dalam sebuah pertandingan, saat seorang quarter-back salah mengumpan ke arah wasit bernama Lloyd Old karena warna seragam mereka sama.

Sejak saat itu motif jersey wasit American Football diubah menjadi strip putih dan hitam. Ide ini datang dari Old.

Sayangnya, motif jersey anyar tersebut ternyata tidak disukai publik. Saat Old pertama kali mengenakannya pada tahun 1921, ia mendapatkan sorakan tak mengenakkan dari para penonton.

Setelah itu para pelaku American Football beramai-ramai mencoba mengubah motif jersey yang dikenakan wasit. Namun, karena tak ada pilihan yang jauh lebih pas, motif itu akhirnya masih digunakan sampai sekarang.

Dan, demi mengincar pasar Amerika yang penduduknya mencapai 300 juta lebih, tak heran jika Juventus akhirnya nekat meninggalkan salah satu identitas terbaiknya. Atau setidaknya, memodifikasi identitas tersebut.

Baca juga artikel terkait JUVENTUS atau tulisan menarik lainnya Renalto Setiawan
(tirto.id - Olahraga)

Penulis: Renalto Setiawan
Editor: Rio Apinino
DarkLight