Semaoen: "Dewan Rakyat Cuma Komedi Omong Kosong"

Semaoen. FOTO/Istimewa
Oleh: Petrik Matanasi - 13 Oktober 2017
Dibaca Normal 3 menit
Semaoen memang cuma jebolan SD. Tapi sejak muda, pemuda penuh bakat ini bisa mengorganisir massa, memimpin partai, menerbitkan artikel politik, bahkan menulis novel perjuangan.
tirto.id - Beberapa bulan sebelum abad berganti, seorang bayi lahir di satu kampung di Curahmalang, Jombang. Seperti orang Jawa kebanyakan, si jabang bayi dikasih nama singkat saja: Semaoen. Anak pegawai rendahan jawatan kereta api bernama Prawiroatmodjo ini terhitung beruntung untuk ukuran bocah-bocah sezaman. Dia diajari baca-tulis dan berhitung di Sekolah Ongko Loro. Selain itu, dia juga belajar bahasa Belanda tiap sore. Dengan modal pendidikan itu, Semaoen remaja mengadu nasib di jawatan kereta api seperti bapaknya. Dia bekerja di Staatspoor (SS) Surabaya.

“Semaoen diterima di jawatan tersebut setelah dinyatakan berhasil menempuh ujian pengetahuan umum (algemeene ontwikeling) dan ujian stations comies. Itu terjadi pada tahun 1912 saat dia berusia 13 tahun,” tulis Soewarsono dalam Berbareng Bergerak: Sepenggal Riwayat dan Pemikiran Semaoen. Bekerja di jawatan kereta api membuatnya bergaul dengan banyak buruh dan merasa diri bagian dari mereka. Dia pun gabung ke serikat buruh kereta api, Vereniging van Spoor-en Tramwegpersoneel (VSTP).

Tahun 1914, ketika masih 15 tahun, Semaoen masuk ke Sarekat Islam (SI) Surabaya yang dipimpin H.O.S. Tjokroaminoto. Dia selalu menganggap Ketua SI itu sebagai guru politiknya. Di antara murid-murid Tjokro yang menonjol (macam Musso, Kartosuwiryo dan Sukarno), Semaoen paling rendah sekolahnya. Setelah pertemuannya dengan Henk Sneevliet, dia juga bergabung dengan Indische Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV), sebuah organisasi sosialis di Hindia. Di situ, Sneevliet juga bertindak sebagai mentor politik Semaoen. Tapi, Tjokroaminoto memiliki pengaruh lebih mendalam baginya ketimbang Sneevliet.

Baca Juga:



Dari Surabaya, Semaoen kemudian pindah ke Semarang pada Juli 1916 dan bekerja sebagai propagandis VSTP. Dia juga tetap berperan jadi juru propaganda SI. “Ia memperluas basis SI Semarang yang saat itu hanya beranggotakan 1.700 orang (1916). Serentak dengan dengan pertambahan jumlah menjadi 20.000 orang (1917) untuk mempermudah pengorganisasian ia melakukan penataan struktur organisasi. Di bawah SI Semarang dibentuk kelompok-kelompok (suborganisasi) atas dasar latar belakang sosial ekonomi,” tandas Soewarsono.

Selain itu, Semaoen juga berkiprah di bidang jurnalistik. Dia bekerja sebagai redaktur koran Si Tetap, organ VSTP berbahasa Melayu. Koran terkenal yang pernah digelutinya adalah Sinar Djawa, sejak 19 November 1917. Pada Hari Buruh 1 Mei 1918, Sinar Djawa berubaha nama menjadi Sinar Hindia. Lewat tulisan-tulisannya, Semaoen yang jago propaganda itu berani berdebat dan menyerang orang-orang yang lebih tua dan tinggi sekolahnya. Musuh besar Semaoen tentu saja pemerintah kolonial.

Betapa beraninya Semaoen, ia pernah mengejek lembaga negara terhormat Volksraad (Dewan Rakyat) sebagai "Komidi Omong Kosong" dalam Sinar Djawa (4/3/1918). Katanya, “bukan Volksraad yang akan bisa bikin baik nasibnya rakyat, tetapi gerakan rakyat (itu) sendiri.”

Pada dekade 1910-an itu, Semaoen memang seorang pemuda yang banyak melahap bahan bacaan. Karena itu, meski hanya sebentar makan bangku sekolahan, Semaoen dianggap sebagai orang yang berpendidikan lumayan tinggi. Dalam persidangannya tahun 1919 atas kasus delict pers, Presiden Landraad bertanya, “Kowe sekolah dimana?” Setelah Semaoen jawab Lagere School (sekolah dasar), Presiden Landraad yang tidak percaya bertanya lagi, “Tidak ada lain?” Semaoen pun menimpali: “Tidak, tetapi cari pengetahuan sendiri dengan belajar sendiri.”

