13 Januari 2012

Seperti Titanic, Kecelakaan Costa Concordia Lahir dari Sikap Jemawa

Oleh: Ahmad Zaenudin - 13 Januari 2022
Dibaca Normal 2 menit
Kecelakaan kapal Costa Concordia dan juga Titanic terjadi karena faktor "ujung tumpul" (blunt end factors) yang menggelayuti para pelaut.
tirto.id - Seabad setelah Titanic menabrak bongkahan es di Samudra Atlantik dan akhirnya tenggelam, musibah serupa terulang. Usai lepas jangkar dari Pelabuhan Civitavecchia pada 13 Januari 2012 pukul 19.18 untuk melakukan perjalanan menuju Savona, Costa Concordia menabrak bebatuan dan karam. Kapal pesiar milik Carnival Corporation yang mengangkut 3.229 penumpang beserta 1.023 awak kapal itu tenggelam sedalam 70 meter di sekitar Pulau Giglio, Italia, tepat pukul 20.45.

Tigapuluh dua orang tewas pada kecelakaan kapal yang dibangun dengan biaya $570 miliar dan namanya mengandung artinya "kerukunan, persatuan, dan perdamaian" itu. Sebagaimana dilaporkan Gaia Pianigiani untuk The New York Times, para korban tewas gara-gara kelalaian sang kapten yang menakhodai serta memimpin proses evakuasi Costa Concordia.

Alih-alih memastikan para penumpang dan anak buahnya selamat, Francesco Schettino, Kapten Costa Concordia, memilih menyelematkan diri sendiri dengan bergegas keluar dari kapal. Ia, sebut otoritas Italia, "tak rela membasahi kakinya" tetapi rela melihat penumpang dan anak buahnya bertarung nyawa dengan kapal yang berada dalam posisi miring dan segera tenggelam.

Atas kelalaian memimpin Costa Concordia, usai dicap sebagai sosok "idiot nan sembrono", Schettino dijatuhi vonis 16 tahun penjara oleh Pengadilan Italia dengan dakwaan pembunuhan.

Sang kapten tak terima dengan dakwaan dan vonis yang dijatuhkan. Ia mengklaaim bahwa tenggelamnya kapal Costa Concordia murni kecelakaan (kesalahan teknis) dan pengalihan seluruh tanggung jawab kepada dirinya dianggap tak adil karena turut digoreng media.

Ia menambahkan, ketika Costa Concordia menabrak bebatuan, perintahnya untuk menyelamatkan kapal--membelokkan ke arah yang dianggap dapat membalikkan keadaan--tidak dijalankan oleh kru kemud, seorang warga negara Indonesia. Namun, fakta berlainan dengan klaim sang kapten. Dalam rekaman percakapan antara penjaga pantai dengan Schettino, ia jelas-jelas memohon untuk sesegera mungkin keluar dari kapal yang tengah karam.


"Please, komandan (penjaga pantai Italia)," rengek Kapten Schettino usai diingatkan komandan penjaga pantai untuk bergegas menyelamatkan penumpang Costa Concordia yang tengah terjebak dalam kapal.

"Schettino, dengar [...] kamu harus sesegera mungkin masuk ke kapal untuk menyelamatkan mereka atau hitung berapa jumlah orang-orang yang terjebak," titah komandan penjaga pantai yang diacuhkan Schettino. Sikap pengecut itu membuat 32 nyawa penumpang dan anak buahnya melayang karena tak berhasil dievakuasi.

Kecelakaan kapal pesiar terbesar dalam sejarah Italia ini dianggap banyak pihak seharusnya tak terjadi. Musababnya, dengan kian canggihnya teknologi yang digunakan kapal, segala rintangan seharusnya mudah terdeteksi. Dan sejak diberlakukannya Cruise Vessel Security and Safety Act pada 2010, kapal pesiar umumnya hanya mengalami musibah-musibah kecil. Dari sekitar 100 juta penumpang kapal pesir yang hilir mudik menjelajah samudra sejak aturan tersebut diberlakukan, hanya terjadi kecelakaan-kecelakaan kecil dengan jumlah korban jiwa berada di angka 16 penumpang.

Namun, sebagaimana dipaparkan Jens-Uwe Schroder-Hinrichs dalam studinya berjudul "From Titanic to Costa Concordia: A Century of Lessons Not Learned" (WMU J Marit Affairs Vol. 11 2012), kecelakaan yang menimpa Costa Concordia tidak aneh terjadi di zaman ini, zaman teknologi canggih. Menurutnya, meskipun Titanic hanya dibantu radio untuk melakukan navigasi dan Costa Concordia menggunakan GPS, terdapat "ujung tumpul" (blunt end factors) yang tak pernah sirna sejak 1912 (tahun Titanic tenggelam) hingga saat ini.

Ujung tumpul yang dimaksud Schroder-Hinrichs adalah kondisi psikologis sang pelaut.


Infografik Mozaik Kapal Pesiar Costa Concordia
Infografik Mozaik Kapal Pesiar Costa Concordia. tirto.id/Tino


Dalam kecelakaan yang menimpa Titanic ketika berlayar dari Southampton menuju New York pada 1912 silam, Titanic sebetulnya tengah berada di jalur yang cukup aman. Bahkan, 48 jam sebelum kecelakaan terjadi, awak Titanic telah diberi peringatan lokasi pasti keberadaan bongkahan es--titik kecelakaan terjadi--yang muncul tiba-tiba di sekitaran jalur yang mereka lalui. Sayangnya, mengutip laporan Report on the loss of the SS Titanic (1990), "para awak Titanic terlalu yakin dengan kemampuan mereka mengidentifikasi keberadaan bongkahan es."

Dan tatkala bongkahan es tiba-tiba tak terelakkan dihantam Titanic, lanjut laporan tersebut, "awak kapal kewalahan menghindar." Kapten dan seluruh awak kapal lupa bahwa untuk mengubah jalur kapal sebesar Titanic diperlukan waktu setidaknya 37 detik. Sikap ini diperparah dengan tindakan kapten menghentikan mesin kapal.

Pada kasus Costa Concordia, sikap jemawa seperti yang tertanam pada jiwa kapten dan awak kapal Titanic pun muncul. Mengutip laporan Italian Maritime Investigative Body on Marine Accidents (2012), meskipun kapten dan awak kapal Costa Concordia tahu tengah meluncur di wilayah yang dipenuhi bebatuan, "kapal dikendalikan dengan tidak mengurangi kecepatan, 15–16 knot saat mendekati pulau." Dan merasa dapat mengendalikan kapal terhindar dari bebatuan, "kapten memilih percaya dengan kemampuannya, mematikan fungsi autopilot untuk mengendalikan kapal seorang diri."

Atas sikap jemawa yang tertanam pada kapten dan awak kapal Titanic dan Costa Concordia, kecelakaan pun terjadi. Malapetaka yang sangat mungkin terulang kembali karena masalah ini tak bisa diatasi oleh teknologi pelayaran apapun.

Baca juga artikel terkait KECELAKAAN KAPAL atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Irfan Teguh Pribadi
DarkLight