Sutan Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka

Guru Sekolah Senembah Maskapai, Deli, Sumatra Timur (1920-1921)
Lahir: Suliki, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, Indonesia, 2 Juni 1897
Karir
  • Guru Sekolah Senembah Maskapai, Deli, Sumatra Timur (1920-1921)
Pendidikan
  • Kweekschool Bukittinggi (1908-1913)

Tan Malaka tokoh sosialis Indonesia. Dia adalah Bapak Republik, terkait karyanya Naar de Republiek Indonesia yang terbit 1924, ketika tokoh pergerakan lain belum memikirkannya. Tan adalah lulusan Kweekschool (Sekolah Guru) Bukittinggi yang dibiayai sekolah di Negeri Belanda untuk mendapatkan akte guru. Pulang dari Belanda, dia sempat mengajar di sekolah milik Senembah Maskapai. Hanya setahun Tan disana. Dia kemudian keluar dan ke Semarang. Dimana dia ikut Sarekat Islam cabang Semarang yang belakangan berubah menjadi Partai Komunis Indonesia. Tan Malaka sempat membangun sekolah di Semarang.

Sempat juga dia memimpin PKI sebelum diusir dari Hindia Belanda. Tan Malaka pernah menjadi anggota Komintern dan berselisih dengan Stalin dan dituduh sebagai Trotskys. Sebelum Perang Dunia II, Tan hidup dalam Klandestin (penyamaran) sekitar Asia Tenggara. Di akhir masa pendudukan Jepang, dia menyamar sebagai mandor di Banten. Dimana dia menulis karya besarnya, Madilog. Tan Malaka diperkirakan sudah di Jakarta menjelang Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Dia juga muncul di lapangan Ikada dalam rapat raksasa 19 September 1945.

Di masa revolusi, Tan Malaka diangap otak dari Peristiwa 3 Juli 1946. Dia menentang hasil perundingan Republik Indonesa dengan Belanda. Dimana Tan Malaka menuntut Merdeka 100%. Tan Malaka terlibat dalam Persatuan Perjuangan bersama Jenderal Sudirman. Tan Malaka adalah pendiri Partai Musyawarah Rakyat Banyak (Murba). Partai ini pernah ikut Pemilu 1955 dan baru dibekukan 1965. Tan Malaka terbunuh sekitar Februari 1949. Dia Belakangan dijadikan Pahlawan Nasional. Pengikutnya yang terkenal adalah Adam Malik dan Muhamad Yamin. 

DarkLight