Kasus delict pers itu membuatnya mendekam 4 bulan di dalam bui. Usianya kala itu baru 20 tahun. Namun, Semaoen tidak tinggal diam: dia mengarang sebuah cerita dari balik tembok penjara. Bukan melulu tentang dirinya, tapi soal pemuda terpelajar yang menemukan penderitaan rakyat—hampir seperti dirinya sendiri. Cerita itu, berjudul Hikajat Kadiroen, dimuat secara bersambung di Sinar Hindia pada 1920. Dalam kata pengantar, Semaoen menulis: “Moga-moga cerita yang saya tulis dengan air mata kesengsaraan dalam penjara itu bisa jadi senangnya orang banyak, yaitu pembaca dan rakyat.”

Di tahun 1920-an pula ISDV akhirnya memakai nama Partai Komunis Hindia, dan belakangan menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI). Di partai ini, Semaoen menjadi salah satu pemimpin terkemuka. Pada awal pendiriannya, PKI kerap bersentuhan dengan para buruh. Semaoen, sebagai pemimpin buruh, tentu menjadi orang yang dimintai tanggung jawab oleh pemerintah kolonial jika ada pemogokan. Saat itu, pemogokan buruh memang banyak terjadi. Salah satu yang paling bikin pusing pemerintah kolonial adalah pemogokan buruh kereta api pada 1923 karena pengangkutan komoditas penghasil duit bagi pemilik modal dan pemerintah jadi tersendat.



Tak heran jika rumah Semaoen di Tegalwareng, Semarang, disatroni polisi pada awal Mei. Padahal, menurut koran Darmo Kondo (9/5/1923), saat itu Semaoen sedang menanti kehadiran anaknya. Menurut Darmo Kondo pula (22/8/1923), Semaoen akhirnya dibuang ke negeri Belanda karena dianggap mengganggu ketentraman umum. Istrinya yang baru saja melahirkan tak bisa ikut serta. Di antara kawan-kawannya, hanya Darsono saja yang bisa menemuinya sebelum berangkat dengan menumpang kapal api Koningin de Nederlander pada 18 Agustus 1923. Pembuangan ini sebenarnya ditentang seorang anggota Volksraad wakil golongan sosialis Belanda, Stokvis; tapi pemerintah kolonial tidak menghiraukannya.

Semaoen tiba di Amsterdam pada 20 September 1923. Darsono kemudian menyusulnya pada 1926. Sekitar tahun 1927, Semaoen aktif menulis di surat kabar dwimingguan Recht en Vrijheid (Keadilan dan Kemerdekaan). Semasa di Belanda, Semaoen dianggap sebagai orang yang mendekatkan Perhimpoenan Indonesia dengan kelompok komunis. Sepeninggal Semaoen, menurut Harry Poeze dkk dalam Di Negeri Penjajah: Orang Indonesia di Negeri Belanda 1600-1950 (2008), karir Tan Malaka di PKI pun menanjak.

Baca Juga:



Setelah kegagalan pemberontakan PKI 1926, Semaoen dan Munawar Musso tinggal di Moskow, ibukota Uni Soviet. Menurut catatan Tomi Lebang dalam Sahabat Lama, Era Baru: 60 Tahun Pasang Surut Hubungan Indonesia-Rusia (2010), mereka berdua sempat menerbitkan brosur populer bernama Indonesia. Selama tinggal di sana, Semaoen menjadi penerjemah dan pengajar bahasa Indonesia di Akademi Diplomatik Kementerian Luar Negeri dan Institut Ketimuran Moskow. Dia menyempurnakan bahan pengajaran bahasa Indonesia yang dibuat Musso untuk mahasiswa Uni Soviet. Pernah juga dia jadi penyiar radio selama tiga tahun sejak awal 1948. Cintanya juga tertambat di Moskow: Semaoen sempat kawin lagi dengan perempuan Rusia. Dari perkawinan itu, dia punya anak bernama Rono Semaoen—yang dikenal sebagai penerjemah sastra Indonesia ke bahasa Rusia.

Berkat bantuan Soekarno, pada 1961, Semaoen bisa pulang ke Indonesia. Dia tak pernah bersentuhan lagi dengan PKI yang sudah sangat berubah. Di masa Orde Lama, Semaoen diangkat sebagai Wakil Ketua Badan Pengawasan Kegiatan Aparatur Negara yang diketuai Sri Sultan Hamengkubuwana IX. Sebelum meninggal pada April 1971, Semaoen sempat mengajar di Universitas Padjadjaran, Bandung.

Baca juga artikel terkait PARTAI KOMUNIS INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Petrik Matanasi
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight